Kanal

Distribusi Rabies Tertinggi Ada di Nita

Petugas mengambil sampel darah anjing untuk pemeriksaan kekebalan tubuh terhadap rabies paska vaksinasi yang dilakukan oleh peneliti Charlotte Warembourg dari Veterinary Public Health Institute University Of Bern Swiss, bersama Dr.Edwaldus Wera, pada bulan Agustus 2018 di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur. - ISTIMEWA

Laporan   Reporter POS KUPANG.COM, Euginius Mo’a

POS-KUPANG.COM| MAUMERE---Masyarakat  Kecamatan Nita,  10  KM arah  barat Kota Maumere di Kabupaten Sikka, Pulau Flores,  Propinsi Nusa  Tenggara  Timur   (NTT)  harus  lebih waspada  terhadap anjing  peliharaan.

Hewan   kesayangan  di rumah-rumah  tangga, bukan hanya menjadi   bukan hanya menjadi kesayangan, sekaligus musuh dalam  selimut  yang bisa saja membunuh tuannya.

Kepala Bidang   Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  (P2P) Dinas Kesehatan  Sikka, Drg. Harlin Hutauruk, mengatakan kasus  gigitan   Hewan  Penular Rabies   (HPR)  terutama  anjing  terbanyak  terjadi di  Kecamatan  Nita.  

Selama Januari sampai akhir Agustus   2018   terjadi 115  kasus  gigitan dan 96  kasus  gugutan   yang beresiko tinggi   telah disuntik  vaksin anti rabies.

“Distribusi  kasus  gigitan  berdasarkan  wilayah, Nita tertinggi menyusul  Puskesma Kopeta  dari  102  kasus  yang beresiko dan divaksin 87 dan di  Puskesmas Beru dari 109 kasus 94  divaksin rabies,” kata  Harlin,Jumat  (7/9/2018) di Maumere.

Harlin  sudah memaparkan   laporan ini dalam pertemuan Kadis  Pertanian Perkebunan dan Peternakan  Sikka, Ir.Hengki Sali, dengan  Direktur  Kesehatan  Hewan  Dirjen Kesehatan  Hewan Kementrian  Pertanian  RI, Dr.  Fadjar  Sumping Tjatur Rasa, Kepala Balai Besar  Veteriner  Nusa  Tenggara, Dr.Mosa  Tenaya, Kasubdit Zoonosis Kementarian Kesehatan  RI,  drh. Endang Burni, Kabid  Kesehatan  Hewan  Disnak  NTT,  Yos  Dandut, Sekretaris  Penanggulangan  Rabies  Flores Lembata, dr.Asep Purnama,S.Pd,  Kamis  (6/9/2018) siang di  Aula Dinas Pertanian  Sikka. 

Pertemuan  ini membahas  terobosan  lain yang kelak  dilakukan paska kasus  kematian  EG (5.5)  hari Minggu (2/9/2018).  EG  dicakar anjing sekitar  lima bulan  lalu  di  Desa Baomekot.  Kecamatan  Hewokloang,  Kabupaten  Sikka.

Harlin  menjelaskan,  trend gigitan selama  2018 mengalami  kenaikan. Sampai bulan Juli   2018 terjadi 750 kasus. Sampai Desember diperkirakan  terjadi  1.500  kasus. Korban  menerima suntikan  VAR sejak Januari sampai  Juli sebanyak 622  orang.

“Korban  gigitan di-‘screening’ dulu. Kalau korban  dengan  resiko tinggi kita berikan  prioritas  disuntik  vaksin anti  rabies,” tandas Harlin. (*)

 
 

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang

5 ABG Digerebek Hendak Gelar Pesta Seks di Makassar, 3 Gadis Masih di Bawah Umur

Berita Populer