Kanal

Ini Puisi-Puisi Minggu

- ilustrasi

Indah tuk dilukiskan lagi
Jalannya masih berputar kembali
Jangan lepas pegangan dariku
Kita akn selalu bersama melaju
Ceritaku tak panjang tapi sederhana saja
Jalani hari bersama kalian semua
Buatku berarti hadir ditengah kalian
Cerita baru
Hiasi kalbu
Selalu begitu dan akan tetap begitu

Puisi-Puisi Fr. Gusti Padang Guche, OCD
Politikus Negeriku

Banyak politikus di negeriku
Berangan-angan dan bermimpi setinggi langit
Sangat disayangkan semua itu hanya mimpi dan angan-angan belaka
Hanya sebatas rencana di balik rencana
Mereka hanya menginginkan lencana
Bermufakat, bermusyawarah sekadar mengisi waktu kosong
Dalam kenyamanan fasilitas yang ada
Mereka hanya bertingkah untuk menghabiskan waktu sehari
Berbicara, berbicara dan berbicara
Katanya demi kepentingan rakyat, atas nama rakyat
Nyatanya tanpa ada bukti yang dilakukan
Apabila ada kebijakan pemerintah yang menurut mereka tidak menguntungkan
Lagi-lagi mereka akan bermufakat dan bermusyawarah
Untuk mempertimbangkan apakah kebijakan itu diperlukan atau tidak
Mereka lebih pandai untuk mengatur dan mengeritik pihak lain
Sedangkan dalam pihaknya meskipun terdapat banyak kejanggalan
Mereka seolah-olah tak mampu berbicara
Sungguh sangat disayangkan...
Apakah ini layak disebut merdeka?
(7 Mei 2018)

Koruptor VS Pencuri

Keduanya sama-sama pencuri
Sang koruptor mencuri untuk menimbun kekayaan
Sedangkan sang pencuri mencuri demi mempertahankan hidup
Tetapi anehnya hukuman yang diberikan berbeda
Sang koruptor sering bebas berkeliaran
Meskipun terbukti bersalah ia malah tidak dihukum
Sedangkan sang pencuri akan diberi hukum yang sangat berat
Bukan hanya dihukum malah dihakimi oleh massa
Aneh memang sunggu aneh
Keduanya pencuri tetapi yang satu diistimewakan
Dialah anjrit koruptor.
(Mei 2017)

Anak-Anak Bangsa

Kami adalah anak-anak bangsa, generasi muda
Yang sedang mencari jati diri kami
Diantara puing-puing ketidakadilan dan kesenjangan di bangsa ini
Akibat korupsi, kolusi dan nepotisme.
Hampir setiap saat kami tidak pernah mendengar
Keadilan bergema di bangsa ini.
Keadilan redup dalam terang korupsi.
Para penguasa berkoalisi dan berkolaborasi, katanya demi keadilan dan kesejahteraan seluruh rakyat, tetapi nyatanya demi golongan dan partai.
Kami sebagai anak bangsa,
Merasa malu berada di bangsa ini, bangsa yang dipenuhi oleh para koruptor.
Namun kami akan tetap mencintai bangsa ini,
Karena disinilah kami akan bangkit menjadi pemberantas ketidakadilan, korupsi, kolusi dan nepotisme.
Bukan dengan kekerasan tetapi dengan sayir-sayir dalam puisi.

(Penulis adalah Toper di Biara St. Edith Stein Maronggela Riung)

Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Apolonia Matilde
Sumber: Pos Kupang Cetak

Viral Rumah Bohemian Rapsody di Blitar, Gaya Eropa dan Dianggap Mistis, Lihat Video Penampakannya

Berita Populer