Kanal

Ketika Nangka Matang




 "Niko, Niko, lekas ke mari, nak," panggil Ayah. Niko segera berlari ke arah datangnya suara. Didapatinya ayah sedang berdiri di bawah pohon nangka. Tidak ada yang tampak aneh di situ.

"Ada apa, Yah? Dari cara ayah memanggil, seperti ada yang luar biasa terjadi di tempat ini," tebak Niko. Dia kembali memperhatikan keadaan sekelilingnya dengan saksama. Melihat itu ayah tersenyum.

"Tampaknya pengamatanmu belum benar-benar awas. Lihatlah ke atas kepalamu. Apa yang kau lihat itu?" tanya ayah. Niko mengikuti suruhan ayah. Di atas kepalanya ternyata bertengger manis buah nangka yang sudah matang.

"Astaga, ternyata ada nangka yang sudah matang. Ayo kita petik, yah. Aku tidak sabar lagi ingin menikmati  polong-polong bijinya yang berdaging kenyal dan manis itu,"  kata Niko.

Dia lalu memanjat pohon nangka itu untuk memotong tangkai buahnya. Buah itu pun jatuh berdebum ke tanah. Selanjutnya Niko turun dan memotong buah itu menjadi bagian yang lebih kecil sehingga mudah diangkat dan dibawa masuk ke rumah.
 
            ***
 
Setelah semua bagian sudah dibawa masuk, Niko langsung mencuci tangan dan menikmati nangka bagiannya. Melihat lahapnya Niko menikmati nangkanya, ayah dan ibu pun tertarik untuk langsung melahap nangka bagian mereka. Mereka sisipkan satu bagian besar lagi untuk Agus, adik Niko, dan untuk dimakan seusai makan malam nanti.

Meski sudah dimakan dan disisihkan, namun masih terdapat sisa buah nangka yang cukup banyak.

"Ayah, bagaimana kalau kita jual saja sisanya ini? Niko yakin nangka kita bakal laris dan kita bisa mendapatkan banyak uang," usul Niko.

"Baik juga usulmu itu, Niko. Tapi itu baru dapat kita lakukan kalau banyak buahnya yang matang. Ini kan hanya satu. Lebih baik kita bagikan sisanya itu kepada tetangga di sekitar rumah kita. Biar mereka ikut merasakan nikmatnya nangka kita yang kenyal dan manis ini," kata Ayah.

"Enak saja. Mereka kan tidak ikut menanam dan merawat nangka kita itu?" ujar Niko..

"Benar, tapi masih ingatkah kamu ketika Pak Ahmad, tetangga kita memanen rambutannya? Bukankah dia juga membagikan buah rambutannya untuk kita. Dan ingat, siapa yang paling banyak memakan rambutan itu?" ayah balik bertanya.

"Aku, yah," jawab Niko sambil tersenyum malu.

"Lagi pula kalau para tetangga itu sudah merasakan nikmatnya buah nangka kita, jika nangkah ini banyak yang matang kita tidak perlu menjualnya jauh ke pasar. Ayah yakin mereka akan ketagihan dan membelinya," lanjut ayah.
 
                ***
           
"Wah, kenyal dan manis benar nangkanya. Memang nangka kalian tak tertandingi enaknya. Bilang ayahmu terima kasih atas pemberian ini. Kalau matangnya agak banyak, tolong sampaikan kepada bapak, ya. Bapak mau membelinya beberapa buah.

Selain untuk dimakan sendiri, juga untuk buah tangan saat bapak mengunjungi saudara di kota," kata Pak Ahmad seusai menerima  nangka pemberian itu.

Sekembalinya di rumah Niko menyampaikan apa yang disampaikan Pak Ahmad kepadanya.

"Benar juga  kata ayah. Pak Ahmad menerima pemberian dengan senang hati walaupun bagiannya hanya sedikit. Pak Ahmad juga berpesan, jika nangka kita banyak yang matang, dia ingin membelinya beberapa buah. Itu artinya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Pemberian kita menyenangkan hati Pak Ahmad dan promosi nangka kita berhasil, yah," simpul Niko senang.

"Agar panenannya banyak, selain merawat tanaman yang ada, mulai besok bantu Ayah menanam dan merawat anakan nangka yang sudah tumbuh besar itu," kata Ayah.

"Siap, yah," jawab niko tegas. Ayah tersenyum. Dia kagum dengan semangat yang dimiliki anaknya itu. (*)

Dijual untuk 'Nikah Bayaran' ke Cina, 11 Wanita Indonesia Disiksa Bak Hewan, Hukum Hambat Kepulangan

Berita Populer