Kanal

Pater Robert Ramone Menggereja Melalui Budaya

Pater Robert Ramone,C.Ss.R - ISTIMEWA

Saya melihat rumah adat Sumba sudah mulai pudar termakan usia dan tidak ada yang terpanggil untuk merenovasi dan melestarikannya. Dari hasil foto itu saya mencoba 'menjualnya' kepada donatur agar mendapatkan uang untuk membantu masyarakat merenovasi rumah adat di kampung-kampung adat yang sudah rusak.

Bersyukurlah Tuhan memberikan jalan dan mengetuk hati para donatur. Banyak donatur yang membantu sehingga uang yang diperoleh dimanfaatkan untuk merenovasi rumah-rumah adat yang rusak dan saat ini rumah-rumah adat itu sudah berdiri kokoh kembali.

Pater ceritakan suka dan duka selama 25 tahun imamat?
Yang pertama sukanya. Kita bekerja di tengah umat dan kita bergaul dengan umat dan ternyata kekeluarga dan persahabatan kita tidak dibatasi oleh satu suku tertentu atau hubungan darah. Itu sukanya. Dan, rasanya pergi di mana saja umat menerima. Sebagai imam konggregasi, saya bisa pergi dari satu pulau ke pulau lain bahkan dari satu negara ke negara lain tanpa berpikir saya harus nginap di mana, makan dan minumnya bagaimana.

Di sana konggregasi yang melayani saya. Dukanya kalau boleh dilihat, tentu saja sebagai pastor yang bertahun-tahun bekerja di desa di Sumba, tentu tidak sama dengan pastor yang bertugas di kota-kota besar seperti Jawa dan kota lainnya, dimana kesadaran umatnya sudah bagus dalam hal kemandirian.

Di sini pastor harus berusaha mencari nafkah sendiri. Tidak cukup dengan uang yang didapat dari keuskupan sekedar uang bensin dengan jumlahnya tidak sampai Rp 1 juta.

Selama bekerja di lembaga keuskupan segala macam harus diupayakan sendiri. Makan minum, pakaian, pondokan harus tanggung sendiri. Bahkan kita sudah begini tapi ada umat yang datang meminta pertolongan. Dan, saya tidak punya untuk menolong umat tersebut.

Waktu saya bertugas di Waikabubak, harus berusaha dengan bekerja di sawah dan memelihara babi. Di tempat ini Rumah Budaya Sumba yang saya dirikan tahun 2010, seluruh proses untuk menghidupi lembaga ini saya harus berjuang sendiri mencari dana.

Tidak ada bantuan, baik dari gereja maupun pemerintah. Material yang ada seperti alang-alang masih berserakan. Sampai sekarang belum ada titik yang menggembirakan akan stabil. Itulah suka dan duka selama 25 tahun saya lewati menjadi pastor.

Untuk Rumah Budaya Sumba sejak kapan didirikan?

Secara fisik tahun 2010. Tapi kalau mimpinya itu sudah beberapa tahun sebelumnya, sejak saya menggeluti dunia fotografi tahun 1992. Lalu saya adakan pameran foto di Jakarta, Yogyakarta maupun luar negeri mendapat penghargaan, cetak buku dan lain-lain tapi tidak cukup.

Halaman
1234
Penulis: Gerardus Manyela
Sumber: Pos Kupang

Video Viral Polisi Sempatkan Diri Beribadah ketika Bertugas di Belakang Suporter Bola

Berita Populer