Kanal

Belis (s) Ibu: Cerpen Yurgo Purab

- ilustrasi

SEJAK ayahku menikah, belis ibuku belum juga terbayar lunas. Entah kenapa nasib keluarga kami begitu miskin. Bukan karena ayah tidak bisa bekerja, tapi sistem pemerintahan di wilayah kami begitu akut. Sampai-sampai ayah takut untuk melamar kerja sebagai pegawai di instansi pertanahan.

Soalnya, kasus tanah selalu berbuntut panjang. Bahkan, banyak aparatur yang bekerja di sana memilih mundur karena dihantui adegan tragis pembunuhan Pak Leo.

Pak Leo adalah salah satu pegawai pertanahan yang cakap dan intelektual, ia di bunuh karena memberikan pernyataan yang tak berimbang, terkait tanah yang disengketakan oleh warga tetangga dua bela pihak.

Baca: Kanisius Teobaldus Deki S.Fil, M.Th : Membangun Ekonomi Gotong Royong

Inilah ketakutan ayah. Selain ayah takut melamar kerja di instansi pemerintahan tapi juga karena sistem penerimaan pegawai baru yang terkesan abal-abal. Intinya harus ada "orang dalam".

Bahasa keren bagi mereka yang mau melamar kerja di kabupaten kami. Maka tak jarang hampir di setiap instansi pemerintahan selalu dipegang oleh orang-orang yang bertalian hubungan darah, kerabat dan kolega. Itulah sebabnya ayah tak memiliki cukup modal tuk membayar belis ibu hingga saat ini.

Nama saya Sutri, anak perempuan tertua dari Bapak Anton Kopong. Sebagai orang Lamaholot, saya sadar betul bahwa belis (gading gajah) adalah cenderamata tertua dalam budaya kami. Namun, bagi saya tetua adat di kampung kami telah mempolitisi benda-benda pusaka ini dengan merendahkan martabat saya sebagai perempuan.
Bagi saya cinta itu lebih tua dari adat istiadat apalagi agama.

Baca: Sedang Lakukan Siaran Langsung, Member BTS Jadi Korban Prank ARMY, Kocak!

Ia lahir di palung hati setiap manusia. Siapa yang tak pernah jatuh cinta? Itu omong kosong. Itulah yang sering saya alami sebagai perempuan yang terlahir dari tradisi nenek moyang kami. Sebulan yang lalu, ayah meninggal dunia. Itu petaka bagi keluarga.

Soalnya belis ibu belum juga terbayar tuntas. Ayah pernah janji pada pihak keluarga ibu. Jika suatu saat nanti ia tak bisa membayar apa yang dituntut keluarga, ia akan memberikan seorang anak perempuan kepada mereka sebagai ganti belis ibu. Saat ayah meninggal mereka menuntut belis itu. Hati saya amat tercabik mendengarnya. Sebagai anak perempuan tertua, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya diam meratapi nasib saya ketika dijodohkan dengan seorang laki-laki yang tidak saya cintai, yang usianya lebih tua dari saya 19 tahun. Amat mengerikan dalam hidup saya.

Dua tahun hidup sebagai suami istri, saya menahan gejolak yang amat dalam. Sampai-sampai saya tidak tahan akan perlakuan laki-laki yang tidak saya cintai itu.
Ah, Tuhan ini bukan zaman Siti Nurbaya. Saya seolah digadaikan demi harga sebuah gading (belis ibu) yang belum lunas. Suatu waktu, di musim yang sudah kulupa, aku berniat bunuh diri. Tapi selalu gagal dan gagal lagi. Pada penghujung Desember selepas Natal, saya melarikan diri ke Jakarta.

Di sana, saya tinggal dengan seorang pengusaha kaya dari keluarga Katolik yang berasal dari totok Cina. Saya melamar kerja di sana sebagai baby sister. Enam tahun sudah saya tinggal di Jakarta. Saya tidak tahu kabar keluarga saya seperti apa. Tapi saya selalu berkonsultasi dengan ibu saya melalui handphone miliknya. Saya hanya katakan pada ibu, saya tidak akan pulang sebelum saya mendapatkan uang untuk membayar belis ibu yang belum lunas itu. Inilah tekad saya.
***

Baca: Koleksi Ratusan Piala, Ini Yang Dilakukan Fenisya CH Fatu

Rando, laki-laki yang dijodohkan dengan saya secara paksa itu, kini diam-diam membuntuti saya. Suatu petang, saat langit gamang dan udara terasa mengusik tubuh. Ia datang bersama gerombolan pria menghadang saya secara diam-diam di rumah. Saat itu keadaan rumah lagi sepi dan bayi Elano tertidur pulas. Bibi Sinta yang lagi memasak di dapur kaget bukan kepalang melihat saya berteriak histeris ketika dibopong segerombolan laki-laki menaiki mobil pikap di emperan rumah.
Saya hanya berontak tak berdaya. Entah kenapa Rando tega melukai saya. Selama enam hari saya disekap di kos. Hp saya di sita, tubuh saya memar kena tamparan. Banyak pukulan mendarat di pipi saya.
"Sutri...saya ini suami kamu. Selama ini kamu ke mana saja?" Ucap Rando dengan tangan gemetar.
Saya hanya tertunduk diam. Tak ada satu kata pun yang jatuh dari bibirku.
"Ayo jawab atau sekali lagi saya tempeleng kamu." Rando mendekati diriku dengan tangan mengepal.
"Saya tidak mencintai kamu, saya dipaksa untuk mencintai kamu, " ucapku sambil berteriak keras.
"Oh, terserah... apa maumu."
Selama enam hari saya disekap, saya dipaksa melayani hasrat laki-laki yang tidak saya cintai itu. Ia terus menampar saya, dan memperlakukan saya secara tidak adil. Saya merasa hidup saya tidak berguna lagi. Saya merasa hampa dan kehilangan kendali. Bahkan ATM tabungan saya disita Rando. Ia mengambil separuh uang tabungan saya dengan seenaknya saja. Amat menyakitkan bagi saya.

Januari 2018
"Siapa namamu, nak?"
"Cantika, ibu!"
"Cantika, dengan siapa kamu berbicara?"
"Dengan ibu inii..."
"Ibu yang mana, nak? Tidak ada siapa-siapa di situ, ayo pulang."
Pohon di pinggir jalan itu amat keramat. Beberapa hari yang lalu, warga ikut panik karena seorang perempuan mati tergantung di atas pohon. Tubuhnya penuh memar dan setengah telanjang. Belakangan ini baru diketahui perempuan itu bernama Sutri.
(Yurgo Purab berasal dari Lewotolok-Amakaka. Sekarang tinggal di Pastoran Hinga-Adonara. Penulis Buku Kumpulan Cerpen "Merantau". Pendiri Pondok Baca Sastra Daun Lontar Ile-Ape). (*)

Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Apolonia Matilde
Sumber: Pos Kupang Cetak

Hasil Final Polling Mata Najwa di 3 Sosmed, Prabowo-Sandi Unggul dari Jokowi-Ma'ruf Amin

Berita Populer