Kanal

Arti Satu Menit dalam Cinta

Ilustrasi - Net

Cerpen Ronny Manas

MUNGKINKAH cinta dapat mati? Sore itu pertama kali kamu tak mengenalku dan terakhir kali kamu menyapaku setelah sekian lama kita melewati aneka musim dalam suasana mahaakrab. "Mt zre.mf ne DgN Zpa?" Sepenggal pesan penuh tanya yang menyeretku pada diam yang kosong. Senja yang mulai merayapi punggung bebukitan tempat aku menggantungkan harapan nampak lemas tak bergairah. Semilir angin petang yang mengaliri bumi tempat aku menitipkan sebait ucap untukmu pun turut terbunuh kala itu.

Aku dalam sebuah kehampaan, kekosongan yang sungguh bugil. Kesanggupan untuk menggambarkan rupa dan kejamnya sore itu pun ditelan ketiadaan. Entah kapan petang itu benar-benar pergi dan malam yang menenun mimpi-mimpi makhluk bumi bertandang. Aku seakan tak ada di sana untuk menyadarinya sembari menyaksikan saat-saat terkhir ia menggantung di ujung cakrawala dan aku akan menitip sepotong rindu untukmu.

Kekuatan dahsyat yang terpancar lewat penggalan pesanmu melumpuhkan kesegalaanku. Hitamnya malam menyempurnakan semuanya dengan menghapus semua kebebasanku untuk sedapat mungkin mengejarmu, memanggilmu kembali selepas semenit berselang. Kecuali Nokia kumalku. Sayang ia pun seakan tak bertaring untuk menggali alasan kepergianmu yang tersembunyi di balik keputusan yang terlampau dini tanpa busana. Kau pergi sore itu, entah ke mana dan dengan siapa? Atau pun sendirian.        

            ***
Hari-hari yang kulalui mengalir dalam waktu tak bertepi dan berparas  bening. Entah siang entah malam. Langkahku tak lagi memiliki daya untuk meninggalkan bekas pada bumi. Sesekali bibirku masih bergerak menyanyikan cinta walau tak ada lagi yang mendengar dan menyahutku. Lalu kubernyanyi di matahari, memetik gitar di rembulan dibalik bening mata air yang tak pernah ada air mata.

Malam-malamku tampak bertelanjang raga. Rembulan sang rupawati malam pun tak lagi kudapati sesungging senyumnya. Apa lagi kedipan mata para laskarnya. Yang ada hanyalah hamparan kekosongan yang mahaluas beratapkan langit biru. Pancaran keemasan sang raja siang yang biasanya menyelimuti moment-momentku, lebih-lebih ketika bersamamu nampak pucat. Tak ada lagi daya yang memacuku untuk menjadi pria yang agresif dengan seribu mimpi tentang hari esok digenggaman. Ya, hari-hariku tampak begitu putih lantaran langkahku yang mandul melahirkan setitik noda pada lembarannya.  Mungkinkah ini yang dinamakan hidup yang katiadaan cinta yakni sama dengan kematian yang tak disadari.

                ***
Sepekan berselang aku berlari ke tengah rimba dan mencarimu di sana. Yakinku, waktu telah membopongmu ke sana. Aku menelusuri keanggunannya walau rahimnya nampak tercabik oleh cakar-cakar tak bertanggungjawab. Di tepi bibir sumur tua peninggalan para penjajah ratusan tahun silam  yang terletak tepat di jantung rimba itu aku meneriaki namamu, sangkaku kau tengah memandikan ragamu sekedar mengusir sengat musim panas yang mulai berangsur pergi. Aku tak mendengar sahutanmu kecuali beningnya air yang begitu tenang. Aku berlari menghampiri dahan pepohonan perawan yang bersinggungan satu sama lain dengan begitu mesra karena pikirku jangan sampai kau ingin mempelajari arti sebuah persahabatan yang sesungguhnya. Namun tak juga kau kudapati. Aku mulai letih dan mengadu pada bumi sang pemilik kesabaran. Entalah kalau aku ingin meminjam kesabarannya lantaran tersentak petuah klasik para tetua bahwa hanya orang yang sabar yang pantas memiliki kesempatan emas untuk menggapai mutiara hidupnya.            

                ***
Ketika terpenjara dalam sabar yang tak beralasan...
Lagi pergantian jadwal apel antara fajar dan rembulan tak lagi kusadari. Malam-malam yang kulewati tak lagi memiliki perbedaan dengan hari-hari yang kutelusuri. Keputusan yang tentu adalah kejujuran bagimu telah membunuhku dengan menceraikan jiwa dan kesadaranku lalu menawanku pada ketiadaan dan pencarian tak bertepi. Malam dan hari-hariku mengalir-berangsuran pergi dan menghilang. Aku tak lagi memikirkan sehari-seminggu-sebulan dan seterusnya seraya membangun rencana karena segala sesuatu yang datang dan pergi-yang merangkul dan melepaskanku terbunuh dalam satu menit seperti ketika kau mengatakan `tidak' untuk "ya" yang dijaga bertahun-tahun, bermusim-musim dan berlarut-larut. Dan saat itu kesadaranku dimangsai keterlenaanku akan ucap yang berselimut janji tentang cinta, yang bermandi harapan antara kau dan aku tentang suatu masa-suatu hari pada musim dan satu menit yang tepat. Aku terlambat memikirkan betapa singkatnya hidup yang bisa saja dialami oleh setiap orang apa lagi cinta. Bahwa ketiadaan itu akan datang bagai pencuri juga dalam waktu yang berada diluar dugaan setiap makhluk bahkan bagi mereka yang tak pernah berhenti berpikir sembari menafsir takdir sekalipun.

Sungguh kemiskinan telah melebur dengan adaku kecuali pengaduanku pada pemilik waktu. Bahwa waktulah yang merahimi aku dan semua kejadianku. Ia yang memiliki catatan tentang saat pertama aku mengenal dunia, mengenalmu-berjalan bersamamu hinggal tentang satu menit yang merahimi sebuah keputusan untuk mencintai dan tak mencintai lagi. Kepada waktu kukisahkan rupa kehidupanku "betapa hari-hariku telah kehilangan bentuk pada bumi yang remuk, pada detik yang telah menelan kehidupan yang sarat harapan lalu meninggalkan luka tatkala bayang terbayang terbang menghilang dan aku hanya mampu memeluk bayu yang aku tak pernah mengetahui asal-muasal datangnya. Aku kini hanya menemukan mataku yang menjerit oleh duri-duri nostalgia ketika aku mengenang perjalanan panjang yang memunggungi kejadian-kejadian selama bertahun-tahun. Aku masih menyimpan rindu pada sosok yang semula datang bagai putri kayangan yang menguping bisik bayu sembari menyibak lalu memetik mahkota rerumputan padang. Dan aku hanya menemukan kesendirian dan pencarianku.

" Pengaduanku selesai dalam diam yang mengalir begitu anggun. Dan kukirim ini untukmu yang pergi bagai bayang di telan pekat, akan kudatangi tempat-tempat yang kita  singgahi maupun yang kita janjikan untuk didatangi berdua pada musim-musim liburan panas dan Desember yang menggigil.

Aku tahu kau tak akan ada di sana, aku hanya ingin memungut remah-remah rindu yang tentu masih tergenang pada lelikuan jalan dan punggung bumi. Bahwa cinta pada sisi lain tidak mesti dipaksakan untuk dimiliki tetapi dimengerti dan dihargai karena ia sungguh menginginkan kebebasan untuk terus mengalir kemana ia mau dan kepada siapa ia akan menyatakan dirinya. Ia begitu dahsyat, begitu besar karenanya meski hanya semenit ia mampu menciptakan kejadian besar yang menyukakan maupun menyayati hatimu yang harus kau tanggung bermusim-musim dalam jalan-jalanmu. *

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

Video Viral Jokowi Hormat Sendiri saat Indonesia Raya Berkumandang, Begini Menurut Undang-undang

Berita Populer