Kanal

Bom Ikan Terjadi Setiap Hari

MAUMERE, POS KUPANG.COM-- Masyarakat yang tinggal di kawasan pantai selatan di wilayah Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka resah dengan maraknya pemboman ikan di wilayah itu.

"Kami telah mendata 15 kapal beroperasi di pantai Lela. Mereka melakukan pengeboman pagi, siang, sore dan malam hari. Jika ada nelayan lokal yang melarang, mereka ancam pakai bom," kata Frederich Frans Baba Djoedye, nelayan Lela.  Senin (22/6/2015).

Menurut dia, penangkapan ikan tuna dan cakalang dengan cara mengebom, itu terjadi setiap hari dalam dua pekan terakhir. Akibatnya, nelayan-nelayan kecil Lela yang mengincar tembang merugi.

"Di Lela saat ini lagi musim ikan tembang. Nelayan itu bom ikan tuna, yang berjalan bersama dengan tembang. Mereka bom ikan tunanya, tapi tembang-tembang juga mati. Yang rugi nelayan kecil," kata Frederich.

Ulah para nelayan yang diduga berasal dari Pemana (Sikka), Adonara (Flotim) dan Ndori (Ende) itu merugikan nelayan di Lela. Banyak ikan dasar yang mati terkena bom.

"Kekhawatiran kami itu panjang sekali. Di Lela itu banyak ikan karang yang khas Lela, yakni ikan merah. Jika karang hancur oleh kerakusan, kami masyarakat Lela tidak bisa melihat ikan merah itu di masa depan," ujar Frederich.

Racun bom ikan itu juga, kata Frederich, akan mengotori laut Lela yang kini sedang digencarkan pemerintah lewat program membudidayakan rumput laut. "Kalau laut kotor, maka penyakit ais-ais itu mudah menyerang rumput laut," ujar Frederich.

Fredrich berharap pemerintah daerah segera merespon dan menempatkan satu kapal patroli keamanan di pantai selatan Sikka. "Buat satu pos di pantai selatan," kata Frederich.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka, Drs. Lukman mengatakan, pemerintah telah merespon pengaduan masyarakat. Tim DKP juga telah mengidentifikasi kapal-kapal nelayan itu yang suka bom ikan. Kapal itu diduga berasal dari wilayah Ndori, Kabupaten Ende.

Selama sepekan terakhir, kata Lukman, tim DKP Sikka telah melakukan pengintaian hendak menangkap tangan kapal nelayan. DKP telah mengidentifikasi lima kapal nelayan beserta pemiliknya. Mereka diduga berasal dari Ende.

Upaya untuk menangkap tangan tidak berhasil. DKP menduga ada warga lokal yang membocorkan rencana operasi DKP itu kepada para nelayan pengebom ikan.

"Kita mau tangkap tangan. Target kami adalah tangkap dan proses mereka. Tetapi usaha tim DKP nihil. Jangan sampai ada orang kita yang informasikan kepada mereka," kata Lukman.

Dikatakan Lukman, para pengebom ikan menargetkan ikan tuna dan ikan ikan karang di Selatan Sikka, seperti Hokor dan Lela.

Namun yang menjadi kendala, kata Lukman, kekurangan armada pengawas laut. DKP Sikka hanya memiliki dua unit speedboat. Tahun 2015 ini sedang diadakan satu unit speedboat yang menurut rencana ditempatkan di pantai selatan Sikka.

"Kita ada dua kapal saja. Satu kapal pengawas dan satu kapal untuk transportasi sehingga kita butuh kapal lagi untuk wilayah selatan Sikka," kata Lukman.

Editor: Kanis Jehola

Pimpin Selawatan di Panggung, Wanita Ini Mendadak Pingsan lalu Meninggal Dunia

Berita Populer