Berita cerpen

Cerpen Riko Raden : Pergilah

Cerpen Riko Raden: Pergilah. Itulah janji kami berdua walau hanya lewat media sosial. Kami berjanji agar secepatnya bisa bertemu.

Cerpen Riko Raden : Pergilah
ilustrasi/hipwee
Pergilan1 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - "Kapan libur, sayang?" Tanyaku pada saat itu.
"Aku akan segera berlibur sayang, mungkin satu dua minggu lagi!" Jawabnya.
"Apakah kita bisa bertemu?" Tanyaku lagi.

"Oh tentu! Aku juga ingin agar secepatnya kita bertemu.
Itulah janji kami berdua walau hanya lewat media sosial. Kami berjanji agar secepatnya bisa bertemu setelah sekian lama kami berpisah karena cita-cita. Sambil tersenyum aku pun mengambil kalender untuk membuat tanggal perjumpaan kami nanti.

Dia begitu senang setelah tanggal perjumpaan kami nanti telah kukirim kepadanya. Dia tidak melawan atau merubah setiap tanggal yang sudah tertera. Bahkan kami berjanji untuk setia dengan tanggal yang telah ada.

Petugas Datangi Kantor Walikota- Pemkot KupangSegera Bayar Tamsil Petugas Kebersihan

Awal Desember tahun lalu aku sempat bertemu dengannya. Itulah perjumpaan pertama kami. Saat itu dia berlibur di kampungnya. Aku sungguh-sungguh masih menyimpan rasa cinta ketika dulu semasa SMA kami pernah saling menggenggam rasa cinta.

Aku sungguh terpesona dengan kecantikannya. Dulu semasa SMA, paras kecantikannya pas-pasan, tetapi semenjak dia menginjak pendidikan di Kota Malang yang disebut kota pelajar, perubahan pada dirinya sungguh sangat berbeda.
Putih bersinar bak embun di pagi hari. Tatapan matanya sungguh mengundang rasa ingin untuk selalu mendekatinya. Pancaran dari wajahnya sungguh-sungguh membuat mimpi menjadi kenyataan. Dia benar-benar cantik.

"Sejak kapan engkau libur di sini." Tanyaku padanya.
"Dua minggu lalu." Jawabnya singkat.
Ada rasa segan dengan jawabannya. Dalam hatiku mengatakan bahwa mungkin bukan hanya kecantikannya saja yang berubah, barangkali tingkah lakunya juga. Entahlah dalamnya laut masih bisa diukur, tetapi dalamnya hati siapa yang tahu.
Walapun demikian aku masih senang melihat kecantikannya.
"Kapan balik ke Malang."
"Minggu depan tanggal 1 Januari."
"Kenapa begitu cepat sekali. Bukankah kamu mulai kampus masih bulan Maret !"
"Iya,, soalnya ada urusan penting di sana yang ingin diselesaikan bulan ini."
"Urusan apa! Skripsi mungkin."

Demi Kelancaran Pelaksanaan UNBK, PLN Siapkan Petugas Monitoring Listrik Sekolah

"Bukan! Ada seseorang yang masih menunggu diriku di sana. Dia selalu memperhatikan dan menjaga selama aku di Malang. Dia sangat marah apabila aku berlama-lama di sini. Kami sudah berjanji sebelum aku ke sini."
"Oohh, begitu ya!" Aku sambil mengangguk kepala walau hati ada rasa cemburu karena ternyata dia telah bersama dengan orang lain selama di sana. Aku masih menahan rasa cemburuku. Aku terus bersikap ramah di depannya walau hati terasa sakit. Aku bahkan terus tersenyum padanya. Dia mungkin lupa dengan janjinya. Aku hanya diam ketika dia tidak peduli denganku.

Dia sibuk dengan teman-teman dan tidak sedikit pun waktu untuk bersamaku. Barangkali mungkin selama ini dia dengan teman-temannya jarang ketemu sehingga pada kali ini mereka berkumpul bersama.

Aku pun paham dengan dia dan situasinya saat itu. Mungkin ada kesempatan lain untuk kami berdua. Saat ini aku paham dengannya.
Beberapa hari kemudian ponselku berbunyi.
"Tumben pagi ini ada yang masih menelpon." Kataku dalam hati. Padahal di kampungku tidak ada jaringan sama sekali. Aku melihat ternyata Dian. Barangkali cinta tidak pernah melihat situasi apabila keduanya sudah menyatu. Barangkali demikian.

"Selamat pagi nana, bisa jalan-jalan ke pantai hari ini?" Katanya melalui telpon.
"Halo enu, selamat pagi juga! Kebetulan hari ini aku tidak ada pekerjaan, aku mau kita jalan-jalan ke pantai. Apalagi selama ini aku jarang sekali mandi air laut." Jawabku.
"Sekitar jam berapa sebentar nana?"

Halaman
123
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved