Kanal

Program Siwab di NTT Masih Terhambat Ketersediaan Tenaga Teknis

Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dani Suhadi - POS KUPANG/HERMINA PELLO

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Adiana Ahmad

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Pelaksanaan Program Sapi Indukan Wajib Bunting Siwab) di Provinsi NTT masih terhambat ketersediaan tenaga teknis terampil. Pasalnya, kegiatan Siwab membutuhkan tenaga terlatih.

"Kita sudah menyiasati kendala itu dengan pelatihan kader pada tahun lalu. Karena inseminasi buatan membutuhkan tiga keterampilan yakni kemampuan pemeriksaan terhadap gangguan terhadap reproduksi, kemampuan petugas untuk memeriksa kebuntingan, kemampuan dalam melakukan inseminasi," kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Ir. Danny Suhadi, di Kantornya, Rabu (29/8/2018).

Danny mengatakan, tiga keterampilan itu bisa dimiliki satu orang bisa juga tiga orang.

Baca: Ditetapkan Jadi Tersangka Korupsi Jalan, Ketua DPRD Ditahan

Mengatasi kendala tersebut, kata Danny, pihaknya telah menyelenggarakan pelatihan untuk 120 orang tenaga teknis pada tahun 2017.

Tenaga teknis yang dilatih tersebut diambil dari tenaga teknis yang sudah ada di dinas-dinas peternkan yang ada di kabupaten/kota seluruh NTT.

"Pelatihan tahun lalu kepada petugas yang sudah ada, kemudian kita rekrut dan beri pelatihan. Ada yang di Kupang, ada yang di Singosari, ada yang di tempat inseminasi buatan di Lembang, Jawa Barat," kata Danny.

Tantangan berikutnya, lanjut Danny, ketersediaan pakan terutama pada musim-musim ekstrem atau kemarau panjang.

"Kita perkenalkan pakan yang tahan terhadap panas dan bisa memenuhi kebutuhan karena sapi berbeda dengan ternak yang lain. Sapi lebih bagus kalau makanannya dari alam. Kalau menggunakan pakan olahan, pertumbuhan kurang bagus. Kedua, tidak ekonomis. Satu-satunya jalan menyediakan pakan alami. Dengan lamtoro terapan. Sebenarnya, Lamtoro biasa tapi kemampuan tajuk cukup luas dan tebal. Memang kita harus sebarkan ke kabupaten-kabupaten untuk memperluas sebarannya agar bisa memenuhi kebutuhan pakan di daerah-daerah," demikian Danny.

Danny mengungkapkan, program Siwab diluncurkan dalam rangka kemandirin pangan. Tujuannya, untuk mengintegrasikan seluruh potensi peternakan dengan pemanfaatan teknologi teknis produksi melalui teknis inseminasi buatan (IB).

Dijelaskan Danny, sebagiaan besar pola peternakan di NTT masih menggunakan pola ekstensifikasi (pemeliharaan secara bebas di padang-padang pengembalaan) yang menyebabkan lemahnya perekembangan populasi, jarak kelahiran yang jauh dari seharusnya 12 bulan, 13 bulan atau 14 bulan bisa sampai 18 bulan bahkan 24 bulan.

Kedua, bahwa pengendalian terhadap kelahiran ternak yang bunting sulit dilakukan karena tidak diketahui anakan berasal dari pejantan yang mana. Kondisi itu berpeluang terjadinya inbreeding (perkawinan satu darah/ keturunan) sehingga bisa terjadi penurunan sumber daya atau kualitas genetika.

Ketiga, pada saat terjadi kelahiran anakan dari perkawinan alam seringkali tidak terkontrol sehingga terjadi kematian anakan di padang. Keempat, tertularnya penyakit menular, seperti brucellosis yang menyebabkan keguguran anakan dalam kandungan.

Dengan kendala dan situasi seperti itu Pemerintah Provinsi NTT memperkenalkan program sapi indukan wajib bunting (Siwab).

"Ini sudah kita lakukan berkali-kali dengan system distribusi ke setiap kabupaten. Caranya dengan menyiapkan sarana dan prasarana. Sarana inseminasi buatan itu sendiri antara lain Semen (mani) beku yang kita ambil dari luar, dan kita sebarkan ke kabupaten -kabupaten. Di sana ada inseminator yang siap melakukan tugas itu. (*)

Penulis: Adiana Ahmad
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang

Viral Rumah Bohemian Rapsody di Blitar, Gaya Eropa dan Dianggap Mistis, Lihat Video Penampakannya

Berita Populer