Kanal

Helena

Ilustrasi - Net

Cerpen Selo Lamatapo

KABAR kematianya terlalu cepat beredar, secepat kilat menyambar kelabunya senja di tengah rinai hujan. Mungkin, karena sosok yang tergeletak itu adalah pengedar narkoba.

"Aku mendengar berita bahwa aku akan dieksekusi pada akhir bulan, tetapi aku bahkan tidak tahu bagaimana aku mempersiapkan diri," ujar Helena.
Aku menatap via usang ini penuh kehancuran. Rasaku berkecamuk, bergelora bak ombak di pantai selatan. Aksara berlabel Ajal Saya Sudah Dekat merona dalam adrenalinku. Nama pemilik kata-kata di atas tertera jelas di halaman pertama surat kabar ini.

Helena. Itulah pemilik nama yang lazim disapa oleh setiap orang. Ia hadir dalam aksara bisu ini dan mengusik ketenangan jiwaku. Kata-katanya tenang. Sedikit menyibak ketakutan yang ada dalam benaknya. Ia harus menanti ajal dalam jeruji besi tua. Sedang dalam nalurinya, ia menyembunyikan seseorang yang seharusnya akan mati bersamanya.

****
"Bram, aku rasa sudah waktunya kita harus melepaskan belenggu yang menemani hidup kita ini. Aku tahu ini mungkin sulit, tetapi biarlah kesulitan ini menjadi pijak awal untuk kita sadari bahwa hidup bukan hanya mudah. "Matanya sayup memohon. Ada ketakutan dalam hatinya.

"Aku janji suatu waktu kita tidak akan hidup dari pekerjaan ini. Maafkan aku yang telah membiarkanmu menjadi bagian dari pekerjaan ini. "Aku merangkul tubuhnya. Kubiarkan kepalanya mendekap pada dadaku. Mungkin dengan ini sedikit menghilangkan rasa takutnya.

"Aku akan menggantikan statusmu sebagai kurir narkoba menjadi lebih mulia lagi." Janjiku padanya sambil menatap matanya yang sayup. Sedang di luar, bulan nampak murung sambil jangkrik menemani hari yang kian larut. Ia masih dalam pelukanku.

"Aku ingin merasakan ketenangan seperti detak jantungmu, Bram. Berdetak teratur dan memberimu hidup didetik ini, Bram. Sama. Aku pun ingin ketenangan dan memberimu hidup bersamaku.

"Ia selipkan kata hatinya pada jantungku, sambil tubuhnya kudekap erat dalam pelukanku. Aku pun tak ingin kehilangannya.

Aku tak punya banyak kata untuk membingkai hatinya yang perih di detik ini. Hanya asa yang sekarang ada bersama detak jantungku. Dan ia pun ada bersama asa dan detak jantungku ini.

Halaman
12
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

5 ABG Digerebek Hendak Gelar Pesta Seks di Makassar, 3 Gadis Masih di Bawah Umur

Berita Populer