Kanal

Kampus, Kempis dan Koruptor

ilustrasi - Shutterstock

Oleh Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi FISIP Undana Kupang

POS-KUPANG.COM - Wacana pencabutan gelar akademik seseorang yang melakukan tindakan korupsi menarik didiskusikan. Menarik karena sebagian besar yang melakukan korupsi ialah mereka yang berpendidikan tinggi.

Mayoritas koruptor merupakan alumni pendidikan tinggi di semua level pendidikan di Indonesia. Dalam beberapa kasus, korupsi bahkan dilakukan oleh mereka yang bergelar akademik doktor dan profesor (Media Indonesia, 18/4).

Penelikungan etika dan moral akademik sedang terjadi secara banal dan vulgar di republik ini. Nilai pencerahan seakan hilang dan dihilangkan oleh satu dua orang koruptor yang berpendidikan tinggi itu. Memilukan dan amat memalukan.

Di level itu, masyarakat pasti bertanya tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Menyebut kualitas maka bayangan kita harus tertuju pada efektivitas penyelesaian masalah fisik dan sosial.

Baca: Ramalan Zodiak Hari ini dan Intip Untuk Esok Rabu 15 Agustus, Aries Menghadapi Bencana

Masalah menjadi lain ketika mereka yang telah mendapatkan banyak ilmu dengan beragam cadangan pengetahuan di kepala justru menjadi problem maker (pembuat dan penyulut masalah). Fatalnya, pembuat masalah itu ialah mereka yang sebenarnya laik dianut dan mesti ditiru. Di sini, korupsi harus disebut.

Korupsi disebut bukan hanya karena korupsi itu buruk tetapi aktor pelaku korupsi berasal dari dunia kampus. Aktor pelaku korupsi telah mendapatkan beragam ilmu dan segudang pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat.

Karena itu, selain pelaku korupsi, sistem pendidikan pun harus diperiksa. Model pendidikan di semua level pendidikan kita harus didiskusikan kembali. Semua usaha memeriksa kembali sistem dan model pendidikan bertujuan memersempit (kempis) ruang gerak individu dalam melakukan tindakan korupsi.

Pencabutan gelar akademik hemat saya menjadi langkah terakhir untuk membendung pengembangbiakan habitus korupsi yang marak dilakukan baik oleh individu maupun secara kelembagaan. Langkah awal, pendidikan kita harus segera mengubah orientasi, dari fisik-teknis ke pendidikan humaniora. Di sana, pendidikan karakter harus disebut dan laik diangkat.

Pendidikan karakter

Halaman
1234
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang Cetak

Terekam Kamera Sosok Pria yang Diduga Selingkuhan Angel Lelga, Digerebek Vicky Berduaan di Kamar

Berita Populer