Perahu Sampan Mondar Mandir di Kali Waima-Lembata, Ini yang Dilakukan

kendaraan roda dua, anak-anak muda dari Desa Bour membantu menyeberangkannya dengan biaya Rp 20.000 untuk sepeda motor bebek dan Rp 30.000 untuk kenda

Perahu Sampan Mondar Mandir di Kali Waima-Lembata, Ini yang Dilakukan
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
ANGKAT SAMPAN -- Beberapa warga Desa Bour saat mengangkat sampan ke Kali Waima untuk membantu menyeberangkan warga yang dari dan ke Lewoleba, Sabtu (13/3/2019) sore. 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Frans Krowi

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Sebuah sampan mililk Gregorius Beda Mukin mondar mandir di kali Waima menghantar puluhan warga yang hendak menyeberangi kali tersebut, Sabtu (14/4/2019) sore hingga malam hari.

Saat itu banjir relatif besar sehingga kali Waima tak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Untuk kendaraan roda dua, anak-anak muda dari Desa Bour membantu menyeberangkannya dengan biaya Rp 20.000 untuk sepeda motor bebek dan Rp 30.000 untuk kendaraan besar.

Kepada Pos Kupang.Com, Minggu (14/4/2019), Gregorius mengatakan, pihaknya mengoperasikan sampan di Kali Waima, tatkala banjir besar menerjang kali tersebut. Demikian pula pada Sabtu (13/4/2019).

Saat itu, lanjut dia, daerah pesisir tak ada hujan. Tapi tiba-tiba banjir besar menerjang melalui kali tersebut. Alhasil jalur transportasi putus seketika, mulai sekitar pukul 14.30 Wita hingga malam hari. Selama sekitar tujuh jam, terhitung pukul 14.30 Wita hingga pukul 21.30 Wita, kali waima tak bisa dilalui warga dan kendaraan kecuali melalui sampan dan kendaraan diseberangkan oleh warga setempat.

Kejadian semacam itu, lanjut Gregorius, sering terjadi. Hanya saja, saat ini banjirnya relatif kecil sehingga sampan bisa digunakan dan mereka lebih muda menyeberangkan warga. Demikian pula saat menyeberangkan kendaraan roda dua.

Gregorius mengungkapkan, selama ini masyarakat senantiasa berharap agar pemerinrah lebih serius mengatasi persoalan yang terjadi di kali Waima itu. Dengan begitu, masyarakat tak lagi resah bila bepergian melalui ruas jalan tersebut.

"Selama ini kan masyarakat berharap pemerintah membangun jembatan secara baik. Akan tetapi karena kondisi jembatan yang dibangun di kali Waima itu sudah ambruk diterjang banjir besar, pada akhir Desember 2018 lalu, sehingga saat ini warga harus bersusah payah lagi bila bepergian. Ini yang harus menjadi perhatian serius pemerintah," tandas Gregorius.

Ia mengaku tak tahu kalau kali Waima masuk dalam jalur jalan propinsi. Kalau memang demikian, maka Gregorius bersama masyatakat lainnya meminta Gubernur NTT, Viktor Laiskodat untuk segera membangun jembatan di kali tersebut.

"Kami minta gubernur supaya segera mengatasi masalah di kali Waima ini. Lebih cepat diatasi, tentu akan lebih baik," ujarnya. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved