Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan Rabu (27/3/2019): "Mencintai Hingga Terluka!"

Renungan Harian Kristen Protestan Rabu (27/3/2019): "Mencintai Hingga Terluka!"

Editor: Eflin Rote
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

“Mencintai hingga terluka!”

Oleh : Pdt DR Mesakh A P Dethan MTh MA

--

Bacaan kita hari ini dari Kejadian 23:1-20 adalah tentang kisah kematian Sara, tetapi saya tidak bermaksud menyampaikan renungan kematian. Saya hanya ingin kita semua belajar  dari  cinta kasih Abaraham dan Sara, sekaligus merenungkan begitu banyak cinta kasih yang telah kita peroleh dari orang tua kita yang telah melahirkan, membesarkan dan memelihara kita semua dengan cinta kasih dan pengorbanan yang tidak sedikit. Walaupun mereka telah tua, lamban, sakit-sakitan, pikun, tidak ganteng dan cantik lagi seperti 30 atau 40 tahun yang lalu, tetapi karena mereka, kita ada seperti saat ini.

Pembaca yang budiman kalau kita membaca kisah kematian Sara, maka kita juga belajar  teladan hidup sepasang suami-istri yang telah melewati suka dan duka berumah-tangga yang sangat berat.

Kalau kita mengikuti ceritera-ceritera sebelumnya, mereka pernah mengalami kelaparan, dan karena itu mereka berdua pergi ke Mesir dan di sana Abaraham dengan sedikit menipu supaya dia tidak dibunuh karena mengingini istrinya yang cantik, ia memperkenalkan Sara kepada Firaun sebagai saudaranya, tetapi Tuhan menegur Abraham.

Meskipun Abraham diberkati dengan harta yang banyak, tetapi tantangan yang paling berat dalam rumah tangga mereka, yaitu ketika mereka harus menunggu kehadiran Ishak dalam iman.

Karena tidak sabar menanti jawaban Tuhan Allah, maka Hagar dan Ismail hadir  dalam  rumah tangga mereka.

Kehadiran Hagar dan Ismail yang merupakan usulan Sara sendiri tentu di luar rencana  Tuhan Allah ((Kejadian 16:1 dst), oleh karena itu hubungan diantara mereka berakhir dengan pengusiran Hagar dan Ismail atas permintaan Sara juga. Ishak akhirnya hadir sebagai jawaban atas janji Tuhan bagi mereka (Kejadian pasal 12:1 dst, 17:1 dst).

--

Dari gambaran singkat ini, kita dapat belajar bagaimana Abaraham dan sara melewati berbagai  pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan mereka, tetapi satu hal yang perlu kita teladani, ialah mereka tetap memelihara cinta kasih mereka, hingga akhirnya kematian memisahkan mereka.

Abraham membuktikan cintanya bukan hanya ketika Sara masih hidup, tetapi pada saat kematian Sara. Kita mencatat lagi beberapa hal dari kecintaan Abaraham kepada  Sara.

Pertama; Ketika Sara mati (Kejadian 23: 2, Abraham meratapi dan menangisi Sara.  Meratapi tidak sama dengan sekedar menangis, tetapi kesedihan yang sangat mendalam yang diperlihatkan dengan bernyanyi atau memukul-mukulkan diri. Kemudian Abaraham menangisi Sara.

Di Israel, seseorang yang meninggal bisa ditangisi berhari-hari oleh keluarga duka, bahkan berbulan-bulan sebelum dikuburkan. Misalnya Musa ditangisi selama 30 hari, Yakub lebih lama lagi, 70 hari.

Kita tidak diberitahukan, berapa lama Abaraham menangisi Sara, tetapi itu dilakukan sebagai tanda cintanya yang mendalam kepada Sara istrinya. Ini bukan sekedar menangis (tutup muka dengan jari yang dilebarkan sambil liat-liat yang baru, hehehe), tetapi itu dilakukan sungguh-sungguh oleh Abraham.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved