Kanal

Lewotana Adalah Rumah bagi Kemuliaan

- ilustrasi

Oleh: Silvester Petara Hurit
Bekerja di bidang kebudayaan, tinggal di Lewotala Flores Timur

POS-KUPANG.COM - Orang Lamaholot menyebut kampung halamannya dengan nama lewotana. Lewotana adalah kata yang begitu imajinatif setidaknya bagi saya yang hidup dalam alam pikiran dan perasaan Lamaholot.

Jika diurai, lewotana terdiri dari kata lewo (kampung) dan tana ( tanah). Sebenarnya untuk menyebut kampung kata "lewo" sudah cukup representatif. Tapi rasanya keutuhan makna `lewo' hanya dimungkinkan dengan hadirnya "tana", demikianpun sebaliknya.

Lewotana adalah kesatuan antara realitas abstrak (lewo) dan realitas material (tana). Seperti jiwa dan raga, lewotana adalah jagat batin dan lahir. Batin tak lengkap tanpa yang lahir (fisik), begitupun sebaliknya.

Baca: 3 Zodiak Ini Seperti Paranormal, Bisa Merasakan Apa Yang Bakal Terjadi, Siapa Mereka?

Kata `lewo' mendahului `tana' menjelaskan betapa yang abstrak, karena tidak dapat dilihat dan diraba, tidak kalah nyata daripada yang fisik, yang bisa dilihat dan diraba. Inilah perwujudan cara berpikir spiritual dari leluhur Lamaholot.

Lewo adalah jagat nilai, jagat makna. Yang indah, baik, luhur dan mulia ada di sana. Di dalamnya bersemayam roh alam, leluhur dan segala kekuatan suci. Supaya hidup di tanah (alam fisik/dunia) selamat, orang harus merawat dunia batinnya, merawat alam pikiran dan perasaannya. Begitupun sebaliknya, dunia batin akan terjaga kalau orang menjaga alam fisiknya. Alam fisik dan batin adalah dwitunggal (kenyataan) kehidupan.

Kegentaran

Di masa kecil, saya masih saksikan orang-orang segenerasi kakek-nenek punya semacam perasaan `gentar' ketika menyebut `lewotana'. Mengabdi lewotana adalah bakti, kehormatan dan kemuliaan hidup.

Segala pekerjaan yang bikin orang banyak sejahtera dan selamat adalah tugas lewotana yang mesti dijalankan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh tanpa memperhitungkan upah atau penghargaan. Kemana-mana lewotana harus di depan.

"Kalau dapat rezeki sepiring, ingat, separuh untuk diri, separuhnya untuk lewotana", begitu pesan para orang tua. Bahwa disamping mencari kebutuhan lahiriah, orang jangan lupa bahwa mengusahakan kebaikan dan kesejahteraan banyak orang termasuk menjaga kehormatan dan martabat hidup. Malas tak beda dengan mati, menipu sama dengan memotong umur sendiri, mencuri adalah aib dan menutup jalan rezeki sendiri.

Baca: BERITA POPULER : Parade Foto KPop BTS Answer, Ramalan Zodiak Dan 7 Drakor

Halaman
123
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang Cetak

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Berita Populer