Kanal

Rendah Hati dan Dekat dengan Tuhan

SEJAK pagi Mega sudah mandi dan berpakaian rapih.  Hari itu adalah hari ulang tahun  TNI Angkatan Udara. Ayah berjanji  akan mengajaknya terbang bersama helikopter yang selama ini menjadi sahabat setia Ayah dalam bertugas mengawal wilayah udara  negara.

Kebetulan komandan Ayah mengijinkan Ayah dan teman-temannya untuk mengajak keluarga serta warga masyarakat lainnya untuk terbang bersama helikopter itu. Helikopter yang dipiloti Ayah itu berukuran besar sehingga bisa mengangkut banyak orang di dalamnya.

Saat menaiki helikopter terdengar suara riuh anak-anak.  Mereka girang karena diajak orangtuanya naik helikopter. Kesempatan berharga yang belum tentu diperoleh teman-teman seusianya.  Tidak terkecuali Mega, dia sangat senang. Namun ketika helikopter mulai lepas landas, semua terdiam. Apalagi ketika mereka melihat lapangan tempat  upacara makin lama semakin kecil. Begitu juga dengan kendaraan yang melintas jauh di bawah, tampak kecil seperti mainan. Mega mempererat pegangannya pada tangan ibu. Dia takut akan ketinggian. Setelah seperempat jam berputar-putar di atas kota, helikopter itu pun kembali mendarat.

                    ***
"Yah,  Ayah sungguh hebat. Bisa menerbangkan helikopter dan membawa kami berputar-putar di atas kota,"  puji Mega ketika mereka sudah bersama-sama kembali di meja makan pda malam harinya.

"Ini semua dapat Ayah capai berkat bakat dan kemampuan serta kesempatan yang diberikan Tuhan sehingga Ayah dapat mengikuti pendidikan pilot dan bertugas di kesatuan Ayah sekarang. Tuhan pula yang menganugerahkan Ayah komandan serta rekan kerja yang baik, sehingga dari hari ke hari Ayah dapat terus belajar untuk menjadi pilot yang baik," ungkap Ayah.

"Seorang pilot hebat yang rendah hati,"  Mega kembali memuji Ayah.
"Di ketinggian seorang pilot tidak berhadapan dengan siapa-siapa. Dia hanya berhadapan dengan alam semesta. Jika sudah berhadapan dengan alam semesta yang demikian luas kita akan merasa diri kita sangat kecil. Tidak ada artinya sama sekali. Seperti setitik air di samudera raya. Di situ kita akan sadar bahwa kita bukanlah apa-apa. Jadi untuk apa kita menyombongkan diri?" kilah Ayah.

"Ayah tidak takut ketinggian, seperti yang Mega rasakan tadi?" tanya Mega.
"Waktu pertama kali belajar menerbangkan helikopter, jujur Ayah pun takut ketinggian seperti kamu. Namun karena sering berlatih lama kelamaan rasa takut itu hilang. Setelah bertugas, setiap kali terbang selalu ada rasa bangga. Bangga karena Ayah ikut menjaga keutuhan wilayah negara kita. Kadang di sela menjalankan tugas, di ketinggian sana Ayah merasa dekat dengan Tuhan.  Menyaksikan alam semesta ciptaanNya yang demikian luasnya. Ayah lalu membayangkan bagaimana besar dan berkuasanya Tuhan yang menciptakan semuanya itu. Ayah lalu berdoa kepadaNya, agar senantiasa dilindungi dalam pelaksanaan tugas Ayah," Ayah menuturkan pengalamannya.
                   
 Mega sangat bangga memiliki Ayah yang hebat, namun tetap rendah hati dan dekat dengan Tuhan.  Dalam hati kecilnya dia bertekad, apa pun profesinya kelak, dia harus dapat meneladani Ayah. Tetap rendah hati dan dekat dengan Tuhan. *
 

Video detik-detik Vicky Prasetyo Gerebek Angel Lelga sedang Selingkuh di Kamar Pukul 2 Dinihari

Berita Populer