Kanal

Pesan dari Cut Mutiah

Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kantor KWI, Jakarta, Jumat (24/8/2018). - KOMPAS.com/Ihsanuddin

Dengan demikian, pada pilpres 2019, masyarakat tentu ambil bagian mendukung dan memilih siapapun calon presiden yang sudah teruji dan memiliki rekam jejak (track record) terukur untuk memimpin bangsa dan negara lebih sejahtera, adil, makmur, bermartabat, dan berkeadaban.

Negeri ini rasanya terlalu capai untuk dibangun para pemimpin sekadar retorika dan bicara meledak-ledak namun abai pada komitmen dan hati yang tulus.

Kedua, Jokowi bersilahturahim ke KWI sebagai institusi keagamaan yang tak hanya terdapat banyak orang pekerja keras dan tulus bersama pemerintah dan seluruh elemen masyarakat ikut membangun negeri ini.

Namun, lebih dari itu Jokowi juga memastikan bahwa institusi keagamaan seperti KWI atau Muhammadiyah, NU, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia, dan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, melalui para pengurus dan umatnya memiliki andil besar dalam ikut memajukan bangsa dan negara lewat karya nyata, pikiran dan gagasan maupun keterlibatan bersama pemerintah menyukseskan berbagai agenda pembangunan. Hal yang sudah dibuktikan sejak perjuangan merebut kemerdekaan.

Ketiga, silahturahmi ini juga bisa jadi memutus disinformasi di hadapan publik, termasuk Gereja atas berbagai kebijakan pemerintah selama ini.

Baca: VIDEO: BTS Rilis MV IDOL Kolaborasi Bersama Nicki Minaj dan ARMY Saat Lakukan Idol Challenge

Contoh teranyar yaitu Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, saat menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR RI, Kamis, (16/9/2018) lalu di Gedung DPR/MPR RI Senayan, yang dihadiri langsung Presiden Jokowi. Zulkifli yang juga Ketua Umum PAN mengeritik sejumlah hal, termasuk soal utang negara. Pidato itu disampaikan di hadapan Jokowi.

Di era Jokowi, demikian Zulkifli, jumlah beban utang pemerintah yang mencapai tidak kurang dari Rp 400 triliun pada 2018. Jumlah ini setara dengan tujuh kali dana yang diberikan ke desa-desa atau enam kali dari anggaran kesehatan seluruh rakyat Indonesia. Ini sudah di luar kewajaran dan kemampuan negara untuk membayar.

Namun, bagi Presiden Jokowi informasi Ketua MPR RI itu melenceng. Dalam forum Sidang Tahunan MPR yang sama, dalam pidatonya Jokowi malah menyodorkan pencapaian pemerintah.

Misalnya, Indonesia berhasil merebut Freeport hingga Blok Rokan dari asing. Apa kata Jokowi selanjutnya? Setelah beberapa dekade berada di tangan pihak lain, Blok Migas Mahakam, Blok Migas Sanga-Sanga, Blok Migas Rokan, dan mayoritas saham Freeport kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi yang sebesar-besarnya digunakan bagi kemakmuran rakyat.

Begitu pula ekonomi Indonesia yang bisa tumbuh di kisaran 5% dalam ketidakpastian ekonomi di dunia yang sedang berlangsung. Inilah cara efektif Jokowi menjegal disinformasi yang menyesatkan.

Halaman
123
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang Cetak

5 ABG Digerebek Hendak Gelar Pesta Seks di Makassar, 3 Gadis Masih di Bawah Umur

Berita Populer