Kanal

Pater Robert Ramone Menggereja Melalui Budaya

Pater Robert Ramone,C.Ss.R - ISTIMEWA

Saya paksa mobil masuk di jalan batu-batu untuk mendapatkan foto yang bagus. Kedua saya foto kuburan di tengah laut Samudera Hindia, ombaknya besar hanya berdua menggunakan perahu kecil yang gulungan ombaknya cukup tinggi. Tapi saya tidak takut, bahkan saya ingin mati dengan kamera. Saya juga memotret gunung Rinjai.

Di luar negeri saya memotret di gunung Sinai, tempat musa berbicara dengan Tuhan. Saya juga ingin tidak hanya pengalaman iman, tapi dokumentasinya.

Apa yang mendoronga Pater melestarikan budaya Sumba?

Tentu dari pengalaman fotogafi. Saya keliling dari kampung adat yang satu ke kampung adat yang lain. Saya melihat orang muda sudah berkurang mencintai budaya Sumba.

Saya melihat rumah adat Sumba berganti menjadi atap seng. Saya punya kebanggaan melihat rumah Sumba yang tinggi megah dengan atap alang-lang yang alami dan punya mistisnya. Ini yang mendorong saya mendirikan lembaga studi dan pelestarian budaya Sumba.

Wadah ini untuk meyakinkan pihak sponsor. Dan, ini terbukti setelah lembaga ini terbentuk sudah ada pembangunan kembali rumah-rumah adat di dua desa di Ratengaro dan di Sumba Timur. Di Ratenggaro rumah adatnya sangat spektakuler dan bersejarah.

Rumah induk yang tingginya 35 meter yang hanya diikat dengan tali, tidak ada paku. Sejak lembaga ini didirikan sudah ada 125 rumah adat di seluruh pulau Sumba yang kita bangun kembali. Lembaga ini memfasilitasi donatur untuk membantu. Ini yang membuat saya menerima penghargaan.

Selain rumah adat, apalagi yang dilakukan untuk melestarikan budaya Sumba?

Saya juga mendirikan sanggar tari gedungnya di Lambanapu, Waingapu, bantuan donatur swasta Yayasan Tirto Utomo Jakarta. Gedungnya, sedangkan sanggar tari ada 15 di seluruh Sumba.

Kita cukup proaktif dan hasilnya cukup nampak. Tapi kita ingin maju terus, kendalanya kita lembaga swasta, terkadang hampir kehabisan nafas. Kita tidak mau budaya ini hanya berhenti di bangunan mati, tapi orangnya.

Kita bentuk sekolah pelestarian budaya kita beri nama Sepeda (sekolah pelestarian budaya). Kita kumpulkan anak-anak, kita didik tentang budaya Sumba.

Kita harapkan anak-anak ini menjadi pelestari budaya yang baik. Kalau orang besar agak sulit, ibarat pohon yang tua tidak bisa dibengkokkan. Semuanya gratis.

Pater juga mendirikan museum, tempat koleksi barang-barang bersejarah, dari mana mendapatkan barang-barang antik itu?

Pertama berjuang sendiri. Saat keliling memotret saya mengumpulkan barang-barang antik ini.

Juga dari Keuskupan Weetabula yang punya koleksi barang antik.

Yang menarik barang-barang antik ini baku panggil, kalau ada yang berkunjung ke sini mengatakan, oh yang ini saya punya ,saya sumbangkan ke sini. Ini menambah inventaris barang antik di tempat ini.

Selain lembaga studi kebudayaan, Pater juga mendirikan tempat penginapan. Apa yang mendorong Pater melakukan ini?

Ini pikiran saya. Saya orang yang paling berbahagia di jagat raya ini. Saya ke Jakarta menyampaikan terima kasih kepada ibu yang membantu biaya mendirikan rumah budaya.

Ibu ini menantang saya untuk berusaha berdagang agar museum ini bisa dihidupi. Saya mulai berpikir bagaimana caranya? Lalu saya membangun bungalo tahun pertama satu dan sampai tahun ketujuh sudah tujuh rumah.

Saya juga berpikir pengembangan vila di Weekelo. Tidak hanya penginapan tapi juga restoran. Syukurlah sudah bisa berjalan, walau tidak fait. Saat-saat tertentu tidak ada tamu, ya kita harus irit. Kita hidup betul-betul dari harapan saja.

Animo masyarakat terhadap penginapannya?

Kita terus promosi tapi ya, terkadang belum. Animo dari luar bagus. Orang semakin kenal, bahkan ada yang bilang belum lengkap kalau datang di Sumba belum datang di Rumah Budaya Sumba. Tamu dari luar dan luar negeri cukup animo menginap di Rumah Budaya Sumba.

Pater juga sering menulis buku, sudah berapa buah yang diterbitkan?

Pertama buku kumpulan foto-foto, judulnya Sumba Pulau yang terlupakan yang ditulis dalam tiga bahasa. Buku ini cukup mendapat sambutan di luar negeri. Buku ini tidak hanya foto- foto saya, tapi ada penjelasannya supaya ada yang bisa melakukan penelitian. Buku ini menjadi resume menampilkan apa saja yang ada di Sumba.

Saya tulis tidak detail, tapi umum dengan tujuan ada yang melakukan penelitian. Berikut buku tentang Revitalisasi Desa Adat dan Dampak Sosial Budaya di Sumba, buku yang ditulis bersama delapan orang, buku tentang Rumah Budaya Sumba yang ditulis secara detail dengan penjelasan soal nilai-nilai dan makna semua ornamen yang ada.

Sejarahnya bagaimana, pesan dan maknanya. Apakah barang mati yang dikumpulkan saja, atau ada maknanya sehingga museum ini bukan hanya debu yang dikumpulkan tapi menjadi api yang memberikan inspirasi.

Apa pesan Pater kepada generasi muda?

Setiap orang harus mencintai budayanya. Setiap orang lahir dan dibesarkan di atas fondasi nilai, entah sebagai orang Sumba atau suku lainnya.

Tradisi dan nilai ini yang harus kita wariskan. Saya berharap setiap orang mencintai nilai budayanya sendiri dan budaya orang lain. Di sini ada toleransinya.

Kita tidak melestarikan agama Marapu tapi nilai-nilainya. Nilai itu kristalisasi, sinar yang memberikan hidup yang lebih baik. itu pesan saya.

Penulis: Gerardus Manyela
Sumber: Pos Kupang

Satu Keluarga di Bekasi Tewas, Saksi Lihat TV Nyala Pukul 03.30, Panggil Korban tapi Tak Ada Jawaban

Berita Populer