Berita Lifestyle
Sering Mengantuk di Siang Hari, Waspada Penyakit Alzheimer
Menurut sebuah penelitian baru, rasa kantuk di siang hari bisa menjadi gejala penyakit Alzheimer.
POS-KUPANG.COM|KUPANG - Biasanya menjelang siang mata mulai mengantuk.
Apalagi di bulan puasa, setelah bangun lebih pagi dari biasanya dan mungkin tak mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Beraktivitas saat puasa di mana waktu istirahat berkurang tentunya membuat kita mudah mengantuk di siang hari.
• Ramalan Zodiak Besok 12 Mei 2019, Aries Penuh Kasih, Sagitarius Hujan Berkat, Zodiak Lain?
Ditambah banyak beraktivitas sejak pagi, lelah dan kantuk merupakan kombinasi yang hanya bisa dihilangkan dengan tidur.
Namun, bagaimana jika kamu masih memiliki tanggungan aneka pekerjaan di siang hari?
Di siang hari, rasa kantuk pun mulai muncul dan bisa mengganggu aktivitas.
Tidak hanya sekedar rasa kantuk, jika kamu sering mengalaminya bukan tidak mungkin berisiko bagi kesehatan.
Menurut sebuah penelitian baru, rasa kantuk di siang hari bisa menjadi gejala penyakit Alzheimer.
• Kaori Fransiska Sakura Yuki Wakili NTT ke Olimpade Nasional di Jakarta
Melansir Indian Express, studi mengungkapkan jika mengantuk di sepanjang siang hari dapat menyebabkan akumulasi plak di otak.
Hal itu muncul sebagai faktor risiko terkena penyakit Alzheimer.
Dalam penelitian ini, peneliti merekam kebiasaan tidur siang hari dari 124 laki-laki dan perempuan dengan usia rata-rata 60 tahun.
Setelah 15 tahun kemudian, melakukan PET dan MRI scan untuk mengetahui keberadaan beta-amyloid, protein yang mengelompok bersama untuk membentuk plak.
Mereka yang sering mengeluh mengantuk di siang hari, memiliki risiko lebih tinggi memiliki plak jika dibandingkan dengan mereka yang tidak.
• Luar Biasa! SDI Lasiana Juara Lomba Paduan Suara Walikota Cup
Mengacu pada hal ini, penulis utama penelitian, Adam Spira mengatakan, "jika Anda tertidur padahal masih ingin terjaga, itu adalah sesuatu yang perlu diwaspadai."
"Itu bisa jadi karena tidur yang tidak cukup, atau bernapas yang tidak teratur saat tidur, atau kondisi lainnya," kata Spira, yang juga seorang profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg.