Kanal

Lewotana Adalah Rumah bagi Kemuliaan

- ilustrasi

"Makan jangan sampai kenyang, tuak jangan bikin perut asam dan pinang jangan mengacaukan ucapan", demikian ajaran lewotana ihwal konsumsi. Hari ini budaya pesta menjamur di mana-mana.

Berlomba-lomba. Yang punya jabatan besar biasanya punya tenda yang lebih besar, undangan dan persediaan minuman lebih banyak. Hasil akhirnya anak muda mabuk dan berkelahi. Saling jaga di tikungan kampung dengan batu, kayu, parang dan tombak. Tak kenal lagi mana saudara mana sahabat.

Lewotana hanya jadi aspek panggung (penampilan); baju yang dipakai dan sesaat berselang ditukar-lepas di kamar belakang. Maka lewotana tidak menubuh di sikap, laku dan ucapan. Kata-kata tak berdaya menggerakkan. Mimik dan gestur tak melahirkan kharisma (kewibawaan). Tubuh berjimbun nafsu dan amarah.

Pikiran tak lagi jernih. Hawa tubuh menjadi panas. Kejujuran menjauh. Para penjilat dan oportunis merapat. Berkumpul dan berpendar getaran-getaran kasar. Alam terganggu. Air tanah menyusut, suhu memanas lalu bencana mulai berdatangan. Lewotana tengah membersihkan dirinya agar tidak lebih banyak orang yang tersedot masuk dalam lingkaran kemaruk.

Ketika kesadaran lewotana mengendor maka kendor pula keberanian berkata jujur dan membela yang benar. Yang dijumpai adalah jabatan besar dengan keberanian yang kecil, jumlah yang besar dengan kejujuran yang langkah. Yang kecil dipandang remeh, diabaikan saja. Minoritas disepelehkan. Mayoritas dianggap paling benar. Padahal mendahulukan yang kecil dan susah, memperhatikan janda dan yatim-piatu adalah amanat lewotana.

Lewotana adalah rumah bagi kemuliaan. Memangku, menyediakan air dan aneka bahan makanan. Menjadi naungan. Tempat manusia menghirup segala kekuatan bagi kebersihan hati, kesegaran pikiran dan keluhuran budi.

Pada lewotana bersemayam roh suci leluhur. Juga doa tulus dan air mata rakyat yang bersusah. Yang main-main terhadapnya tak panjang jabatan, tak bertahan cahayanya. Yang teguh merawatnya, "kepalanya berbantal gunung kakinya menjangkau pantai, tenaganya gempa bumi napasnya guntur kilat", begitulah sastra lisan Lamaholot melukiskan kuasanya. Jika demikian maka perubahan bukanlah hal sulit untuk diwujudkan! *

Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang Cetak

Viral Reaksi Ketum PSSI Edy Rahmayadi Menutup Wawancara Sepihak, soal Insiden Tewasnya The Jak Mania

Berita Populer