Kanal

Puisi: Pada Gerimis Terakhir

ILUSTRASI - istimewa

Puisi Gerardus Bibang

Cuma Sekedar Angka

hari-hari bergumpal dalam tahun berjumlah tiga dasawarsa
di luar sana, hidup yang sakral, sudah mati
di sana-sini tinggal hanya materi
 
tetes-tetes gerimis jatuh dalam rombongan kecil di ujung matanya yang sepi
kekasih bergeming dari detik-detik bersiur tanpa angka
acuh dari suara-suara berdesak tanpa arti
tetes-tetes gerimis terakhir jatuh sendiri
pasti ini untuk yang terakhir kali
kekasih tetap bergeming
ia tahu kepada SIAPA, ia percaya
segala yang terjadi ada gunanya
meski belum jelas untuk apa peruntukannya
 
gerimis terakhir kian deras
air mata kekasih mengucur, bergumpal-gumpal
ingin ia keringkan tapi untuk apa
gerimis sudah cukup menyadarkannya bahwa percuma untuk mengeringkannya
 
(gnb:minggu:jkt:23.3.14 )

Untuk Biru

terbentang hijau itu
seakan tanpa penghujung dan tanpa cakrawala
terbentang di bawah naungan biru
menyapa sesosok biru yang sedang berkembara
 
entah untuk apa dia berkembara, tak satu pun yang tahu
langkahnya yang sudah dimulai dengan hitungan satu
tak akan lagi dia berlangkah surut
 
cinta menjadi-diri terus membekas di dalam kepala dan hatinya
di antara riuh pasar tengik dan kecamuk rasa yang tak berkesudahan
cinta yang sama membuatnya bertahan
untuk tegar demi  menyentuh kaki langit
meski sebelum sampai di sana, dia mungkin sudah mati
 
menatap ke bentangan hijau
yang tanpa penghujung di bawah naungan biru
dia bertanya dan terus bertanya:
"apakah karya yang digarap dengan telaten ini sungguh-sungguh ada gunanya?"
 
dia menengadah lagi ke langit biru
naungannya yang sejuk menetes ke ubun-ubunnya
padahal dia tidak pernah memintanya sekalipun
juga tanpa peduli entah langit setuju atau tidak setuju
 
"ah, kecamuk rasa hanya bagai gerhana!"
begitu dia berucap dalam sanubarinya
"gerhana dirasa gelap karena sekarang belum tahu untuk apa peruntukannya!"
 
(gnb:jkt:18.3.14:selasa)

Di Depan Kekasih

bening air muka dan sinar matanya
di sebuah paruh waktu, di ibukota
senyumnya yang terkulum di balik pintu
sensual sekaligus dingin
saat matahari menyingsing di ufuk timur
membuat mata yang menyimak bagai nuansa alam mimpi
 
sejak lama ia terperangkap dalam kepedihan
yang ia sebut sebagai kontradiksi yang tak kasat mata:
"ada bersama namun sekaligus sendirian
berdua namun sekaligus sendiri-sendiri
ramai namun sekaligus sepi
tertawa namun sekaligus lara
dekat namun sekaligus menjarak"
 
apakah kepedihan selalu berbuntut perih?
mestikah bersepi-sepi di depan kekasih?
haruskah berpuasa di depan TUHAN yang adalah YANG ADA?
pertanyaan-pertanyaan itu terbuang ke udara
menembus langit-langit kamar
bergabung dengan debu yang tercecer angin
dan melarung ke dalam deru gelombang samudera
 
sambil menyeruput secangkir teh hangat dan ngemil sesuatu yang entah apa
ia berucap lantang apa yang diyakininya dari lubuk hatinya paling dalam:
bahwa dalam rasa cinta, kesepian itu pedih namun indah
bahwa ruang dan waktu bagai kehilangan ukuran
bahwa merapat raga adalah hal niscaya dalam keintiman jiwa
 
saat itu, sinar mentari pagi sedang menyingsing
menyusupkan kehangatan bagi semua yang berkehendak baik
 
(gnb:minggu prapaskah: jkt:16.3.14)

Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang Cetak

Ditangkap Polisi, Terduga Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi Ternyata Saudara Korban

Berita Populer