Berita Puisi

Ini Loh Puisi-Puisi Minggu Ini, Kepoin Yuk!

Puisi Minggu Ini, Puisi-puisi Agust Gunadin:Siapa Tahu Kita Seperti Ini, Menanti senja pada penghujung matahari siang.

Ini Loh Puisi-Puisi Minggu Ini, Kepoin Yuk!
ilustrasi/duapah.com
Cerpen Maria Hebi: Jimmy Aku Ingin Mencuri Hatimu 

Puisi-puisi Agust Gunadin
Siapa Tahu Kita Seperti Ini

Menanti senja pada penghujung matahari siang
Terlampau jauh pada jejak kota ini
Mungkin, aku harus butuh kerudung untuk berteduh
Sebab, kota ini semakin gerah untuk berpikir
Rasanya ingin aku pergi berlabuh
Lantas, aku lahir di tanah abang
Sebagian menyebut metropolitan
Tapi, memang luluh dalam kata "masih berpikir mini"
Bunyi dawai menemani masyarakat minor
Yang ingin harmoni lewat kata
Masyarakat kelas teri dibatasi masuk si borjuis
Lalu, lapuk hingga tinggal pada pesisir tak diberi pengakuan ada
Mereka ingin berteriak bebas, sebab itu 'tanah kami'
Katanya sambil lesuh dalam angan
Aku bukannya iri hati
Bukannya sedih
Lagi bukan dilahirkan untuk menanggung ini penderitaan
Yang aku butuh kembalikan tanah kami menjadi
Taman untuk ditinggal, tanah untuk bercanda lagi peluh kami terlalu larut
Alasanku meski digoreskan lewat pena puisi bukan fakta anonim
Kita di tanah abang
Katanya hidup sendiri, namun tak mengenal diri
Sebagai 'homo socius'
Yang telah hilang diujung berpikir
(San Camillo, 032019)

Ramalan Zodiak Besok, Selasa 16 April 2019, Baik Untuk Cancer, Berat Buat Virgo, Zodiak Lain?

Bangun Kesadaran Demi Jiwa
I
Di bawah pendar cahaya, menikam sunyinya kisah si pengagun gelap
Lalu,...
Pada malam aku menatap dan merenung lorong-lorong
Kisah dasi bergerah, karena salah sendiri
Menambah gores luka tentang
'privatio' manusia pada 'ens'

II
Kisahnya berawal pada sebuah lorong
Mempersempit 'bonum' untuk berfalsafah
Manusia berakal, kenapa digunakan salah
Itu bukan lagi keliru, sebab ada komplotan
Yang terlalu kejam untuk dinafiri
Kata mereka yang ikut bermain! Celaka, bila itu dibungkam
Tapi pelan kuhempus suara
Antara Oligark dan Korporat sering bercokol pada satu ide
Suka bermandi dalam gelapnya malam
Lalu, mempersalahkan dan disalahkan
Itu 'siapa' bukan 'kami'
Muslihat 'mereka' sebenarnya mengelabui
Saya dan kami memang bagiannya
Tapi takut untuk diketahui publik
Sebab itu bisa menelanjangi popularitas kami
Sebagai oligark dan korporat, ingin menguasai
Itu saja! Kata mereka
Malam ini Aku akan Singgah
Setelah senja mencubit-cubit ingatanku
Ada kisah yang ingin bersuah kembali
Sebab seringkali kita lupa pada kerinduan menuju pertobatan diri
Jangan merasa diri, kami tidak berdosa
Sebab andai kita tahu, Dia saja tidak berdosa
Tapi ingin melebur diri dengan pendosa
Apalagi kita sebagai makhluk fana
Perlu mencebur diri dalam kata dan bertindak
'pengampunan'
Di antara sela-sela malam
Ada kecipak perasaan sebagai pendosa
Lalu menuju proses pencarian
Siapa dan ke mana ada pengampunan
Kepada Dia yang nan jauh, hati pun jangan terbawa
Dia memang dekat
Perlu, yakin dalam asa untuk menjumpai
"Kaukah itu Tuhan"?
Pertanyaan retoris dari pendosa
Lalu keheningan malam itu pun menjadi gelisah
Ada pancaran kisah dari kata yakin, sedang bertumbuh
Hingga malam datang menggores kisah
Katanya, Aku adalah Aku yang perlu ditumbuhkan
Yang melahirkan cinta
Bolehkah Aku berlabuh pada rumahmu, Manusia?

Kumpulan Ucapan Selamat Ulang Tahun Islami, Doa Barakallah Fii Umrik dan Hukum Merayakan Ulang Tahun

Puisi-Puisi Esron Nursi
Malam ini

Rindu panjang menulis cerita
Pada pertemuan di pohon tua itu
Kata menawarkan puisi dan isi senja
Dikala hujan jatuh di matamu
Supaya puisiku berteduh sejenak

Sejak kemarin
Kau berceloteh getar-getir
Mengusir rindu pada jarak yang kurang ajar
Barangkali benar perihal melupakan
Itu sulit bukan pahit
Meskipun tali-temali masih terikat pada cinta
Saat mata indahmu mengajak aku bercinta
Pada mata hati yang abadi
(Februari 2019)

TNK Pasang 5 Unit CCTV di Danau Kelimutu

Pena
Diwarung kopi itu
Kemarin seorang penyair iseng bertanya kepadaku
Sebelum kembali aku menyuduh kopi hitam
" siapa ayahmu" bisiknya.
Aku bingung menyulam kata
Ketika syair sederhana menjadi haram
Pada puisiku semalam
Seperti kesurupan mencari jejak
Dikala sajak itu masih bertanya
Apa mungkin darahku adalah rindu
Yang membujuk kata
Tuk member jejak pada sukma untuk membuahi cinta .
Sebab jarak takpernah menyebutnya janda ataupun pelacur kata.
(Februari 2019)

Menunggu

Tahukah kamu
Menunggu itu perih dalam rindu yang luka
Saat janji pada kata
Ditapis buang oleh waktu
Walaupun cemburu merusak
suasana hati duka
takala sabarku menunggu,
menenun rindu
dari benang-benang cinta.
Air mata pun menyanyi tanpa suara
Ketika kepergianmu
Merobek separuh hatiku
Tersungkam luka dibungkus senja menjadikan kenangan
Sekalipun kecewa yang panjang-panjang mengolok takdirku.
Barangkali
Bibir tak akan kering memanggilmu pulang
Di sudut senja ini
(10/02/19)

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved