Kanal

Dendam yang Tak Membawa Petaka

BUBUT, sang babi hutan kesal, setiap kali hendak menikmati makanan yang disimpannya, makanan itu telah hilang dari tempatnya.

Hal yang sama terus terjadi setiap hari, tidak peduli makanan yang disimpannya itu, berupa umbi-umbian, sayur-sayuran maupun daging. Karena itu tidak jarang  dalam keadaan lapar pun dia harus kembali mencari makanan yang baru.

Di samping kesal, Bubut juga penasaran akan orang yang mengambil makanannya itu. Dari jejak kaki yang ada Bubut tahu bahwa yang selama ini berkeliaran di sekitar tempat penyimpanan makanannya hanyalah Jabrik, landak muda tetangganya itu.

Tetapi ketika hal itu ditanyakan kepada Jabrik, dia mengaku tidak tahu menahu soal tempat penyimpanan makanan itu. Hendak menuduh Jabrik berdasarkan bukti jejak kaki itu, Bubut tidak berani.

Salah satu cara yang harus dilakukannya adalah hanya dengan menangkap basah pencuri itu. Sore harinya Bubut  menimbun banyak makanan di tempat penyimpanannya.

Setelah itu dia pura-pura pergi dari tempat itu. Namun malam harinya dengan mengendap-endap dia kembali dan bersembunyi di dekat tempat penyimpanan makanannya itu. Lama dia menunggu tapi belum ada tanda-tanda ada yang datang ke tempat itu.

Di saat hampir tertidur, dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Langkah itu terhenti sesaat, mungkin pemiliknya sedang mengawasi situasi sekitarnya. Langkah itu kian mendekat. Dari tempat persembunyiannya, mata Bubut terbelalak. Ternyata yang datang itu adalah Jabrik.

Tanpa membuang waktu Jabrik mulai membongkar tempat penyimpanan makanan Bubut dan mulai menyantap makanan yang ada. Menyaksikan hal itu Bubut segera keluar dari persembunyiannya.

"Ternyata kamulah pencurinya, Jabrik. Jangan lari, akan kutangkap kamu dan kubawa ke pangadilan rakyat," teriak Bubut sambil berusaha menyergap Jabrik. Namun Jabrik yang lincah dan gesit itu berhasil menghindar dari sergapan Bubut dan melarikan diri.

Bubut memburunya dengan penuh emosi. Jabrik nyaris ditangkapnya kalau tidak cepat bersembunyi ke dalam sebuah lubang kecil di balik bebatuan. Postur tubuhnya yang besar tidak memungkinkan Bubut untuk ikut masuk ke dalam lubang itu.
 
                    ***
Amarah Bubut yang memuncak berubah menjadi dendam pada Jabrik. Dia tidak akan membiarkan Jabrik untuk lolos kali ini. Dengan sekuat tenaga dia berusaha mendorong sebuah batu untuk menutupi lubang itu beberapa saat. Bubut lalu menuju ladang Pak
Tani dan mengambil sebatang kayu yang masih membara sisa pembakaran siang tadi. 

Setibanya di mulut lubang kecil itu Bubut kembali menggeser batu penutup yang ada dan menaruh kayu dengan bara api itu di sana. Selanjutnya Bubut mengumpulkan daun-daun kering dan menumpuknya di atas bara api itu.

Asap mulai mengepul di mulut lubang.  Bubut  lalu meniup asap itu ke arah lubang kecil itu dengan tujuan agar asap itu masuk ke celah-celah lubang dan membuat Jabrik sesak napas.

Taktik itu sangat jitu. Jabrik yang berada di dalam lubang tidak tahan dengan asap itu. Dia segera berlari keluar dengan menerobos penjagaan Bubut.

Keduanya kembali berkejaran di tengah malam buta itu. Namun malang bagi Jabrik. Kakinya tersangkut pada akar sebatang pohon. Dia terjerembab ke tanah. Tangan dan kakinya luka serta mulutnya berdarah. Hal itu memudahkan Bubut menangkapnya.

Baru saja hendak melayangkan tinjunya ke muka Jabrik, Bubut melihat ada cahaya terang benderang dari salah satu sudut hutan. Bubut mengurungkan niatnya memukul Jabrik dan memperhatikan arah datangnya cahaya terang benderang itu.

Bukankah, bukankah cahaya itu datang dari tempat dia di mana tadi dia mengasapi lubang tempat persembunyian Jabrik. Janga-jangan..

"Kebakaran, kebakaran, penghuni hutan, ayo bangun dan selamatkan diri kalian. Kebakaran, kebakaran..." teriak beberapa warga hutan panik sambil  berlari menjauhi asal cahaya terang benderang itu. Bubut terpaku di tempatnya. Dia telah melakukan suatu  kesalahan besar.

Dia lupa memadamkan bara api yang telah diletakkannya di mulut lubang tadi. Rupanya bara yang tadinya hanya menimbulkan asap kini telah berubah menjadi api yang ganas dan hendak melahap seluruh hutan beserta segenap isinya.
 
                ***
Di hadapan pengadilan rakyat Bubut tertunduk lesuh. Di sampingnya juga dihadirkan Jabrik.  Namun oleh pengadilan itu Bubut dihukum lebih berat dari Jabrik. Jabrik hanya dihukum tiga bulan karena pencurian yang dilakukannya.

Sedangkan Bubut harus menjalani kerja paksa  menanam  kembali pohon di hutan itu dan merawatnya hingga pohon-pohon itu tumbuh besar dan kembali menjadi hutan seperti semula.

Suatu hukuman yang sangat berat untuk dijalani. Tapi apa hendak dikata. Malam itu dia diliputi dendam pada Jabrik, sehingga dia lupa mematikan bara yang telah diletakkannya di mulut lubang itu. Dendam yang hanya membawa mala petaka, tidak saja bagi warga hutan seluruhnya tetapi juga bagi dirinya. (*)

VIDEO John Kei, Sosok Pembunuh Sadis Penghuni Sel Khusus Nusakambangan yang Kini Bertobat

Berita Populer