Kanal

Gara-gara Ikan Asin

Ilustrasi - Net

Cerpen Alfred Tuname

HARI Senin memang hari pertama sekolah yang paling membosankan. Setelah liburan Minggu dengan ceria dan kelelahan, seharusnya hari Senin ada waktu jeda panjang untuk memulai mata pelajaran. Paling tidak, upacara baris-berbaris pagi ditiadakan.

Kenapa sih sekolah harus pakai baris-berbaris? Sebelumnya, suster memaksa kami untuk mencatat nama Injil beserta bab dan ayatnya saat ibadat di gereja pada hari Minggu. Pekerjaan ini memang mudah. Bukan karena mudahnya, tetapi karena takut akan siksaan maka aku mencatatnya. Setiap hari Senin setelah upacara baris-berbaris, suster kepala memeriksa catatan itu. Minggu pagi, tubuh sudah terasa lelah memikirkan siksaan itu.

Tubuhku sejatinya perlu bersenang-senang setelah saban hari dipecut tugas-tugas sekolah. Setiap hari sekolah, aku menjadi seperti bunglon di atas kayu, selalu siap sedia mendengarkan beberapa guru malas yang mengajar di tiap pergantian waktu pelajaran.

Guru memaksa kami lebih aktif di kelas, sementara setiap pertanyaan dijawabnya dengan bentakan. Beberapa guru selalu membawa sepotong kayu ke kelas. Mungkin mereka terinspirasi dari tongkat kecil yang sering dipakai para jenderal. Dengan kayu itu juga, murid-murid disangka ngeyel dipukul. Ah, semoga saja kelak bunglon tidak lantas menjadi kayu.  

Suatu waktu, dalam perjalan sekolah aku pernah berkhayal. Khusus hari senin, jam masuk sekolah bukan jam 07.15, tetapi jam 09.00. Dengan begitu, aku tak terlambat lagi ke sekolah. Artinya, upacara baris-berbaris tidak ada. Tetapi khayalan tinggal khayalan, seperti mimpi yang terpental di atas batu.

Khayalan tidak belaku di sekolahku, SMP (Sekolah Menengah Pertama) St. Stanislaus. Aturan di sekolahku ini sangat ketat. Khayalan tidak diizinkan sebab mengganggu kenyamanan sekolah. Datang ke sekolah harus tepat waktu. Setiap murid harus berseragam lengkap, dari topi hingga sepatu hitam dan berkaos kaki pula. Jika saja, seragam putih-biru belum kering karena hari Minggu hujan, pilihan mending tidak usah bersekolah. Hasilnya nihil. Suster kepala tidak mengenal niat kami bersekolah, tetapi pada kelengkapan seragam sekolah.

Hari Senin ini pelajaran sekolah terasa membosankan. Ilmu tidak masuk kepala. Keletihan mengambil semua energi yang harus berkonsentrasi pada pelajaran.

Liburan Minggu yang indah sudah mengambil semua energi dan semangatku. Bermain ombak bersama teman-teman pinggir pantai membuat jiwa terasa bebas dan lepas ceria. Ceria bersama teman-teman di alam pantai yang mengajari kebebasan dalam kebersamaan. Alam pantai juga menggiring batas kemampuan kami menghadapi kedahsyatannya, meski dalam kebebasan.

Sekolah dan pantai mengajarkan nilai-nilai dengan cara yang ekstrim berbeda. Sekolah menuntunku dengan bakunya aturan yang membuatku bertanya akan kebebasan. Alam pantai mengajariku tentang kebebasan sehingga menyadarkanku akan keterbatasan diri. Sekolah dan pantai nyaris sama-sama unggul membentuk pribadiku.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

Viral Wanita Terobos Rombongan Presiden Jokowi dan Acungkan Jari Tengah, Tabrak Polisi yang Mengawal

Berita Populer