Kanal

Berbagi Luka : Cerpen Arysh Dhae

- ilustrasi

Mereka menggodaku. "Ine, kau sudah besar!" kata Bapak.
"Dia sudah ada pacar," sambung paman. Bapak tertawa sambil menatapku.
Bibi kemudian menimpali, "Ee., saya punya anak mau sekolah dulu," katanya.
Aku terdiam tak menanggapi gurauan mereka, aku hanya menunggu pertanyaan dari bapak tentang keadaanku. Namun, malam itu bapak sibuk membicarakan urusan adat dan berbagi hal ihwal di kampung bersama paman dan bibi. Hingga keesokan harinya, saat bapak bersiap untuk pulang, pertanyaan itu belum juga datang. Aku menantinya di depan rumah dan bila Bapak menanyakan keadaanku pasti bukan hanya keluh-kesahku yang melompat dari tenggorokanku, tetapi akupun akan melompat ke dalam bus yang akan membawanya.

Bus yang akan membawa bapak sudah tiba. Bapak menghampiriku dan menggandengku, kami bersama-sama melangkah ke tempat bus berhenti. Bapak kemudian berbicara kepadaku, "Ine, maaf Bapak tidak punya uang. Kau tinggal saja dengan paman dan bibi di sini eee...!" Bibi lantas berbicara menyambut ucapan Bapak. "Tidak apa, dia tinggal dengan kami saja," kata bibi seraya menggamiti lenganku.

Baca: Prof Colin Binns Ajak Para Ibu Lebih Lama Memberikan ASI untuk Bayinya

Bus yang ditumpangi bapak melaju meninggalkan kami sambil menghembuskan asap melalui knalpotnya. Bus itu melaju makin kencang dan asap itu kian pekat seolah ingin menghalangi mataku yang masih ingin menangkap rupa bus itu. Bus itu akhirnya tidak sanggup lagi ditangkap mataku; ia menghilang di tikungan jalan.

Hilang pula harapan yang sudah ditangkap hatiku. Bus itu telah merebutnya dan membiarkan hatiku memasuki kegelapan. Kesendirian menghampiriku lagi. Kularikan diriku ke dalam bilik, sahabat dan saksi bagi kesendirianku.

Hari-hari berikutnya aku menjadi sadar bahwa aku tidak sanggup menyandarkan harapanku pada keluargaku lagi. Aku kemudian menggantungkan harapanku pada sekolah. Hanya bila aku sukses dalam pendidikan maka aku dapat keluar dari rumah ini dan menemukan masa depanku sendiri. Aku melanjutkan pendidikanku dengan dibiayai pamanku. Setahun lalu aku menamatkan SMA dan masuk di kampus ini. Awalnya aku berpikir bahwa tinggal selangkah lagi aku akan menemukan mimpiku.

Namun, sejak beberapa minggu yang lalu harapanku diguncang sehingga aku tidak mampu lagi lebih optimis tehadap mimpiku itu. Paman telah memutuskan untuk tidak lagi membiayai kuliahku demi memangkas beban ekonomi keluarga. Hidupku rasanya sudah berakhir. Aku tidak tahu ke mana harus kulabuhkan pengharapanku lagi. Aku tidak punya siapa-siapa untuk bersandar lagi; bapak, paman maupun sekolah, rasanya mereka tidak mau memberikan pundaknya bagiku.

Baca: Deretan Atlet Asing yang Jadi Sorotan pada Asian Games 2018

***
Dari pengalamanku, kutahu amat beresiko bila kubiarkan Srinka yang diberondong berbagai pengabaian dari mereka yang mempunyai hak asuh atas dirinya melangkah seorang diri. Kusadari pula bahwa alangkah indah bila seorang yang diabaikan menemukan orang lain yang dilukai oleh masalah yang sama. Karena hanya yang pernah terluka yang dapat memahami orang yang sedang terluka. Sementara itu, aku pun ingin agar Srinka menemukan sahabat bagi jiwanya itu. Maka aku pun mulai membuka catatan lembaran hidupku yang memang setali tiga uang dengan Srinka.
***
Srinka, aku pun pernah disendirikan dan hingga saat aku menemukanmu aku berada dalam kesendirian. Ibuku menyuruhku pergi ke Pulau Besar. Alasan Ibu adalah pendidikan di sana lebih murah dan juga berkualitas. Aku akhirnya pergi dengan mimpi menemukan harta karun yang dipendam dunia pendidikan Pulau Besar itu.

Hari berganti hari aku berjuang untuk menuntaskan kuliahku. Aku datang sebagai minoritas dan kemudian bertemu pemuda-pemuda picik yang berlagak bijaksana. Persatuan mereka anggap keseragaman. Kekhasan individu mereka abaikan, katanya itu demi kolektivitas. Namun, petualanganku untuk menemukan harta karun itu malah memukul dan melempar aku ke dalam alam kesendirian yang mengancing seluruh inderaku. Seiring dengan itu aku makin disudutkan para pemuda picik itu. Hingga akhirnya aku merasa tidak sanggup menghadapi mereka lagi. Aku akhirnya memutuskan untuk kembali ke Pulau ini dan berpikir untuk melanjutkan studi di tempat ini saja. Saat aku tiba di rumah, keluargaku ternyata tidak mau memahamiku, menurut mereka aku menyia-nyiakan uang ibuku. Mereka memutuskan untuk tidak lagi menyekolahkanku.

Baca: Jusuf Kalla Minta Caleg Unjuk Gigi, Bukan Serang Lawan

Aku tidak bisa mengubah keputusan mereka, tetapi aku pun tidak bisa mengabaikan hasratku untuk menemukan harta karun yang dipendam dunia pendidikan. Maka aku melarikan diri ke kota ini, berguru di Kampus ini sambil bekerja untuk membiayai kuliahku. Kaum kerabatku telah memilih untuk menjauh dariku. Kini aku tertindih oleh amarah mereka dan tercampak ke dalam tubir yang gelap gulita; terpisah dari cinta mereka.
***
Kini kami berangkat ke kampus dengan lebih bergairah. Ada sesuatu di sana yang seakan telah menambatkan hati kami. Di saat kami bertemu mata, kami akan beradu pandang dan masing-masing merasakan pancaran aneh, yang muncul setelah kami saling berbagi kisah, dari dia yang dipandang. Senyum segar terpatri abadi di wajah kami dan rasanya hanya kepada kami berdua bunga yang kembali mekar di awal musim semi itu ditujukan.

Hari ini, tanggal 15 Agustus, hari ulang tahunku. Sepanjang usiaku yang sudah menjelang dua dekade, tanggal ini tidak pernah menyajikan kejutan istimewa bagiku. Satu-satunya kebanggaan karena tanggal lahirku ini adalah aku se-zodiak dengan Napoleon Bonaparte, sang jenderal terbesar Eropa, serta pahlawan dan martir yang agung dari El Salvador, Mgr. Romero. Namun, pagi tadi Srinka mengajakku untuk pergi bersamanya malam nanti. Tentu tujuan kami bukan tempat-tempat maha-istimewa, hanya rumah makan pasar malam. Ini mungkin kejutan bagiku.

Baca: Ini Penyebab Kematian Bintara Polisi yang Tewas Dianiaya Dua Seniornya

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Sumber: Pos Kupang Cetak

Gadis di Sumbar Diperkosa Teman Pacar saat Kelelahan Mendaki Gunung hingga Akhirnya Tewas

Berita Populer