Caleg Gagal Bisa Alami Gangguan Jiwa Ini Cirinya Agar Cepat Ditangani

Caleg yang gagal dalam pemilu bisa mengalami gangguan jiwa. Nah gangguan jiwa itu harus segera ditangani agar tidak bertambah berat. Ini ciri-cirinya

Caleg Gagal Bisa Alami Gangguan Jiwa Ini Cirinya Agar Cepat Ditangani
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Proses perhitungan suara di TPS 13 Hambala 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Sebelum pelaksanaan pencoblosan pada pemilu, banyak calon yang melakukan segala upaya di masa kampanye demi memenangi hati rakyat yang akan memilih mereka.

Tak jarang, para calon itu harus merogoh dalam sakunya untuk membiayai upaya tersebut, bahkan hingga merelakan banyak hartanya.

Di sisi lain, ambisi yang menggebu kerap memicu tekanan psikis pada mereka, terlebih saat mendapati kekalahan usai pemilu.

Ini Yang Baru Dari All New Sirion, Lebih Stylish dan Aerodinamis

700 Personil PLN UIW NTT Siap Amankan Pasokan Listrik Saat Pemilu 2019

"Kepada para calon, atau keluarga calon yang mendapati kerabatnya mengalami perubahan perilaku untuk segera berobat ke RSJ. Berikutnya Langkah tersebut penting, demi mendapat pertolongan," kata Utama Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan, Laurentius Panggabean menguraikan pandangannya saat ditemui di kantornya Selasa (16/4/2019)

Dia mengatakan, ada ciri khusus yang ditunjukkan oleh calon yang mulai mengalami gangguan kejiwaan.

Pemilu di NTT - Ini Penilaian Bawaslu NTT

"Kalau ada perubahan makan, perubahan tidur, tadinya bisa tidur sekarang susah tidur." "Atau, tadinya semangat ke mana-mana, jadinya tidak mau ke mana-mana, tadinya bisa makan sekarang gak mau makan, atau malah makan terus, itu gangguan."  kata Laurentius ketika ditemui di kantornya, Selasa (16/4/2019).

Jika kondisi semacam itu terus dibiarkan, maka gangguan akan semakin parah dan berlangsung lama. Bahkan, Laurentius menyebutkan, gangguan itu bisa berubah menjadi gangguan jiwa berat.

"Sama kayak flu, tiga hari bisa sembuh, tapi kan ada juga (kemungkinan) infeksi lain yang lebih berat." "Nah, sama gangguan jiwa juga begitu, mungkin sembilan hari atau sebulan masih bisa kita sebut dia berproses untuk penyesuaian, kalau gak bisa berarti dia gangguan jiwa," cetus dia.

Berdasarkan pengalaman pemilu sebelumnya, banyak calon gagal yang mengalami gangguan jiwa menolak untuk berobat.

Umumnya, mereka tak mau mengakui perubahan prilaku tersebut sebagai bentuk gangguan kejiwaan.

Selanjutnya mereka lebih memilih pemulihan dengan pendekatan agama. "Mereka dibawa ke ahli agama disuruh banyak berdoa, tidak dianggap harus berobat," ujar dia.

Padahal, menurut dia, masalah itu bisa diatasi secara medis dengan mengonsumsi obat-obat yang direkomendasikan dokter.

Kendati mungkin akan ada lonjakan kasus kejiwaan seperti pemilu terdahulu, namun Laurentius mengatakan tak ada persiapan khusus di RSJ. "Kayak pasien yang biasa saja, kalau dia datang kita rawat, tidak mesti rawat inap, tapi bisa juga rawat jalan," kata dia. (kompas.com)

Editor: Hermina Pello
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved