Kanal

PUISI-PUISI MARGARETA FEBRIANA RENE

Tak Setatap

Semusim bersemi
menyemir langit-langit kusam
Kembali membiru sempurna
menanti hadirnya purnama
Sampai jauh kesana
aku masih ingat sahabat
Jangan ragu ataupun malu
merayu ombak tuk dayungkan semua masa

Tanganku melambai memanggil semua mata
Ingin hati menatap ratapan-ratapan seduh ini
Tapi mentari pagi coba pulihkan
senyumku tuk kembali  memoles lembut
Pikirmu apa kekasih?

Jangan sekadar engkau tau
betapa bersedihnya aku
Tanganmu berkeriput
kian menepuk eratan yang terasa trus mengering
Menahan peri saat merampas  
semak-semak berduri
Mungkin kakanda tak mengerti
fikirku tertuju pada siapa di padang menghijau

Dengarlah Duhai pangeran Kasih...
Itu sebuah kisah bukan
klasik demikianpun sejarah
Itu nyata saat kau berbalik menelaah
Dia tak setatap dengan
kedua mata indahmu yang berkaca

Biar ku katakan padamu sang raja
Sesungguhnya ia setatap
dengan kedua tumpuanmu
yang bersepatu
Merunduklah
bak padi menguning dari tangannya
Lihat betapa perkasanya
ia berusaha mencuil nasib
demi segenggam masa depan

Bukan hanya atau sekedar untuknya seorang
Melainkan aku, dirimu,
dirinya bahkan mereka yang entah darimana
Berilah senyummu
meski sepetik deringan gitar bermelodi
Doamu berirama satu nada
merangkai dalam melodi cinta
 
                                                                                 

Sabtu

Bagaimana dengan Sabtu?
Ada hati yang trus bertanya, Kapan ...?
Kapan aku bisa memiliki Sabtu yang indah..?
Kappa aku bisa merasakan Sabtu pada Senin..?

Bingung tak perlu kuhadirkan pada Sabtu
Semua tentang Sabtu aku tahu banyak yang rindu
Lama sekali adikku manis
Penghujung waktu selain minggu

Adakah cinta yang memerah pada Sabtu?
Ketika memikirkannya aku ingin mematuhinya
Tidak! kata sang malaikat ternama
Sabtu manjakan aku tuk menikmati kepergian lelah

Dari satu hingga enam aku tak ingat selain Sabtu
Dalam coretan setiap abadi aku ingin sabtu hadir
Dari timur hingga barat aku hanya ingat sabtu

Sabtu buat aku pulang saudaraku...
Sabtu buat aku berkumpul bersama keluarga
Sabtu buat aku tinggalkan tempat bertugas sepekan
Terima kasih Sabtuku...


Minggu


Aku menunggu kian terteggun tak meragu
Sabtu bicara,
"Ku pikir akulah yang terindah pada hari..
Tidak Sabtuku,
penghujung waktu sepekan masih minggu yang kunanti
Derai derapan berdering mendetakkan waktu demi waktu
Ada siapa saja dibalik pagi, siang, ataukah malam??
Entahlah.. sekiranya cawan tertanam dalam beningnya suci membaca hati
Air mata kasih menetes pada
gambaran embun tuk
membasu jiwa-jiwa yang membara
Gemericik aliran lembut
hempaskan bebatuan berlumut tipis
Dan seribu pipit bersiul merdu
bak seruling lagukan nyanyian alam
Lalu ciptaan Tuhan yang mulia
bergembira serukan kebesaran cinta
Oh Tuhanku..  
betapa mulianya semua ini,
semua itu dan segalanya
Terimalah syukur dan pji-pujianku
yang kan mengarung jauh
Kelak syairku menjadi doa
dalam bisikan-bisikan gerimis


 Kubuka Sejarah Lama

Seperti mimpi  terang
Pagi itu datang tanpa mengintip
Risau memisahkan rasa
dari rasa yang terbila pisau
Bagaimana mungkin
aku menangis menjerit dalam seduh
Saat semua kata selalu sama saja
aku kembali pada waktu yang pergi
Memutar memori buka sejarah lama
Di sana terukir kisah seribu nyawa
Darah mengalir bak
 sungai bergulir bebas lelap
Kumainkan intonasi
bersemangat dalam kesedihan
Darimana datangnya sang penguasa itu
Menjajah tanpa jiwa,
hanya raga semakin kekar
Aku benci membaca surat-surat kusam
Aku tak suka janji-janji palsu
Lihatlah pahlawanku,
berikan nyawa seutuh hati
Meninggalkan perjuangan dan pergi tanpa pamri
Duniaku lama sudah terjajah,
terperangkap dalam belitar berduri
Aku terniang mendayung terbawa arus cerita
Sungguh luar biasa bangsaku pahlawanku.*
   
 

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

Inilah Sosok Ibu Angkat yang Tega Siksa dan Sekap 3 Anaknya Bersama Ular dan Anjing di Makassar

Berita Populer