Kanal

"Tragedi Tiang Bendera Silawan" dan Virus Om Valens Doy

Presiden Joko Widodo dan Yohanes Ande Kala di Istana Negara Jakarta, Senin (20/8/2018). - Instagram/Jokowi

Terngiang-ngiang oleh teriakan-teriakan Om Valens, apalagi menjelang rapat dan deadline, saya agak menggerutu membaca berita Pos Kupang mengenai "Tragedi Tiang Bendera Silawan". Untunglah ada media sosial (medsos), seperti Facebook dan Whatsapp yang menyediakan banyak informasi yang tidak ada di media edisi cetak.

Di medsos informasi berlimpah ruah, interaktif, sumbernya banyak, tetapi tetap harus konfirmasi lagi kebenarannya. Yang ada dalam pikiran saya peristiwa "Tragedi Tiang Bendera Silawan" jangan hanya menampilkan sosok Joni, remaja pemanjat tiang bendera saja. Berita itu mestinya bisa menjadi pintu masuk untuk meng-update program penting pemerintah Presiden Joko Widodo.

Sosok Joni, si pemanjat tiang bendera harus dijadikan pintu masuk untuk menampilkan hal besar lainnya. Mumpung perhatian nasional sedang terarah ke Desa Silawan, tempat tragedi terjadi, sekaligus desa tempat tinggal Joni.

Wajah kawasan Mota'ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Belu, sudah sangat jauh berbeda dibanding beberapa waktu sebelumnya. Daerah di mana Joni beraktivitas sehari-hari adalah daerah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.

Joni adalah produk konteks tempat tinggalnya di Desa Silawan, yakni desa yang berbatasan dengan Distrik Bobonaro, Timor Leste, paling dekat dengan Kota Batugade, Bobonaro. Desa Silawan adalah desa terdepan Indonesia berhadapan dengan Timor Leste, sekaligus desa pinggiran dilihat dari Atambua, Ibukota Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pemberitaan media umumnya masih fokus pada sosok Joni, sang pahlawan kecil, istilah yang diberikan Wakil Bupati Belu, Drs. JT Ose Luan, yang waktu kejadian bertindak sebagai Inspektur Upacara.

Informasi komplemen lain belum mendapat perhatian. Padahal setiap media biasanya dalam satu peristiwa yang diketahui publik, akan berlomba-loma menampilkan sisi yang hanya media itu yang tahu. Sayangnya saya tidak temukan itu di Pos Kupang. Saya lebih banyak dapat dari medsos.

Kejadian yang bersejarah buat Joni semua orang sudah tahu. Kurang diperlukan tulisan deskriptif untuk melukiskan sisi dramatis peristiwanya, karena sudah ada rekaman videonya.

Kecuali ada penulis deskriptif andal yang bisa memainkan suasana batin si anak dan para peserta upacara yang panik. Asal tahu saja, bagi TNI dan Polri, jangan coba main-main dengan bendera.

Sebab tentara dan polisi sudah didoktrinkan bahwa bendera Merah Putih sebagai simbol keberanian berkorban danĀ  kesucian/ketulusan itu diperoleh dengan mempertaruhkan nyawa dan sudah banyak menjadi korban.

Halaman
1234
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang Cetak

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer