Kanal

Kritik Cerpen: Pengais Tuhan

Unu Ruben Paineon - istimewa

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Berikut Cerpen berjudul Pengais Tuhan karya Ricko B yang dikritisi oleh Unu Ruben Paineon dari Perkumpulan Lopo BIINMAFO.

Pengais Tuhan

AKU cemas dengan wajah kotaku yang lusuh dan layu. Aku malu dengan wajah kotaku yang muram, tak bergairah, tak punya hasrat hidup; bahkan untuk hidup satu hari saja. Aku gundah dengan wajah kotaku yang bau amis di mana-mana.

Dan, aku lebih muak lagi dengan tingkah kotaku yang selalu melumuri tubuhnya dengan darah; ya darah anak tanahnya sendiri. Hancur sudah kotaku yang dulu jaya dan bersahaja. Apa sebab kotaku jadi begini? Mungkinkah Tuhan sudah meninggalkan kotaku? Mungkin Tuhan sudah berpaling dan tak mungkin menampakkan batang hidungNya lagi di kotaku? Ataukah Tuhan ingin menghukum kotaku, memusnahkannya, seperti kota kuno Sodom dan Gomora?

Aku tak tahu lagi. Yang aku tahu, kalaupun Tuhan ada, maka darimana datangnya semua kejahatan ini? Sebab dulu, orang-orang kotaku dengan bangga berseru, "Kalau Tuhan tidak ada, darimana datangnya semua kebaikan?"
Tetapi sekarang kebaikan itu sirna ditelan keangkuhan, ambisi, dendam, dan amarah. Bahkan bila kebaikan itu hanya sekedar konsep, tak ditemukan lagi konsep itu di kotaku lagi.

Di ujung jalan, persisnya di depan gedung apotek, ada pertigaan yang semuanya mengarah ke pusat kota. Dahulu kawasan itu padat. Sekarang, ada seorang bocah dengan wajah pucat, bibir kering, dan tubuh kurus kering, sedang mengais sampah sambil sesekali memasukkan apa saja yang bisa dia masukkan ke dalam mulutnya yang kering.

Setiap orang yang melintas harusnya langsung sadar; "bocah itu lapar." Namun entah kenapa tak ada yang membantunya. Hingga malam merayapi kota, bocah itu belum jua beranjak dari tempat itu. Ia seperti tak kenal waktu lagi, tak kenal hukum alam. Oleh karena lapar yang menyengat sangat, ia sudah tak sanggup menyadari kalau yang menemaninya mengais sampah setiap hari hanya matahari dan bulan.

Sebuah mobil tua, Kijang keluaran tahun 90-an, pelan-pelan memperlambat lajunya saat melintas di depan gedung apotek itu. Mobil itu berhenti di dekat sang bocah yang tak peduli. Seorang pria separuh baya turun dari mobil. Dengan jas hitam panjang menutupi sampai mata kaki dan setelan celana jins pudar berpadu dengan kaos bergambar Soekarno, pria itu tampak cukup elegan. Beberapa menit ia memandangi bocah pengais itu.

"Nak, di mana kamu tinggal?" pria tua itu mencoba memecah kesunyian malam. Bocah itu tak menjawab. Baginya, pertanyaan-pertanyaan itu sudah sering ia dengar. Suara-suara seperti itu adalah suara-suara hampa tanpa makna yang ia dengar setiap hari dan setelah ia menoleh suara itu menjauh dan menjauh dan pergi tanpa peduli. Yang paling penting baginya sekarang adalah makanan.

"Di mana kamu tinggal, nak?" bocah itu tak merespons. Pria itu berbeda. Ia tidak hilang akal. Ia membuka pintu mobilnya dan mengambil sebongkah roti cokelat dari dalamnya. Aroma roti cokelat itu dengan cepat mencemari udara hingga hinggap di hidung sang bocah. Ia menoleh, menatap wajah sang pria yang semenjak memegang roti itu sudah mengumbar senyum.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang Cetak

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Berita Populer