Kanal

Beli (s)

Kakak iparnya itu tak paham, di dunia ini berlaku hukum ekonomi. Kian tak langka sebuah barang, kian miring harganya. Air susu ibu sekarang bersaing dengan ratusan susu kaleng yang tidak berasal dari seorang perempuan, melainkan hewan betina di rak supermarket. Lima belas juta adalah terlampau berlebihan. Atau bukankah memberi harga pada air susu seorang perempuan merupakan penghinaan terhadap keagungan saripati tubuh yang mampu menghadiahkan kehidupan kepada seorang bayi?

"Ah..Eja. Jangan khawatir kalau soal itu. Pasti keluarga kami akan beri penghargaan yang pantas. Apalagi kita sama-sama orang Lio. Tentu kita sama-sama paham adat dan kebiasaan kita dengan baik. Tapi Eja juga jangan lupa, anak Eja harus segera diurus pernikahannya di gereja. Sebelum perutnya terlalu besar."

Ini dia yang ditakutkan sang pedagang, senjata paling ampuh sudah dikeluarkan sang pembeli. Anak perempuan itu sudah bunting, mana mungkin dia akan dihargai belis yang tinggi? Terpaksa dia direlakan dengan harga berapapun yang disanggupi, supaya secepatnya menikah dengan si laki-laki. Atau, keluarga ini akan mendapat aib. Hah, jadi, dari tadi dia cuma duduk dan berbicara disini demi tradisi yang dilakonkan kembali tanpa isi?

"Mari kita tentukan tanggalnya. Bagaimana kalau di minggu pertama, bulan empat nanti."

Sang pembeli bercuap lantang, dia sudah menang.
"Kalau Eja dan keluarga sudah beri kepastian. Kami tunggu dengan tangan terbuka."

Sang pedagang benar-benar pasrah, dia sudah kalah
Tua-tua dalam keluarga terlihat resah. Bergerak-gerak gelisah, seolah ada yang ingin dikatakan, tetapi mesti ditahan. Sang Pedagang paham, ia telah dianggap salah. Tetapi, duduk di sini dan berbicara hal ini, buatnya memang sudah sebuah salah. Dia hanya ingin segalanya cepat selesai.

"Mari kita makan!"
" Mari kita makan!"
Ujaran sang pedagang dan pembeli bersahut-sahutan.

                    **
"Panggil keluar anaknya, kalau boleh harus diperkenalkan dan ditunjukkan ke keluarga laki-laki."
Meski sudah mengenal dengan baik sosok si anak perempuan, demi tradisi, tak urung juga Sang Pembeli berbasa-basi.

"Panggil dia keluar."
Sang pedagang memberi perintah kepada anggota keluarga tanpa peran, kecuali sebagai penonton dari balik tembok.

Dua orang pria membopong sosok si Anak Perempuan yang mengenakan Lambu berwarna putih dan Lawo menutupi mata kaki.
"Inilah anak kami yang kami kasihi. Tadi pagi ia menyembelih dirinya sendiri dengan senang hati."

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

Berita Populer