Kanal

PUISI-PUISI MARGARETA FEBRIANA RENE

Margareta Febriana Rene - Ist

Ingin Pulang

Ku ingin pulang
Bisik-bisik syahdu dalam buliran menetes
para pengembara  
menitik rindu dari negri seberang
ada teriakan asa membalut
salut pada tanah yang kian mengkilat
liatnya  tanah memberi
pujangga makna pada nafkah
mengais rasa,
ingin  bongkar semua belantara
ada coretan bertinta emas
di balik hitamnya mengecat
hanya ingin katakan

 "Di Negriku sendiri,
ku tak bisa hidupkan  api tuk membara  beriku arah"
Apa kata malaikat tak bersayap...
"Itulah yang engkau tatap,
mereka tak sediakan engkau bara tuk tiupkan suara"
Lalu penyair menulis sebuah syair

Wahaiii .. Engkau yang berlari
mencari dari sari-sari gandum
yang kian membendung
Bisakah sebiji  kau taburkan
pada sarung-sarung yang kosong..??
Bisakah tunjukkan tujuan
menuju puji-pujian kebahagiaan..??
Mereka ingin pulang,
secuil janjimu kan memberi mereka harapan
Tapi, tak sekedar janji,
janji harus berjanji un tuk sajikan mimpi -mimpi itu

Biarkan cerahnya sang bintang surya
membawa kabar ceria
untuk yang terceraikan tempat dan waktu
Karna dalam setiap doa mereka  
tersisip seranting sujud berjuta harap..
"Aku ingin pulang Tuhanku"                                                          



Ku Bersipu Pilu

Ku katakan dengan pintah tanpa tintah..
Tak ada lukisan polesan,
semuanya berbeda tanpa derai
Teriakan jadi latang dan
seribu syair merdu jadi bisu
Aku terluka dalam tubah yang penuh duri.

Tersayat tipis dan kian menipis
Merobek makna tanpa sebuah alasan yang pasti
Kau  buatku terperangkap dalam galaunya hati
Bingung di lema ataukah sekedar  ambigu

Tak mengerti diriku,
lagi dan lagi kau gilas semua rasa
Tuk menatapmu tak mungkin lagi
Melihatmu buraman tanpa coretan bagiku

Tak ada kenangan,
tak ada nyanyian indah
Kita tak perna bersama,
tak perna bersatu, tak perna saling cinta
Itukah maumu? Itukah inginmu?
Puaskah engkau?

Menyayat lubukku berkeping keping tanpa tipisan
Hari cerah bukan lagi untukku,
bahkan senja berpelangi enggan tersenyum kembali
Kini tak terulang lagi, ia telah pergi..

Jauh... Begitu jauh... ku coba bertahan
Tak bisa ku lawan alam yang telah
 berkehendak untukku..

Kau titipkan sejuta derita menyiksa
Hingga akupun tak mampu
Meniupkan pelita tanpa minyak,
tanpa serbuk dan tanpa abu
Hilang. hilang.. dan  hilang.. ditelan batu berdaun..*

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

VIDEO John Kei, Sosok Pembunuh Sadis Penghuni Sel Khusus Nusakambangan yang Kini Bertobat

Berita Populer