Berita kesehatan

Dr. Vivi Anggelia: Antibiotik Bukan Obat Untuk Sembuhkan Semua Penyakit

Amoxicillin adalah antibiotik yang sering disalahgunakan oleh masyarakat luas untuk mengobati batuk, pilek, nyeri pinggang.

Dr. Vivi Anggelia: Antibiotik Bukan Obat Untuk Sembuhkan Semua Penyakit
ilustrasi/tribunnews
Antibiotik Bukan Obat Untuk Sembuhkan Semua Penyakit 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Siapa yang tidak kenal dengan obat yang bernama Amoxicillin.

Amoxicillin adalah antibiotik yang sering disalahgunakan oleh masyarakat luas untuk mengobati batuk, pilek, nyeri pinggang bahkan digunakan untuk sakit kepala.

Mudah, murah dan cara minum yang salah membuat obat ini sering tidak berefek pada infeksi.

Ustadz Abdul Somad Tolak 3 Mobil Mewah, Honda CRV, Toyota Fortuner, Innova, Hadiah dari Siapa?

Namun, apakah amoxicillin dapat menyembuhkan semua penyakit? Tentu saja tidak. Yang perlu diingat adalah antibiotik hanya dapat membunuh bakteri dan bukan virus.

Apakah batuk, pilek, nyeri pinggang bahkan sakit kepala penyebabnya adalah bakteri? Jawabannya adalah tidak.

Batuk pilek paling sering disebabkan oleh virus, dan tentu saja obatnya bukan antibiotik.

Dengan daya tahan tubuh yang kuat cenderung tubuh akan membunuh virus itu sendiri.

Nyeri pinggang dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit seperti batu ginjal, infeksi pada ginjal, keram otot, atau gangguan pada postur tulang atau lainnya, jika penyebabnya adalah infeksi tentu pilihan antibiotik adalah benar.

Kamu Komedoan? Coba Pakai Masker Lemon dan Madu Ini Dijamin Ampuh Ini Cara Buatnya

Bagaimana dengan sakit kepala, sakit kepala tentu bukan disebabkan oleh bakteri, sakit kepala sering dikarenakan kurang tidur, gangguan pada akomodasi lensa mata (rabun jauh, rabun dekat ataupun cylinder), darah tinggi, tumor otak dapat menyebabkan sakit kepala, dan seringnya sakit kepala sering menjadi gejala dari berbagai penyakit seperti pada asam lambung yang meningkat.

Efek dari sembarangan minum antibiotik ini adalah resistensi dari obat itu sendiri, dalam arti terjadi kekebalan infeksi terhadap antibiotik yang diberikan sehingga membutuhkan antibiotik yang lebih kuat dan cenderung lebih mahal.

Ini menjadi masalah utama di Indonesia, dimana terdapat 700 ribu angka kematian akibat resistensi antibiotik sampai tahun 2014 dan pada tahun 2015 angka kematian resistensi antibiotik menjadi 10 juta jiwa.

Kenalkan Sasando dan Beragam Pakaian Adat NTT, Duta Bandara El Tari Kupang Masuk Lima Besar

Penyebab dari resistensi antibiotik ini adalah terlalu banyak minum antibiotik, sembarangan minum antibiotik, pasien tidak menghabiskan antibiotik yang disarankan, kontrol infeksi yang kurang bagus di rumah sakit, kebersihan diri dan lingkungan yang jelek.

Dan perlu diketahui bahwa belum ada anitbiotik yang baru dikembangkan dalam 25 tahun terakhir ini, oleh karena itu bijaklah dalam menggunakan antibiotik dan konsultasikan ke dokter terlebih dahulu. (*)

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved