Kanal

Alfa Ingin seperti Aladin

MINGGU pagi itu Alfa tidak beranjak dari depan televisi di ruang keluarga. Dia sedang serius menonton film kartun. Film itu bercerita tentang Aladin dan Lampu Wasit. Dikisahkan di suatu negeri di Timur Tengah hiduplah seorang anak bernama Aladin.

Suatu hari tanpa sengaja dia menemukan sebuah lampu wasiat. Ketika lampu itu dielus-elusnya, keluarlah jin dari dalam lampu itu. Jin itu berterima kasih kepada Aladin. Rupanya dengan mengelus-elus lampu wasiat itu Aladin sebenarnya telah menjalankan suatu mantra yang membebaskan jin itu. Sebelumnya jin itu dihukum untuk tinggal di dalam lampu itu selama tiga setengah abad.

Sebagai tanda terima kasih kepada Aladin, jin itu menyanggupi untuk memenuhi segala sesuatu yang diminta Aladin. Ketika Aladin meminta makanan yang enak, alam sekejap makanan itu langsung tersaji di hadapannya.

Begitu juga dengan pakaian yang bagus serta rumah yang megah yang diminta Aladin. Semuanya dipenuhi jin itu dalam waktu sekejap. Juga temasuk aneka permainan yang disukai Aladin. Dalam sekejap semuanya ada di depan mata dan bisa langsung dimainkan Aladin.

Kehidupan Aladin yang serba berkecukupan itu menimbulkan rasa iri dari teman-temannya. Ada di antara mereka yang berusaha mencuri lampu wasiat itu. Namun karena jin yang ada di dalamnya tidak bersedia mematuhi perintah orang lain, maka lampu itu tidak ada manfaatnya. Lampu wasiat itu akhirnya kembali didapatkan Aladin.
 
                    ***
 
"Wah enak benar ya Aladin itu. Kalau menginginkan sesuatu tinggal minta dan dalam sekejap langsung didapat. Kalau seandainya aku jadi Aladin, hidupku pasti sangat menyenangkan," kata Alfa ketika menemani mama di dapur menyiapkan makan siang.

"Memangnya selama ini hidup Alfa bersama bapak dan mama kurang menyenangkan?" tanya mama.
"Bukan begitu, Ma. Maksud Alfa kalau sama bapak dan mama belum tentu semua permintaan Alfa dipenuhi. Kalau pun dipenuhi, mungkin membutuhkan waktu yang lama. Karena kata mama, uang belanja mama terbatas dan masih ada kebutuhan lain yang lebih penting untuk dipenuhi," jawab Alfa.

"Ya, itulah kenyataan yang harus kita hadapi Alfa. Mama mengatakannya terus terang agar kamu mengerti bahwa dengan gaji bapakmu yang pas-pasan, mama tidak dapat memenuhi keinginan kamu seluruhnya. Karena itu kita harus memilah, mana yang penting dan mana yang kurang penting. Yang penting didahulukan, sedagkan yang kurang penting bisa ditunda sampai mama memiliki uang yang cukup untuk memenuhinya," ujar mama.

"Coba kalau Alfa jadi Aladin. Alfa akan meminta kepada jin itu untuk memberikan uang yang banyak. Uang itu akan Alfa berikan kepada mama agar mama tidak perlu bingung memikirkan uang belanja keluarga kita," Alfa berandai-andai. Mama tersenyum mendengarnya. Alfa memang anak yang baik dan mau mengerti kesulitan orangtuanya.
 
                    ***

Hal yang sama diungkapkan Alfa saat makan malam bersama bapaknya.

"Pak, Alfa ingin seperti Aladin. Alfa ingin meminta uang yang banyak pada jin. Uang itu untuk bantu mama biar tidak pusing lagi memikirkan uang belanja keluarga kita.. Bisa kan, pak?" tanya Alfa.

"Aladin seperti yang kamu saksikan di film kartun pagi tadi itu hanya hidup di dunia dongeng. Di dalam dunia dongeng, apa pun bisa terjadi, termasuk untuk mendapatkan sesuatu dengan cara  gampang. Namun hal itu berbeda dengan dunia nyata tempat kita hidup saat ini. Segala sesuatu yang diperoleh harus melalui suatu perjuangan, suatu usaha dan kerja keras.  Bapak, misalnya, baru mendapatkan gaji di akhir bulan setelah bapak bekerja selama tiga puluh hari sebelumnya," jelas bapak.

"Jadi Alfa tidak bisa  seperti Aladin itu, Pak?" selidik Alfa lebih lanjut.

"Bisa, Alfa bisa jadi seperti Aladin. Tapi Aladin di zaman moderen. Dengan memiliki banyak uang, semua keinginan Alfa dapat terpenuhi, bahkan juga dalam sekejap. Hanya saja Alfa harus memiliki pekerjaan yang bagus, sehingga memperoleh gaji yang besar, seperti pimpinan bapak di kantor. Untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus Alfa harus memiliki pendidikan yang tinggi  pula. Pendidikan yang tinggi itu hanya bisa diraih jika sejak sekarang Alfa  rajin belajar," jelasi bapak.

"Kalau begitu, mulai sekarang Alfa akan belajar lebih giat lagi, pak.  Supaya Alfa bisa seperti Aladin, walaupun itu Aladin di zaman moderen," seru Alfa senang sambil beranjak ke kamarnya. Dalam tidurnya Alfa bermimpi bertemu dan bermain bersama Aladin. (*)

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer