Kanal

Idol Hutan yang Bernasib Malang

SUASANA di hutan malam itu hangar bingar. Pasalnya, malam itu adalah malam grand final  pemilihan Hutan Idol. Tiga peserta sudah bersiap-siap di belakang panggung. Mereka adalah Pediy si kepodang, Bety si betet dan Titut si perkutut.

"Sudahlah, kalian berdua pulang sajalah. Tidak ada gunanya kalian tampil bersaing denganku. Toh, dari setiap kali penampilanku, aku selalu mendapat pujian dari juri. Satu hal lagi yang harus kalian sadari, sejak penampilan perdanaku hingga saat ini aku selalu mengumpulkan SMS terbanyak dari penghuni hutan ini. Bukankah itu pertanda bahwa aku bakal menjadi Hutan Idol kali ini?" sesumbar Titut sebelum mereka bertiga mendapat giliran naik panggung.

"Boleh saja setiap malam kamu mendapat pujian dari juri dan mengumpulkan SMS terbanyak dari penghuni hutan, tapi itu kan hasil pada malam eliminasi sebelum malam grand final ini. Bisa saja di malam ini semuanya menjadi lain. Lagi pula kami juga telah menyiapkan jurus-jurus khusus untuk tampil memukau di malam ini," jawab Pedy tak mau kalah.

"Asal kamu tahu, ya Tut. Untuk malam grand final ini, aku sengaja melatih vokalku pada guru vokal ternama di hutan ini. Di samping itu untuk menunjang penampilanku di panggung, aku  telah berlatih khusus pada koreografer handal. Aku juga sengaja menyewa penari dan juga model ganteng untuk menemaniku di atas panggung nanti. Pokoknya aku akan menyuguhkan suatu  penampilan yang benar-benar spesial ke hadapan penonton juga juri malam ini," tutur Bety tanpa ditanya.

"Mau jurus apa kek, guru vokal dan koreografer dari mana kek, mau menyewa seribu penari dan model kek, kalau suara kalian sember, ya tetap saja sember. Mana bisa ditutup-tutupi. Pokoknya malam ini akulah yang menjadi Idol di hutan ini," kata Titut sambil berlalu ke atas panggung.
 
                    ***

Sesumbar Titut terbukti, dengan penampilannya yang sempurna, dia berhasil memenangkan hati juri dan hati penghuni hutan seluruhnya. Karena mengumpulkan jumlah SMS terbanyak Titut berhasil terpilih sebagai Hutan Idol. Hal itu membuat  Titut makin sombong.

Apalagi setelah kemenangannya itu dia menjadi artis yang paling laris di hutan itu. Setiap kali ada pementasan, pasti Titut  diundang  tampil. Dan untuk setiap penampilannya itu dia mendapat bayaran yang tinggi.

Setelah menjadi artis terkenal dan kaya Titut kian lupa diri. Dia selalu menolak jika harus tampil sepanggung dengan Pedy dan Betu, dua sahabatnya semasa di karantina dulu.

"Sepanggung dengan mereka hanya merusak citraku sebagai artis tenar saat ini. Jika kalian masih ingin aku tampil di pentas kalian, singkirkan kedua penyanyi kampung itu," ujar Titut  yang tentu saja membuat merah telinga Pedy dan Bety. Kedua sahabat itu memilih pergi daripada harus menerima hinaan Titut lebih lanjut.

Demi ketenaran dan kekayaan, maka Titut tidak menolak setiap ada undangan untuk tampil. Tidak peduli apakah itu di tengah hutan, di pinggir hutan bahkan di luar kawasan hutan sekalipun. Semakin jauh dari hutan Titut justru semakin bangga. Sekarang ketenarannya jauh melampaui batas hutan. Titut juga tidak takut lagi kalau harus tampil di hadapan manusia.

"Luar biasa suara perkutut ini," puji warga kampung saat menyaksikan penampilan Titut di pinggir kampung. Termakan oleh pujian itu Titut menjadi lengah. Di saat sedang asyik tampil di panggung Titut ditangkap oleh salah seorang warga kampung. Titut berteriak minta tolong sambil merontah-rontah ingin melepaskan diri.

"Tenang Titut, aku menangkapmu karena aku ingin membawamu ke kontes yang jauh lebih besar. Kamu tentu ingin menjadi Perkutut Idol tingkat nasional, bukan?" kata salah seorang warga kampung. Titut pun berubah menjadi jinak dan mengikuti petunjuk dari pelatih barunya itu.

"Ketika bangun keesokan paginya Titut merasakan matanya tidak dapat melihat apa-apa. Di hadapannya kini yang tampak hanyalah kegelapan yang pekat. Titut mengucak-ngucak matanya, tetapi kegelapan itu tidak kunjung sirna.

"Apa yang terjadi dengan mataku? Apakah aku sudah buta?" tanya Titut seolah-olah ditujukan pada dirinya sendiri. 
"Maaf Titut, aku terpaksa membutakan matamu. Karena itulah salah satu syarat yang harus kau penuhi untuk menjadi juara. Dengan tidak melihat apa-apa, kau  akan lebih berkonsentrasi pada suaramu. Suara yang kau hasilkan nanti adalah suara yang terbaik, yang keluar dari hati nuranimu," Titut mendengar pelatihnya menjawab.

"Tapi aku tidak mau buta. Aku tidak dapat terbang bebas seperti dulu lagi. Aku tidak mau buta, aku tidak mau buta!" teriak Titut histeris.
 
                    ***

Titut menangis sejadi-jadinya saat perlombaan berlangsung. Dia tidak peduli pada orang banyak yang hadir dalam kontes itu. Dia menumpahkan segala kesedihan hatinya. Tidak hanya para juri, para penonton pun terpukau oleh alunan suara tangisan nan merdu dan dilantunkan dengan penuh perasaan itu. Titut berhasil mengumpulkan jumlah SMS terbanyak dan menjadi Perkutut Idol tingkat nasional.

Jauh di dalam lubuk hatinya Titut menyesal. Kalau saja dirinya tidak sombong dan tidak terlalu mengejar ketenaran dan kekayaan, tentu nasibnya tidak akan seperti ini. Namun sayangnya semuanya ini telah terjadi

"Perkutut Idol kok tidak bisa terbang, ya. Itu bukan namanya perkutut. Itu ayam," terdengar suara salah seorang di tengah keramaian.
"Ya, itu Idol ayam sayur," balas yang lainnya sambil berlalu. Titut  ingat akan pemilik suara itu. Ya, itu suara Pedy dan Bety, dua sahabat lama yang telah dicampakkannya. (*)

Kronologi Lengkap Mahasiswi Dibunuh Pacar di Aceh, Diajak Jalan hingga Pelaku Kabur ke Rumah Ipar

Berita Populer