Kanal

Ketika Cinta Menuntut Satu Kata

Ilustrasi - Net

Cerpen Ronny Manas

HARI masih buta. Hembusan udara pagi dari rahim alam yang masih bening terasa begitu lembab. Hari yang  teramat putih. Padahal para petani tengah menjamu musim tanam. Masa yang semestinya langit selalu berwajah murung lantas menangis tuk menghapus semua dahaga bumi dengan memandikannya dengan butiran tangisannya.

Memang alam tak pernah tahu alasannya lantaran langit pun selalu memilih merahasiakan alasan mengapa ia menangis. Yang pasti duka langit selalu menjadi suka dan berkat bagi bumi serentak membuktikan kuasa Sang Pengada yang menjadi tempat pelarian terakhir dari setiap insan yang kehausan.

"Para petani tentu telah berkemas untuk mendandani ladang dengan butiran benih-benih unggulan di bawa tatapan mentari" aku menduga seadanya aktivitas para petani. Meski dugaanku terdengar begitu meyakinkan ternyata aku tak mampu menyulut api ambisiku untuk bersaing dengan mereka dalam hal menabur. Ragaku justru terus kusembunyikan dibalik selimut uzur kecuali sepasang bola mataku kuluputkan dari persembunyian itu untuk mengintip alam dan sekedar mengenali orang-orang yang lewat dari cela tirai jendela kamarku. Bahwa hari yang cerah selalu menjadi kesempatan berharga bagi para petani untuk menabur benih di kala musim hujan. Mereka menabur untuk menuai, menuai untuk menabung dan menjadi orang yang berkelimpahan pada suatu masa kelak. Sebuah filosofi hidup yang sederhana dalam keasliannya.

"Berbahagialah orang yang mengisi tabung panahnya sampai penuh karena ia tidak akan dipermalukan oleh musuh." Memikirkan dan memaknai rutinitas para petani mengantar saya pada pengggalan nyanyian mazmur yang masih tersimpan disudut hati imanku dari sepotong permenungan beberapa tahun silam ketika aku tinggal di sebuah komunitas frateran. Mungkinkah akan ada kompetisi massal suatu hari nanti? Namun bukankah persaingan selalu akan melahirkan kecenderungan untuk saling menjatuhkan satu sama lain ketika kita kalah bersaing dan tidak menerima kekalahan? Bukankah hal ini yang tengah dipertontonkan oleh para elit akhir-akhir ini? Aku mengomentari ayat mazmur itu sekenanya. Pergulatan di bibir hari yang ekstra fokus dan memacu kerja otakku lebih agresif lagi kreatif mencari  solusi atau lebih tepat jawaban ketika aku mencoba mencerna sebait kisah hidup dari keseluruhan hidup yang tengah dilakoni para petani semakin menarik.

Mentari dalam langkah penuh wibawa terus bertapak memanjati punggung langit mil demi mil. Sengatan teriknya ketika mulai mengubun ternyata tak kuasa melumpuhkan kokohnya hasrat untuk berkutat dalam pergulatan itu.

 Di benakku terus berkeliaran ide-ide liar yang berpacu dan saling menyerang guna memperoleh pengertian tentang hidup yang masih diakui sebagai sebuah  misteri. Rutinitas para petani atau lebih tepat memikirkan ayahku yang adalah seorang petani tulen bergentanyangan menyarati alam pikirku. Menebas, membakar, membalik, menanam, menuai, menyimpan. Kronologi kerja ala petani di kampung lagi-lagi kubentangkan untuk kupecahkan.

Betapa sederhana kehidupan yang mereka jalani. Mengakrabi alam tempat mereka menyusui kelaparan dan rasa haus dari rahimnya begitu terasa. Hidup berdandankan suasana tanpa persaingan, perdebatan, kecemburuan apalagi fitnah untuk saling menjatuhkan. Cerita seputar perampokan, pencabulan hingga pemerkosaan apa lagi korupsi menjadi hal tabu di mata mereka untuk dibahas. Sebuah keadaan tanpa chaos sebetulnya terkandung dibalik filosofi hidup mereka. Karena cinta adalah dasar pijaknya. Memang cinta selalu mengatakan kebahagiaan, kedamaian dan sukacita yang menuntun orang untuk melakukan dan selalu mengalami kebenaran dalam hidup.

Senja perlahan merapat. Tatapan mentari mulai melemah, perlahan menunduk dan merendahkan pandangan lantas tampannya pun memudar dan melunturkan langit. Detik-detik  terakhir hari yang cerah. Aku masih mengintimi pergulatan itu. Pergulatan tentang hidup yang terlampau luas dan dalam untuk kutelusuri dan kupecahkan dengan kedalaman akal budiku yang hanya level SLTA.

Mengapa cukup sulit bagiku untuk mengerti hidup, padahal aku ini hidup dan tengah menjalani hidup. Entah ini yang dinamakan berlogika atau berfilsafat yang pasti jiwaku merontak kala itu. Sementara itu, kegelapan mulai merayapi dinding setiap gubuk yang berpenghunikan yang hidup, selepas terkuburnya mentari ke dalam dasar samudera. Tenang, sunyi, gelap, pekat adalah ciri khas ketika bumi ketiadaan mentari dan aku selalu lebih senang menamainya saat yang tua karena malam selalu menjadikanku bak seorang tua yang tak mampu menuntaskan pekerjaan yang masih tersisa dan tertunda.

Halaman
12
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer