Kanal

Kenyamanan Penumpang di Pelabuhan Tenau

Asisten Ombudsman NTT, Yohanes Don Bosco saat menerima pengaduan calon penumpang di pelabuhan Tenau Kupang, Selasa (20/11/2012) lalu. - Ist

POS KUPANG.COM - Sejumlah penumpang menceritakan pengalamannya saat naik maupun turun dari kapal di Pelabuhan Tenau dan Pelabuhan Bolok Kupang.

Mereka melukiskan kondisi keamanan di dua pelabuhan tersebut jauh dari harapan. Ada di antara mereka yang sudah sering menjadi korban pemerasan dari oknum tertentu di dua pelabuhan itu dengan modus mengangkut barang.

Pengalaman sejumlah penumpang kapal yang pernah menjadi korban pemerasan saat naik dan turun di dua pelabuhan tersebut memang bukan cerita baru. Praktik pemerasan yang dilakukan oknum tertentu itu sudah dilakukan sejak lama. Modus yang digunakan beraneka ragam.

Pertanyaan yang perlu dijawab ialah mengapa praktik yang sudah berlangsung lama itu dibiarkan terus terjadi? Siapa yang paling bertanggungjawab menjaga keamanan dan kenyamanan penumpang kapal selama berada di pelabuhan? Apakah pihak otoritas pelabuhan sama sekali tidak tahu praktik semacam itu?

Dari lokus atau tempat terjadinya praktik pemerasan tersebut, pihak otoritas pelabuhan mestinya bertanggungjawab terhadap persoalan keamanan penumpang ini.

Berbagai bentuk pemerasan maupun tindak kriminal lainnya yang terjadi dan dialami para penumpang di wilayah pelabuhan harus diketahui dan dipertanggungjawabkan oleh otoritas pelabuhan.

Tidak ada alasan bagi pihak otoritas pelabuhan untuk mengatakan tidak tahu dan tidak bertanggungjawab terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan pelabuhan karena praktik itu terjadi di wilayah yang menjadi kewenangannya.

Agar otoritas pelabuhan bersih atau bebas dari cerita miring akibat perilaku oknum tertentu di pelabuhan, maka pihak pelabuhan harus memperketat pengawasan terhadap orang-orang yang masuk ke pelabuhan maupun orang yang mencari nafkah di pelabuhan, terutama pada saat masuk dan keluarnya kapal.

Tidak semua orang bebas masuk ke pelabuhan, kecuali penumpang, penjemput, TKBM, sopir angkutan umum. Orang-orang yang mencari nafkah di pelabuhan, apakah tenaga kerja bongkar muat (TKBM), penjual makanan ringan dan lainnya harus didata secara jelas jumlah dan jenis aktivitasnya.

Pendataan ini penting untuk memudahkan pihak otoritas pelabuhan melakukan pengawasan.

Dengan demikian apabila ada pihak tertentu yang melakukan praktik pemerasan terhadap penumpang maka yang bersangkutan bisa langsung diberikan tindakan tegas dan diproses secara hukum.

Demi kenyamanan penumpang kapal di pelabuhan kiranya pemerintah dapat menyiapkan sarana transportasi resmi yang beroperasi di sana dan mengawasi agar. mereka tidak seenaknya mematok tarif kepada para penumpang atau menggunakan jasa calo.

Tak lupa kita mengingatkan aparat kepolisian. Tidak mungkin aparat kepolisian tidak tahu adanya praktik premanisme di area pelabuhan di NTT ini. Kita berharap Kapolda NTT yang baru dapat memberikan solusi atas masalah ini.*

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang Cetak

Kronologi Anggota The Jak Mania Tewas Dikeroyok Oknum Suporter Persib, sempat Minta Tolong

Berita Populer