Kanal

Pantai Cinta

Ilustrasi - Net

Cerpen  Joe Wassa

BUIH
putih ombak membelai mesra bibir Pantai Nanganesa, Ende. Sang jejaka di ujung senja menatap jauh menembus batas cakrawala. Tatapannya begitu jauh kearah mentari yang perlahan mulai meredup atau mungkin juga kearah puncak Gunung Meja di depannya.  Matanya seakan menerawang jauh mencari-cari sesuatu di pantai ini.
Lelaki itu kemudian berjalan menyusuri setiap lekuk pantai ini, sesekali ia tersenyum pada hembusan angin sepoi yang menerpa tubuhnya. Senyuman kerinduan yang menggebu.

Dari mulut seorang bocah pantai bernama Kure, akupun tahu kalau jejaka ini bernama Vriq. Jejaka dari Mbongawani yang selalu terkenang akan romantika Pantai Nanganesa yang tak pernah pudar. Perjalanan waktu tak mampu menghapus setiap jejak romantika yang selalu mendekap lubuk hatinya hingga kini.  Pongah dan egolah yang memaksa sang jejaka terpaksa berpisah dengan sang kekasih hatinya Tesha. Gadis manis blasteran Rote-Flores.

Dalam kesendiriannya Vriq seakan kembali mengenang kisah yang pernah terukir di sini. Ya kenangan saat dimana sebuah ikrar tertancap kuat di dinding-dinding karang. Ketika Tesha melempar senyum penuh pesona.  Diulurkanlah tangannya untuk menggandeng tangan Tesha penuh kemesraan untuk menikmati pesona pantai disaksikan nyiur kelapa dan derai ombak yang tersipu. Sepotong pulau Koa menjadi saksi ketika Tesha bergelayut mesra dalam dekapannya sembari lantunkan kidung cinta.

Butir-butir pasir seakan menghadirkan setiap jejak cintanya bersama Tesha didalam memory otaknya. Bayang - bayang Tesha seakan hadir menemani kesendiriannya di pantai ini. Terangkum jelas dalam benaknya ketika dengan penuh luka di sekujur tubuh ia menjemput Tesha yang kala itu sedang bercengkerama dengan dinding-dinding batu cadas di tangga alam. Tatapan cinta Tesha yang meneduhkan itu yang membuat luka di tubuhnya seketika sembuh tak berbekas.  Diboncengnya Tesha meliuk-liuk diantara jalanan berbatu dan berliku dengan motor GL bututnya. Keduanya tertawa riang hanyut dalam buaian cinta.

Penggalan kisah yang terbingkai didalam sanubarinya begitu merasuki dalam sedalam kerinduannya akan sosok Tesha. Gadis pujaan hatinya 14 tahun silam yang masih selalu bertahta didalam jiwanya. Tesha tak pernah tahu kalau luka di tubuh Vriq  14 tahun silam itu merupakan bukti betapa cinta begitu kuat mengikat Vriq hingga rela terluka berkelahi demi mendapatkan Tesha. Perjuangan cinta itulah yang tak mungkin ia lakukan untuk gadis lain.  Pengorbanan demi sebuah asa masa depan yang terbentang. Langkah kakinya diikuti gumpalan awan pekat keraguan yang berarak penuhi ruang batinnya  untuk menjemput impian cinta bersama Tesha atau justru mengkaramkan cinta didasar lautan asmara yang biru.

                    ***
Pantai Charita akhir 2001. Pelangi tergolek di batas horizon.  Aroma ikan bakar menelusup tajam. Suara deru ombak berderai seperti menyanyikan tembang tentang kesucian cinta.  Cinta suci dua anak manusia  yang telah terpupuk jauh di pantai selatan Ende berlanjut di Charita, Ujung Barat Jawa. Mengalun lembut selembut untaian kata-kata cinta yang keluar dari mulut keduanya. Masih dengan senyum dan keceriaan yang sama berkumandang tentang cinta sejati yang tak pernah mati.  Bergandengan tangan mengayunkan angan coba meraih harapan tentang cinta yang alami terbentuk dari kokohnya alam tanpa kontaminasi.

Kembali bercengkerama mengukir kenangan. Melontarkan janji suci untuk setia sehidup semati dihadapan alam. Saling suap gurihnya ikan bakar silih berganti diselingi tawa ceria sungguh semakin meyakinkan dunia bahwa hanyalah maut yang mampu memisahkan kedua anak manusia ini. Kekuatan cinta seolah terbukti meruntuhkan segala beda yang tercipta. Ramai pengunjung pantai tak lagi dihiraukan demi sebuah alasan yang suci: cinta.

"Jao tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun," Ucap Vriq.

"Hmmm..gombal," tawa Tesha manja.

"Jao ngestei serius ni...mau disambar gledek atau badai?" tanya Vriq setengah bercanda.

"Janganlah...kan kasihan kalau kau disambar nanti Jao dengan siapa?" jawab Tesha.
Keduanya semakin larut dalam dekapan cinta. Merangkai setiap kebersamaan. Desiran angin dingin menguatkan cengkeraman keduanya untuk tak saling melepaskan. Pusaran waktu yang tepatlah yang kini dinanti keduanya untuk bersanding di pelaminan. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah keduanya. Dua anak manusia ini serasa ingin memutar waktu secepatnya agar bisa segera bersatu  dalam ikatan suci yang abadi. Bangku kuliah harus segera diselesaikan. Begitulah komitmen keduanya.

                ***
Setahun berselang. Di kaki Gunung Merapi keduanya terjebak kerumitan cinta. Bersanding dalam pertengkaran hebat. Tak lagi akur apalagi mesra. Saling menuding satu sama lain menjadi bumbu yang tak terelakkan. Ketidakpercayaan menjadi sumbu yang menyulut api cemburu. Gemuruh emosi bercampur dengan kata-kata yang tak pantas terucap. Keceriaan seketika sirna. Kebahagiaan tiba-tiba kabur, terhempas.  Membuncah di langit biru Jogjakarta. Tangis pun pecah.

"Kau terlalu sekali ndoe," ucap Vriq lirih.

"Mae gare rewo kau!! Kau tu yang patut dicurigai sengaja tuduh saya," balas Tesha.

"He.kau tu yang sudah jelas-jelas tidak bisa dipercaya," kejar Vriq.

"Jadi kau dengan itu perempuan ata Jawa tu kau bilang apa? Kau pikir saya juga tidak sakit hatikah dengan kau?" sambar Tesha sembari terisak.

"He ko kau mae bawa-bawa Ajeng cari alasan untuk menutupi kau punya," tangkis Vriq.

Tesha dan Vriq bukan saling merangkul melainkan saling menyerang. Ego mereka mengalahkan cinta yang telah terjalin lama. Satu pihak merasa benar begitupun sebaliknya. Perasaan mereka telah dikalahkan oleh naluri dan logika. Hilang sudah semua asa dan rasa. Lenyap seakan tak pernah tercipta.  

Setiap pertemuan dihiasi pertengkaran dan pertengkaran. Setiap pembicaraan hanya tertuju pada titik yang membuat mereka bertengkar dan memilih jalan perpisahan yang kelam. Walaupun di sudut ruang batin mereka sesungguhnya menolak keras kenyataan pahit ini. Apa mau dikata manusia boleh berencana tetapi Tuhanlah yang menentukan.

Sebuah kata maaf sudah tak lagi berarti. Tembok cinta yang begitu kokoh seketika runtuh oleh kesucian yang terabaikan. Sesal memang selalu datang terlambat tapi sesal juga tak berguna bila penyesalan terbesar sebenarnya ketika mereka mengabaikan perasaan cinta pada diri mereka masing -masing hanya karena sesuatu yang mencemari lautan asmara.

Airmata keduanya bertaut didalam lembah kepedihan. Terpuruk keduanya di sudut kota Jogjakarta. Keremangan menjadi hiasan hati mereka. Airmata mengalir deras genangi ruang batin mereka. Jarak yang dekat terasa jauh. Yang terlihat menjadi tidak terlihat lagi. Pekatkan semua prasasti suci tentang cinta. Ingin merengkuh sepenuhnya kekuatan cinta itu seperti sedia kala tetapi kekuatan cinta yang begitu kuat merobek-robek sisi manusiawi dua anak manusia ini.

                    ***
Petikan sasando mengalun pelan. Dentingan dawai kerinduan terdengar menyayat hati. Debur ombak keras menghantam pantai Nembrala - Rote.  Seakan menanti balasan rindu dari seberang lautan. Perasaan yang tak terbantahkan tentang damainya cinta. Bergemuruh dalam dada Tesha. Sahut sang jejaka tak jua terdengar. Mungkin butuh waktu untuk pemulihan mental yang terkoyak.

Tidak. Jikalau ia benar-benar mencintaiku tentu ia memaafkanku dengan segala khilafku seperti aku telah memafkannya. Kata hati Tesha sembari terus menanti terbitnya mentari yang memancarkan harapan baru tentang cinta yang tertanam begitu kuat untuk seorang Vriq. Masihkah membekas dalam hatinya??gumam Tesha pada setiap hempasan ombak yang datang menghampiri.

Rentang waktu masih berpihak pada keduanya. Tesha masih menunggu Vriq untuk menjemputnya seperti  14 Tahun silam. Di sudut pantai Nembrala Tesha berharap - harap cemas.  Tesha menarik napas dalam dan berbisik lirih pada semilir angin senja,

" Jemputlah diriku Vriq tidak dengan bilur-bilur luka di sekujur tubuhmu tetapi sebagai seorang ksatria cinta yang mengagungkan cinta. Jadikan pantai ini pantai impian cinta seperti yang pernah kau ucapkan bahwa cinta kita ibarat sebuah fenomena alam."
Aargghhh..aku sampai tak sadar kalau malam telah menjemputku. Cerita dari mulut Kure berakhir ketika temannya yang kukenal bernama Ziz  datang memanggil Kure untuk segera melaut. Aku pun pamit dari hadapan keduanya. Sementara Vriq sudah tak lagi terlihat disudut pantai Nanganesa yang semakin terlihat eksotis dibawah pancaran purnama. *
    
Jao : Saya, Mae: Jangan, Mae gare rewo: jangan ngomong sembarang. Ngestei: katakan/beritahu

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang

Ditemukan Tewas di Sawah, Mahasiswi Aceh Ternyata Dibunuh Pacar karena Alasan Ini

Berita Populer