Monita Napitupulu Bangga Wakili NTT ke Jepang

Parada Monita Napitupulu, S.Pd, guru pada SMAN 1 Nekamese, Kabupaten Kupang, patut berbangga mewakili NTT ke Jepang. Pasalnya, Monita-demikian dia di

Monita Napitupulu Bangga Wakili NTT ke Jepang
Dokumentasi Ibu Parada Monita Napitupulu.
 Parada Monita Napitupulu bersama rekan guru dari Indonesia ketika berada di Jepang. 

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Edi Hayong

POS KUPANG.COM I KUPANG--Parada Monita Napitupulu, S.Pd, guru pada SMAN 1 Nekamese, Kabupaten Kupang, patut berbangga mewakili NTT ke Jepang. Pasalnya,  Monita-demikian dia disapa, merupakan satu dari 22 guru dari seluruh Indonesia mengikuti program Service Training Inklusive Education di Kota Perfectual Okayama, Jepang tanggal 3-24 Maret 2019.

Pelatihan berpusat di KIBI International University, serta melakukan kunjungan ke beberapa sekolah mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan SLB serta beberapa tempat pelayanan bagi orang berkebutuhan khusus di Kota Okayama dan Takashahi.

Monita kepada POS KUPANG.COM, Minggu (14/4/2019) menuturkan perihal keberangkatannya ke Negeri Sakura tersebut. Dikatakannya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan baru-baru ini, melaksanakan pelatihan pendidik dan tenaga kependidikan ke Luar Negeri.

Peserta sebanyak  1.000 orang terdiri dari guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, Widyaiswara, tutor penilik dan pamong belajar dari seluruh Indonesia.Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk menambah wawasan kepada pendidik dan tenaga kependidikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin berkembang serta berkesempatan menyaksikan bagaimana proses pendidikan serta budaya pada Negara tersebut.

"Tes administrasi dan Vidio call menggunakan Bahasa Inggris dan saya termasuk yang lolos tes. 

Juara Porprov NTT Belum Tentu Otomatis Ikut Pra PON 2019

Saya berkesempatan mengunjungi Negeri Sakura, untuk mengikuti program Service Training Inklusive Education di Kota Perfectual Okayama Jepang selama 21 hari bersama 22 orang rekan guru dari seluruh Indonesia. Pelatihan berpusat di KIBI International University, serta melakukan kunjungan ke beberapa sekolah mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan SLB serta beberapa tempat pelayanan bagi orang berkebutuhan khusus di Kota Okayama dan Takashahi," tutur wanita kelahiran Palembang, 3 Agustus 1980 ini.

Dijelaskannya,  apa yang ditemukan di Jepang terutama pendidikan karakter, disiplin dan saling menghargai. Walaupun terdapat perbedaan, yang sudah ditanamkan sejak masa sekolah dasar menjadikan siswa di Jepang memiliki integritas yang tinggi.

"Contoh sederhana, berbaris rapi dalam antrian serta membereskan tempat makanan sekalipun makan di kantin atau restoran memperlihatkan bahwa orang lain bukan menjadi pelayan bagi diri sendiri, tetapi harus bisa mandiri," kata Monita.

Guru bidang studi Ekonomi ini menambahkan, pendidikan Inklusif diterapkan di seluruh sekolah di Jepang.

Siswa yang mengalami hambatan dan gangguan (tingkatannya tentu saja berbeda), disediakan kelas khusus dan kelas bimbingan khusus. Hal ini bertujuan untuk mengevaluasi sampai sejauh mana siswa tersebut dapat mengikuti kelas dan latihan yang sudah diajarkan, serta terus berkoordinasi dengan pihak orang tua, pihak medis dan pihak pemerintah (balai kota) setempat.

"Ada seorang ahli Practical Pendidikan inklusif di Jepang, Yoneto Keiichi, mengatakan bahwa pada prinsipnya Komunikasi antara guru, pihak sekolah dan orangtua sangat diperlukan agar anak tersebut mampu mengembangkan dirinya dan mampu mandiri sebelum terjun ke pendidikan yang lebih tinggi," kata Monita yang merupakan Alumna Universitas Negeri Medan.

Menurut Monita, peran guru, sekolah dan pihak orang tua sangat penting untuk memotivasi siswa serta komunikasi bahasa verbal yang mengandung perkataan positif berupa pujian dan senyuman tulus akan berkorelasi baik untuk perkembangan psikologi bagi siswa yang memiliki gangguan dan hambatan dalam proses belajar.

"Banyak hal yang saya pelajari di Jepang. Apa yang saya saksikan di sana tentu mengadopsi yang diterapkan disana untuk diterapkan di sekolah. Tugas kita memotivasi siswa untuk menerima perbedaan siswa lain, itu yang diperlukan," pesan Monita.(*)

Penulis: Edy Hayong
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved