Di Kabupaten Belu

Jembatan Gantung, Kado Paskah Warga Desa Talai dan Naikasa

Bupati Belu malah menamakan jembatan ini jembatan Farjos. Yah, jembatan Fary-Josef.

Jembatan Gantung, Kado Paskah Warga Desa Talai dan Naikasa
Istimewa
Josef Nae Soi dan Fary Francis melewati jembatan gantung di Sungai Kian Raiikun yang baru saja diresmikan. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Hari Selasa, 9 April 2019 menjadi momen sukacita bagi warga Kabupaten Belu, khususnya Desa Tialai, Desa Naikasa dan sekitarnya. Harapan mereka untuk mendapatkan jembatan gantung terwujud sudah.

Asa yang terurai kurang lebih setahun terjawab. Kemarin telah dilangsungkan peresmian jembatan gantung pertama di Kabupaten Belu, jembatan Kian Raiikun. Hadir dalam peresmian ini Ketua Komisi V DPR RI, Fary Francis, Wakil Gubernur NTT, Yosep Nae Soi, Bupati Belu, Wily Lay, Direktur Jembatan Kementerian PUPR, Kepala Balai Jalan NTT, tokoh agama dan masyarakat setempat.

Sebelumnya, pada tanggal 10 Oktober 2018, Fary Francis, Josef Nae Soi, bersama pihak dari Balai Jalan X NTT dan Kementerian Desa disaksikan banyak warga desa melakukan acara peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan jembatan gantung ini. Tak heran jika sukacita warga pecah pada momen ini.

Doa mereka puluhan tahun terjawab. Berkat perjuangan Ketua Komisi V DPR RI, yang mengusulkan dan mengawal aspirasi rakyat ini, mimpi jembatan yang begitu lama cuma sebatas impian, kini terwujud. Warga Tialai sudah bertahan dalam penderitaan. Hari ini penderitaan mereka soal "menyeberangi" sungai ini di kala hujan segera berakhir. Bahkan jembatan ini menjadi kado Paskah terindah bagi warga setempat.

Mengapa jembatan gantung yang menghubungkan Desa Tialai dan Desa Naekase ini penting? Banyak anak-anak yang bersekolah di Nenuk, Nela dan Kimbana. Mereka mesti melewati sungai Kian Raiikun. Jika musim hujan maka mereka kesulitan ke sekolah. Harus berputar menggunakan jalur lain yg memakan waktu lama. Kebanyakan warga juga menggunakan jalan ini untuk urusan ekonomi, sosial dan budaya.

Dengan terbangunnya jembatan ini maka 'penderitaan' tahunan warga setempat bisa diatasi. Sesuai desain, jembatan ini memiliki panjang 84 meter. Dibangun menggunakan dana APBN senilai 3,4 miliar. Aspirasi warga telah terjawab.

Bupati Belu malah menamakan jembatan ini jembatan Farjos. Yah, jembatan Fary-Josef. Fary selaku Ketua Komisi V yang memperjuangkan dan mengawal anggaran. Josef sebagai wakil gubernur yang meresmikan jembatan ini. Lalu apa kata sang wakil gubernur?

"NTT sangat membutuhkan wakil rakyat seperti Pak Fary yang memperjuangkan banyak kebutuhan infrastruktur untuk NTT dan daerah perbatasan khususnya. Maka mendoakan wakil rakyat semacam ini agar tetap berada di Senayan adalah tugas setiap warga," kata Josef Nae Soi.

Direktur jembatan menilai, usulan jembatan gantung ini termasuk yang cepat direalisasikan. "Mengapa? Karena yang pegang palu Komisi V adalah anak NTT. Sebagai anak NTT, tentu Pak Ketua Komisi paham benar kebutuhan dan harapan warga NTT," ujarnya. **

Penulis: Sipri Seko
Editor: Sipri Seko
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved