Kanal

Kisah Sepeda Tua

GANI tersenyum sendiri melihat tingkah kakek jika sudah berada bersama sepeda tua kesayangannya itu. Tidak saja dilap hingga mengkilat, sepeda itu juga dielus-elus, bahkan diajak ngobrol oleh kakek.

Obrolan itu kadang memakan waktu lama, tidak ubahnya seperti saat bertemu  sahabat lamanya. Kadag kakek berbicara dengan suara yang meledak-ledak disertai raut wajah garang, namun tidak jarang dengan   setengah berbisik serta mata yang berkaca-kaca. Setelah puas mengobrol baru kakek menempatkan kembali sepeda itu di tempatnya semula, yakni di beranda samping rumah.

"Kek, sekarang kan jamannya sepeda motor, mobil. Kok kakek masih setia merawat sepeda tua itu. Apa manfaatnya?  Kalau mau dijadikan barang antic siapa yang mau membeli? Paling-paling tukang besi tua yang mau membelinya:.  Gani menggoda kakek.

"Sembarangan kamu. . Asal kamu tahu, bagi kakek sepeda itu harganya tidak sebanding dengan sepeda motor atau  mobil termahal  sekali pun. Sepeda itu memiliki jasa besar dalam mengantarkan bangsa kita menuju kemerdekaan seperti yang kamu nikmati saat ini. Karena itu setiap kali diundang untuk menghadiri peringatan HUT kemerdekaan RI atau peringatan hari pahlawan, kakek selalu membawa sepeda itu ke tempat upacara", jelas kakek.

Jawaban kakek itu membuat Gani penasaran. Tapi kakek berjanji akan menceritakan kisah hroik yang dilakoni kakek bersama sepeda tua itu pada malam hari setelah Gani selesai belajar.

                    *  *  *

"Meski ikut berjuang tetapi kakek tidak ikut bertempur di garis depan. Oleh komandan di markas besar, kakek ditugaskan sebagai kurir.  Tugas kakek membawa surat atau barang kebutuhan  bagi kesatuan yang sedang bertempur di garis depan. Dalam melaksanakan tugas itu kekek diberi sebuah sepeda. Tujuannya agar ruang gerak kakek lebih leluasa dan bisa menjangkau kesatuan yang posisinya jauh dari markas", kakek mengawali ceritanya.

"Seperti di film-film perjuangan itu, ya kek?" sela Gani.
"Betul, tetapi ketegangan yang kakek alami dalam peristia nyata jauh melebihi ketegangan dalam film yang kamu tonton itu.

Dalam melaksanakan tugas kakek tidak bereragam layaknya para pejuang. Kakek sering menyamar sebagai petani atau pedagang untuk menghindari kecurigaan dari tentara Belanda di pos penjagaan. Suatu saat kakek diminta membaa sejumlah peluru untuk suatu kesatuan di sector timur.

Peluru-peluru itu dimasukkan ke dalam buah duian lalu ditaruh di keranjang. Saat pemeriksaan di pos penjagaan para tentara elnada tidak menunjukan kecurigaan kepada kakek. Hanya saja mereka menawar hendak membeli durian yang kakek bawa. Jantung kakek hampir copot mendengar itu .Beruntung kakek tidak kehilangan akal. Kakek sengaja mematok  harga setinggi-tingginya.

Akhirnya tentara Belanda itu  melepaskan kakek pergi dengan bersungut-sungut karena harga durian kakek yang sangat mahal", tutur kakek sambil tertawa.

"Wah kalau sampai mereka membeli durian itu, bagaimana, ya kek?"  Gani berandai-andai..

"Itulah yang membuat jantung kakek berdegup kencang. Kalau  durian itu dibeli dan diangkat lalu peluru di dalamnya jatuh berhamburan, maka tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kakek. Apalagi di sadel sepeda juga terdapat perintah dan strategi penyerangan untuk kesatuan di sektor timur yang akan menyerang markas tentara Belanda malam harinya", kata kakek.

"Berarti kakek dan sepeda tua itu  sudah seperti kawan seperjuangan. ya? Sama-sama berjuang bagi  kemerdekaan bangsa kita"  ujar Gani.
"Betuk. Karena itu kakek dengan setia merawatnya, Gan" tutur kakek penuh haru.

                        *  *  *
Keesokan hari ketika hendak ke sekolah Gani menyempatkan diri ke beranda samping tempat kakek dan sepeda tuanya berada. Gani berdiri tegak lalu member hormat kepada kakek dan sepeda tua itu. Setelah itu Gani menghampiri kakek.
"Kek, maafkan Gani ya. Kemarin Gani sudah berkata kurang sopan tentang sepeda tua ini", sesal Gani.

"Sudahlah Gan, kemarin kan kamu belum tahu kisah tentang sepeda tua ini. Kini setelah kamu tahu, kakek berharap kamu dapat membantu kakek merawat sepeda ini. Bahkan kelak jika kakek sudah tiada. Kamu mau, kan?" tanya kakek penuh harap.

"Siap laksanakan, komandan", sahut Gani dengan suara lantang sambil memberi hormat kepada kakek. Kakek membalas hormat dan menepuk bahu Gani penuh rasa bangga.***
 

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Berita Populer