Kanal

Pastor yang Berteater vs Umat Kritikus

ilustrasi -

Untuk diingat masalah perdagangan orang adalah semacam teror yang kita ciptakan sendiri. Berawal dari altar, iman sebesar biji sesawi menjadi kerdil ketika bahasa seorang kritikus atau penikmat seni dibatasi pada wilayah `rok mini' saja. Maka, bisa saja terjadi di sini, kita menjual `bahasa' di depan publik, supaya kita dikenal sebagai seorang yang bisa mengomentari.

Ini benar. Anda atau kita tidak disalahkan ketika sebuah pertunjukan dikritik, tetapi lebih baik jika kritikan itu berjalan dalam arus media yang normal.

Facebook adalah media sosial yang inse adalah ruang publik, tetapi ada banyak hal yang tidak baik terjadi di sana, maka seorang kritikus sejati harus menggunakan media yang baik dan benar, supaya pada akhirnya dia disebut sebagai kritikus yang baik.

Penulis melihat ini sebuah efek `pasar' yang di dalamnya ada kecemburuan akademik dan persaingan yang tidak sehat, lalu kita menjual anak-anak kita sendiri dalam bahasa sempit seputar `rok mini' atau seputar presepsi kita yang sempit saja tanpa melihat substansi dari dialog-dialog di dalam tubuh teater itu sendiri.

Kita mengerdilkan pola pikir dalam ruang publik yang dinamakan Facebook lalu mengumpat diri sendiri di depan mata publik yang membaca tanpa melihat betapa anak-anak telah berhasil membawakan pesan nilai kemanusian universal.

Saya menilai, karena `umat' kepala batu, maka pastor atau imam yang berteater tidak akan pernah bosan menghasilkan karya dan mewartakan kepada umat bahwa menghasilkan teater sebesar Tungku Haram atau menulis buku sebagus yang pernah kita baca adalah ruang yang tak pernah sepi dengan kritikan.

Oleh sebab itu, "pastor berteater" telah mewartakan dosa yang kita buat sendiri (baca: umat) supaya di sana ada rekonsiliasi. Rekonsiliasi ini dimulai dari diri kita sendiri sambilkita belajar mengkritik dan terus mengkritik adalah hal yang baik.

Penulis melihat banyak `kritikus' muncul tiba-tiba, lalu mati pun tiba-tiba. Setelah itu, ke mana kita mencari kritikus? Di facebook? Di Wattsapp? Atau di mana?*

Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang Cetak

Kronologi Lengkap Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi yang Dilakukan Haris Simamora

Berita Populer