Kanal

Kekerasan Akan Menuai Kekerasan

SUDAH beberapa bulan belakangan ini Badu selalu duduk sendirian di kelas. Tidak ada teman yang mau duduk di bangku di sampingnya. Beberapa teman yang mencoba untuk duduk bersamanya selalu menjadi korban dari kelakuannya yang tidak terpuji.


Ray misalnya, harus berpindah tempat karena kepalanya benjol akibat terkena sikutnya Badu. Johan lain lagi. Dia harus minggat dari samping Badu karena bibirnya berdarah akibat ditonjok Badu. Sementara Ronald harus lengser dari sisi Badu karena pinggangnya memar dihantam tendangan Badu.


Pengalaman yang dialami ketiga teman itu membuat anak-anak di kelas itu berusaha sebisa mungkin untuk tidak berurusan dengan Badu. Kalau pun harus berurusan dengannya, maka mereka akan sangat hati-hati. Karena jika timbul permasalahan, maka satu-satunya cara penyelesaian bagi Badu hanyalah dengan menggunakan kekerasan. Entah itu berupa pukulan, tendangan, jitakan, bahkan hingga lemparan batu.


“Ingat Badu, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan kekerasan akan menuai kekerasan baru,” Pak Guru Wali Kelas mengingatkannya. Namun peringatan itu tidak dihiraukan Badu.


                 ***


Siang itu karena kelas sebelah tidak ada guru yang masuk, maka Pak Guru Wali Kelas meminta mereka bergabung ke kelas Badu guna mengejar ketertinggalan materi matematika. Pelajaran baru berlangsung beberapa saat, tiba-tiba Pak Wali Kelas dipanggil Kepala Sekolah. Kelas pun berubah riuh. Keriuhan itu terhenti seketika ketika terdengar suara berdebum keras di lantai. Tampak Badu terjerembab di antara kursi dan meja tempat duduknya.


“Jangan karena kami menumpang di kelasmu, lalu kamu berbuat seenaknya terhadap kami. Ayo bangun dan lawan aku!” terdengar sebuah suara membentak. Semua mata tertuju ke arah asal suara itu. Ternyata suara itu milik Tinus, anak berperawakan kecil yang duduk di samping Badu. Sebelah kaki Tinus tampak menekan leher Badu. Seisi kelas berpaku di tempatnya masing-masing, seolah menunggu datangnya perlawanan dari Badu. Namun Badu tidak berkutik. Dia tampak meringis menahan sakit dari sudut bibirnya yang terluka. Rupanya Badu terjatuh karena terkena pukulan Tinus.


Pak wali Kelas yang baru kembali dari ruangan Kepala Sekolah terkejut melihat kejadian itu. Dia segera meminta Tinus melepaskan kakinya dari tenggorokan Badu dan memerintahkan Badu untuk bangun.


“Apa yang sebenarnya terjadi, Tinus?” tanya Pak Wali Kelas.


“Karena ukuran mejanya kecil untuk dipakai menulis berempat, maka saya dan dua teman saya meminta Badu untuk menggeser kursinya agar semua bisa kebagian meja. Bukannya menjawab permintaan saya, Badu malah memukul saya. Saya lalu mengelak dan balik memukulnya, pak,” jawab Tinus.


“Benar apa yang dikatakan Tinus ini, Badu?” selidik Pak Wali Kelas. Badu yang masih meringis kesakitan tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya perlahan.


                ***

“Itulah, Badu. Bukankah selama ini Bapak sudah memperingatkan kamu akan perilaku burukmu itu? Hari ini perkataan bapak terbukti kebenarannya, bukan?  Kini kamu harus menanggung akibat dari kekerasan yang selama ini kamu lakukan terhadap teman-temanmu. Semua masalah kamu selesaikan dengan kekerasan. Kini kamu tahu bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah,” kata Pak Wali Kelas ketika Badu selesai mendapatkan pertolongan pertama di ruang UKS.


“Ya, Pak. Badu sangat menyesal. Kalau saja tadi Badu memenuhi permintaan Tinus  secara baik-baik tentu Badu tidak harus kesakitan seperti sekarang ini.  Badu janji Pak, seterusnya Badu tidak akan menggunakan kekerasan lagi dalam menyelesaikan masalah.

Badu akan bicarakan baik-baik dengan teman-teman. Sudah terbukti, kekerasan tidak menyelesaikan masalah, bahkan menuai masalah baru. Badu telah menjadi korbannya,” ujar Badu penuh penyesalan sambil menahan sakit dari sudut bibirnya yang terluka. (petrus y. wasa)

Inilah Sosok Ibu Angkat yang Tega Siksa dan Sekap 3 Anaknya Bersama Ular dan Anjing di Makassar

Berita Populer