Kanal

Duka di Ujung Cinta

Ilustrasi - Net

Cerpen John Tubani

IMPIAN dan cinta senantiasa mengalir bersama abadinya jiwaku. Walau mungkin kadang impian dan cinta itu akan terkikis oleh waktu. Namun kuyakin, impian dan cintaku akan saling menguatkan, seperti indahnya senja manakala mendekati malam, dan terangnya rembulan, ketika dijemput indahnya mentari pagi.

Hidupku kini seakan terasa hampa. Aku seolah telah rapuh dan tak berdaya lagi, menelusuri alur kehidupanku yang penuh tantangan. Kepedihan dan kesepian hati membantaiku habis-habisan. Jiwaku tak sanggup lagi menanggung beban hidup, layaknya seorang nelayan yang berjuang melawan derasanya arus gelombang yang menghantamnya  dari segala sisi. Sesaat kuterlupa akan hakikat kegelisahan hidupku dan menjumpai jiwaku yang terembunyi di balik pernik-pernik pelangi.

Tak kusadari sebuah perasaan mempesonakan jiwa bergerak dari kehampaan yang mampu menelusuri sudut-sudut naluriku hingga memeluk keseluruhan jiwa dengan indahnya derita yang dirajutnya dalam kepedihan. Dialah gema cintaku yang tak akan pupus. Beragam rasa memenuhi dadaku.

Impian indah yang hampir terbawa oleh derasnya arus kenistaan,terbayang kembali. `cinta akan selalu mencintai'  Tak seberapa lama, seluruh tubuhku kembali menegang. Perasanku berdebar-debar bagaikan cahaya kunang-kunang yang berkedip-kedip di tengah pekatnya malam.

Bathinku menjerit pilu sebab kumulai merasakan kesepian yang menyakitkan dan keterasingan yang mematikan.  Waktu, mengharuskan aku melewati semarak valentine tanpa roh cantik penghibur hati. Merenung? Ya. Aku hanya bisa merenung dan mencoba memahami rahasia-rahasia hidup yang kian meradang dalam kalbuku.

Mungkinkah cinta yang sering berbicara ketika lidah membisu dan akan terlihat seperti cahaya mercusuar yang menerangi kegelapan samudera? Ataukah mungkin seperti sinar matahari yang menerangi kembang-kembang melati di tengah padang ilalang? Ataukah mungkinkah pula cinta itu akan serupa  kelap-kelip bintang yng menghiasi malam di tengah kegelapan?

Ataukah cinta adalah biasan cahaya yang disembunyikan oleh kabut tipis yang menjelma dan mencerahi jiwa- jiwa yang dilandai badai kesedihan? Ya. Cinta itu sebuh realitas kehidupan yang datang dari sebuh keabadian dan akan kekal sepanjang masa. Hayalanku mendadak romantis bagaikan seorang penyair termansyur Timur Tengah "Kahlil Gibran.`

Kini mataku terpejam bersama cucuran airmata, kuulurkan tanganku seperti seorang pengemis yang mengharapkan datangnya seorang kekasih hati. Desah napasku tersendat lemah. Siapkah dia yang selalu dekat dihatiku, dan jauh dari pandanganku? Apakah dia yang selalu menggelitik seluruh tubuhku dengan imian-impian cinta yang telah lama terlupakan? Apakah sensasi-sensasi ini hanyalah bagian dari anggur khayalan yang membuat diriku mabuk dan membutakan diriku dari suatu kenyataan yang sebenarnya dapat dipahami?

Kumencoba menyadarkan diri dari mimpi-mimpi. Tidak. tidak. Dia adalah seseorang yang membuat diriku berarti. Dia yang membuat segala sesuatu yang jauh menjadi lebih dekat dalam hidupku. Dia yang mengusir segala keraguan di hatiku dari usikan sang kegelapan dan menghadiahkan aku butiran cahaya aurora yang indah.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

Haringga Sirla Tewas Dikeroyok, Bermula dari KTP Korban Dirazia Sejumlah Suporter Persib Bandung

Berita Populer