Kanal

"Tragedi Tiang Bendera Silawan" dan Virus Om Valens Doy

Presiden Joko Widodo dan Yohanes Ande Kala di Istana Negara Jakarta, Senin (20/8/2018). - Instagram/Jokowi

Main-main dengan bendera itu bisa mati akibatnya. Nah proses pengibaran yang macet itu, bisa menjadi suatu indikasi bahaya bagi polisi dan tentara. Selain itu, ada sisi mistiknya.

Pembaca orang Indonesia, dijamin bakal tertarik jika peristiwa itu dideskripsikan dengan menghubungkan kejadian itu dengan apa yang dialami sebelumnya oleh orang-orang yang terlibat dalam proses pengibaran bendera tepat pada tanggal keramat "17" yang kebetulan jatuh tepat pada hari "Jumat", apalagi jika kebetulan juga jatuh pada hari pasaran Jawa "Kliwon".

Jumat Kliwon itu bisa dieksploitir sebagai suatu berita. Banyak pembaca tipe ini,
khususnya yang masih rajin pasang kupon putih atau togel yang suka coret-coret angka. Sayangnya Jumat yang lalu adalah Jumat Wage.

Uraian di atas tidak bermaksud mengoreksi. Tetapi mau menunjukkan suatu struktur berpikir jurnalis yang sudah terkontaminasi virus Om Valens. Kalau Om Valens sudah menepuk pundak kita dan berkomentar dengan tarikan suara napas panjang, layaklah untuk hidung kembang.

Begitu juga jika Om Piter sudah anggukkan kepala dengan alun lambat, sambil mengisap dalam-dalam rokoknya, itu sudah suatu pengakuan dahsyat. Ingat Om Piter itu lebih banyak kritik daripada memuji. Om Piter biasanya memposisikan diri sudah tahu semua. Harus dikonfirmasi lagi ke senior Pius Rengka.

Kisah Joni yang spontan berlari ke arah tiang bendera untuk menyelamatkan upacara, bukan terbentuk begitu saja. Mengapa di antara begitu banyak siswa laki-laki dan peserta upacara laki-laki, hanya Joni yang bereaksi dan bertindak tepat.

Konon di militer, kecepatan bertindak dalam hitungan detik itulah yang pantas masuk pasukan elite. Joni yang berusia 14 tahun adalah anak eks pengungsi Timor Leste, yang lahir di Silawan saat orangtuanya mengungsi 19 tahun lalu.

Kekuatan media sosial terbukti memberi efek luar biasa. Mendadak sosok Joni dan keluarganya menjadi buah bibir, apalagi sejumlah media televisi menampilkan rekaman video aksi heroik Joni. Apa yang bisa dilakukan media lokal di NTT?

Kekuatan media lokal tenggelam. Padahal kekuatan media lokal sebagai yang paling dekat dengan lokasi kejadian sama sekali tidak tampak. Semua tenggelam dalam model pemberitaan arus utama. Media lokal tidak tampilkan keunggulannya, sebagai media yang seharusnya menjadi sumber terunggul yang bakal dikutip semua media.

Saya teringat kisah awal berdirinya Harian Pos Kupang tahun 1992. Hanya dua pekan setelah terbit kontinyu sebagai koran harian pertama di NTT, Pos Kupang mendapat "berkah" oleh peristiwa gempa bumi diikuti tsunami yang mahadasyat dari segi jumlah korban manusia, dan kerusakan yang ditimbulkannya. Koran Pos Kupang yang masih bayi menjadi satu-satu koran yang dikutip seluruh media nasional, bahkan dunia. Itu karena di baliknya ada seorang bernama Om Valens.

Halaman
1234
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang Cetak

Viral Rumah Bohemian Rapsody di Blitar, Gaya Eropa dan Dianggap Mistis, Lihat Video Penampakannya

Berita Populer