Kanal

KUDA DAN SANG DOKTER

Ilustrasi - Net

Cerpen Mezra E. Pellondou

"KUDA adalah hewan tunggangan arwah menuju alam baka. Bapak telah meninggal jadi kudanya harus dibunuh"

Ibu telah menyampaikan hal itu padaku sejak seminggu lalu agar aku bisa menerima kenyataan  bahwa kuda pacu kesayangan bapak  telah mati. Ya, kematiannya mengenaskan, karena harus dibunuh. Kuda itu milik bapakku, bahkan menjadi kuda  kesayangan bapak.

"Aku masih berharap kuda bapak  akan kembali menemuiku"
"Ya, itu bisa terjadi jika kau mengharapkannya. Namun yang pasti kau harus merelakannya. Kenyataan bahwa kuda kesayangan bapak itu telah dibunuh, karena dia milik bapakmu. Dan bapakmu telah mati. Restuilah kematian kudanya. Masih tegakah kau membiarkan arwah bapakmu berjalan kaki menuju alam baka?"

Aku menangis saat ibu terus berkata-kata. Sungguh, aku menangis. Ini kedua kalinya aku sesedih ini.  Pertama waktu bapak meninggal. Seorang laki-laki dewasa menangis? Entahlah.
"Hei dokter Rua, kamu menangisi bapakmu atau kuda bapakmu itu?"

Aku bergegas ke kamar dan berharap tidak seorang pun yang mengikutiku. Saat mataku menatap dinding kamar, kudapati berbagai wajah kuda kesayangan bapak itu menggantung  memenuhi dinding kamarku.  Kuda bapakku itu tidak pernah sendirian,  selalu ada bapak di sampingnya. Termasuk ketika bapak berpose sambil menunggang atau menuntun Ameaus.  Aku tersenyum, tetapi air mataku tetap menitik. Aku menyadari ternyata waktu telah meminjamkan padaku lebih dari sepuluh  tahun menjadi joki bapakku. Dalam kurun waktu sepanjang itu, aku telah lima kali ganti kuda pacuan, namun tidak satu pun kuda-kuda itu  intim denganku seperti bapak dengan Ameaus. Hingga akhirnya aku tidak lagi menjadi joki bapak karena harus melanjutkan pendidikan keluar Sumba. Dan sekarang...aku telah kembali dengan cita-cita dalam genggaman. Aku harus akui bahwa aku pantas cemburu dengan kecintaan dan keintiman bapak pada kuda-kudanya.  Tapi..apakah dengan  semua alasan itu kuda Ameaus yang sehat dan gagah itu harus dibunuh?

Aku menamai semua kuda bapak itu dengan Ameaus.  Mulanya  bapak hanya memiliki enam kuda betina yang dibesarkan dari padang-padang pengembalaan lepas, Keruni di Sumba Barat Daya. Enam betina itu merupakan kuda lokal namun bapak berhasil mengkandangkan bersama seekor kuda jantan keturunan Amerika Australia yang bapak beli seharga enam puluh juta dari seorang keturunan raja di Sumba. 

Setahun kemudian bapak telah mendapatkan lima ekor kuda hasil perkawinan yang unik itu. Bapak akhirnya menjual semua kudanya di usia yang masih dua bulan, dan menyisahkan sepasang kuda untuk terus dikembangkan dengan sang pejantan Ameaus. Walau  masih berusia bulan, namun  harga kuda bapak fantastis, karena kuda-kuda itu Ameus atau turunan Amerika Australia, dan terbukti kuda-kuda tersebut selalu membanggakan sebagai kuda pacuan bagi pemiliknya. Bapak terus mengawinkan kuda-kuda hebatnya sehingga kami memiliki hampir lima puluh ekor kuda pacuan yang berkualitas.

Usaha bapak di bidang perdagangan kuda pacuan membuat rumah kami tidak pernah sepi. Beberapa peternak sapi juga mulai tertarik mengikuti apa yang telah bapak lakukan setelah mereka mencoba membandingkan  harga sapi yang hanya bisa dibayar lima hingga tujuh juta setelah sapi-sapi tersebut tiga hingga empat tahun dipelihara.

"Wah, lebih baik pelihara kuda pacuan saja. Lihat si Rua,  kuda-kuda pacuan bapaknya berusia dua bulan telah dihargai dua puluh hingga empat puluh juta" aku sempat mendengar para petani peternak di kampungku membicarakan tentang bapakku.
"Hei, Nak.. bapakmu hebat dan berhasil namun kenapa  kamu masih terus dipaksa bersekolah? Sebaiknya kamu konsentrasi saja pada usaha bapakmu. Bukankah kamu telah menjadi joki sejak tiga tahun? Kamu telah paham semua ilmu tentang kuda bukan?"

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

Beredar Foto-foto Awal Penemuan Jasad Korban Pembunuhan Sekeluarga di Bekasi, 2 Anak di Kamar

Berita Populer