Kanal

Gadis yang Hidup Karena Puisi

Ilustrasi - Ist

Cerpen Anna Adhyatmi Riantobi

WALAUPUN mataku berkaca-kaca namun kunikmati kesendirian ini dengan ketegaran yang paling sejati.

"Adrian, masihkan kau di sana, bercengkraman dengan langit senja sembari memainkan jari-jari tanganmu? Adakah masih kau kenang percakapan kita di sepanjang pantai atau tawa kita di hutan bakau? Ketika kita bermimpi tentang rumah kecil, ada senyumku, ada tawamu dan tangisan si kecil yang akan mewarnai dinding rumah itu?" gumamku sendiri di depan cermin riasku. Tak ada jawaban selain bunyi rintik hujan yang menggoda atap rumah.

Adrian, nama lelaki bermata pualam itu. Aku mengenalnya di sebuah penggalan waktu, ketika gerimis November lima tahun silam membaptis ingatanku yang masih dipenuhi garis-garis hitam tipis, sisa-sisa kenangan yang mendesis. Jari-jarinya yang kekar mencengkram jemariku di langit senja, melantunkan tembang kerinduan. Setiap satu lagu berhenti aku membacakan puisi untuknya.

Satu puisi yang pernah kubacakan: Sayang, jika tiba waktunya aku ingin engkau menatapku lekat-lekat, pada bola mata dari tatapanmu aku menemukan jiwaku.
Sepi. Aku pandangi Adrian dari sisi kiriku. Sementara ia bernyanyi, aku lihat benang-benang rambut yang menghiasi wajahnya. Adrian diam. Barangkali ia kan terus terdiam, sampai mentari tenggelam dibunuh malam. Atau mungkin diamnya telah sukses menjadi pembunuh.

Lalu kami segera beranjak ketika langit telah gelap mengendap-endap. Aku tunggu matanya bergerak kearahku, jemarinya menggenggam jemariku. Kurasakan setiap aliran kasih sayangnya di setiap genggamannya.

 "Adrian!" kuseru namanya lugu dalam hatiku ragu, "Kau menyerupai angin."
"Percayalah!" ujarku meyakinkannya.

Ya,,,, setelah enam senja yang lalu, aku mulai berani berkata-kata dengannya. Takjub! Dia tak seperti yang kubayangkan, tidak seganjil yang pernah kuimpikan di malam-malam yang gigil sebelumnya. Adrian begitu penyayang, begitu perhatian. Dari tawanya aku tahu ada jendela yang jika terbuka, maka segalahnya untukku, akan menjadi lebih mudah. Aku suka tawanya.
"Adrian, aku suka tawamu. Apa kau tahu?"

Dan saat aku katakan itu padanya, aku juga mengatakan aku juga menyukai deru ombak di sepanjang pantai. Kukatakan juga bahwa puisi yang indah adalah ketika dalam puisi itu terangkum banyak metafora untuk menyimpan maksud yang sebenarnya. Begitulah sekiranya mengapa sepenggal puisi ditulis. Lalu aku semakin yakin, bahwa semakin datar dan mudah puisi itu dimengerti, semakin tidak puitis puisi itu.

Aku lebih suka puisi yang sederhana. Dari kesederhanaannya itu mengalir makna yang membuat kita hanyut. Lalu tanpa sadar kita terseret dan terbangun ditempat yang sama sekali belum pernah kita bayangkan. Itulah puisi yang indah. Aku sedikit menjerit.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

Viral Rumah Bohemian Rapsody di Blitar, Gaya Eropa dan Dianggap Mistis, Lihat Video Penampakannya

Berita Populer