Kanal

Hujan di Biara

Ilustrasi - Net

(Surat Untuk Tuhannya Grace)

Cerpen Hans Hayon

* 2000
MUNGKIN akulah wanita pertama yang berani menangis karena sebuah biara. Kegeramanku memuncak saat panggilanku makin sekarat hanya karena lilitan aturan hidup yang baku. Kaku. Aturan yang membuatku terpaksa beranjak pergi, sebelum jatuh ke dalam pelukan pemuda tetangga sebelah. Apakah ini sebuah dosa? Apakah mencintai itu sebuah dosa? Yang lebih tua itu cinta ataukah agama? Tuhan itu sesuatu ataukah seseorang?

Sesudah menemukan kebuntuan atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut, aku putuskan untuk mengakhiri ziarah panggilanku sebagai seorang biarawati. Hal yang lumrah bukan, jika seorang wanita sepertiku melakukan hal demikian dalam situasi terjepit?

Jawaban kalian menentukan masa depan Gereja Katolik di dunia. Mungkin juga masa depanku.
                ***

* 1999
Setelah lima tahun menjalani hidup sebagai seorang wanita desa, Grace akhirnya kembali jatuh cinta. Kali ini, pemuda berwajah tampan itu berhasil meluluhkan hatinya, ketika untuk kesekian kalinya mereka berpapasan selepas perayaan Ekaristi di Gereja Hati Kudus Yesus-Nita. Di setiap larik doa yang tersembul dari gemetar bibir umat, terselip harap sentosa bersama tatapan panjang tanpa kedip. Grace gagal terpana.

Gerbang neraka seakan melebar pada cinta jenis ini. Cinta yang diharamkan oleh agama, masyarakat, tradisi, dan mungkin Tuhan juga. Grace hanya sanggup menafsir jawab dalam kebingungan yang melangit. Rasanya gejolak yang bertumbuh, kini terlalu kokoh untuk dirbohkan oleh tradisi gaya berpikir konservatif seperti itu. Bahkan oleh maut sekalipun, gemetar terhadapnya.

"Aku mencintaimu setelah tak tahu bagaimana harus menyesali perasaan itu," ujar Grace ragu, ketika lonceng gereja berdentang pertama kali tepat pkl. 06.00 WITA.
"Sulit kutebak! Kamu mencintai seseorang ataukah sesuatu dari seseorang?" gugat lelaki itu serius.

"Aku mencintaimu karena aku mencintaimu."
"Kamu cenderung bersembunyi di balik tautologi itu. Seandainya aku, mungkin tidak!" jawab lelaki itu pergi, setelah meninggalkan sesungging senyuman.
Grace sadar. Zaman ini, ketika cinta ditertibkan, benci semakin dikoordinasi. Sebuah zaman di mana segala sesuatu patuh berjalan sesuai aturan, nilai, dan hukum yang berlaku unuversal. Tertinggal perasaan dan gerutu tiada akhir tentang sesuatu yang dideritanya saat ini: Mencintai sebuah dosa.
"Apa?

Kamu benar-benar mencintainya?" tanya Ratih, sahabat karib Grace. Lebih tepatnya, kawan curhat ketika ia dilanda persoalan hidup terutama yang berhubungan dengan perasaan dan degup tak karuan jantungnya. Selalu saja Ratih menjadi tumpuan amuk gelora badai di hatinya.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

Viral Reaksi Ketum PSSI Edy Rahmayadi Menutup Wawancara Sepihak, soal Insiden Tewasnya The Jak Mania

Berita Populer