Kanal

Kampung Adat Guru Sina dalam Kenangan

Para prajurit TNI dari Kodim Ngada bersama warga Gurusina membersihkan puing-puing, Senin (20/8/2018). - POS KUPANG/GORDI DONOFAN

Jadi Guru Sina adalah figur manusia baru yang menjadi seorang guru bagi dirinya sendiri dan bagi yang lain, dengan menghalau berbagai jenis kejahatan dan keburukan, mulai dari dirinya sendiri.

Dengan demikian manusia baru tersebut memberi terang kemuliaan bagi dunia atau menjadi manusia baru yang menjadi teladan dan panutan. Sesudah Guru Sina meninggal, masyarakat mengenang dia dengan menjadikan namanya sebagai nama kampung, yaitu Kampung Guru Sina.

Nama kampung Guru Sina, sejak perkampungan lama (nua olo), sebelum tahun 1942, dan nua muzi (perkampungan baru) setelah tahun 1942 sampai sekarang.

Kampung Guru Sina sejak perkampungan lama (sebelum tahun 1942) sampai sekarang dihuni oleh beberapa komunitas yaitu komunitas Woe Kabi, Woe Ago Ka'e, Woe Ago Azi, Woe Sede dan komunitas Woe Siga.

Komunitas Woe Sede pindah ke kampung Suza bergabung dengan Woe Bu'u dan Woe Siga berpindah ke kampung Tolo Lela bergabung dengan Woe Raba dan Woe Bogo Metu, sehingga yang menetap di kampung Guru Sina adalah Woe Kabi, Woe Ago Ka'e dan Woe Ago Azi, dan masing-masing woe memiliki Ngadhu (tiang korban) sebagai lambang kaum laki-laki dan Bhaga (rumah korban) sebagai lambang kaum perempuan (Watu Yohane Vianey 2013:31).

Baca: 10 Drakor alias Drama Korea Tentang Percintaan di SMA dan Kampus Terbaik, Asli Bikin Baper

Akhirnya pada tanggal 13 Agustus 2018 merupakan tanggal dan tahun bersejarah buruk bagi kampung Guru Sina, dimana kampung Guru Sina yang sarat makna hangus terbakar si jago merah.

Api berawal mula dari Sa'o (rumah adat) Tiwu Pau sebagai salah satu sa'o dari komunitas Woe Ago Ka'e. Sa'o Tiwu Pau ini baru bergabung dengan komunitas Woe Ago Ka'e pada tahun 2002.

Menurut tuturan tetua adat di Kampung Guru Sina bahwa Sa'o Tiwu Pau ini berasal dari kampung Tolo Lela dan sampai saat ini masih ada permasalahan hak kepemilikannya.

Rumah dengan nama yang sama (Tiwu Pau) ada juga di kampung adat Tolo Lela. Jadi kedua rumah yang bernama sama ini sesungguhnya ada dalam permasalahan moral dan hukum adat (Watu Yohanes Vianey, 2013:63).

Dengan demikian apabila dianalisis lebih lanjut maka penyebab terbakarnya kampung adat Guru Sina merupakan peninggalan masalah yang belum terselesaikan.

Halaman
123
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang Cetak

Hasil Final Polling Mata Najwa di 3 Sosmed, Prabowo-Sandi Unggul dari Jokowi-Ma'ruf Amin

Berita Populer