Ini Pengalaman Kades Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, Lembata saat di Malaysia

Kepala Desa Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Ismail Unu, rupanya memiliki pengalaman merantau di Malaysia. Di negara itu, ia bekerja se

Ini Pengalaman Kades Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, Lembata saat di Malaysia
Pos Kupang.com/Frans Krowin
Ismail Unu 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Kepala Desa Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Ismail Unu, rupanya memiliki pengalaman merantau di Malaysia. Di negara itu, ia bekerja sebagai tukang listrik pada proyek pengembangan perumahan.

"Dulu saya juga pernah merantau ke Malaysia. Saya merantau setelah tamat dari STM Negeri Ende tahun 1994. Awalnya saya kerja serabutan, tapi saat ada pekerjaan pemasangan instalasi listrik pada proyek pembangunan perumahan, saya akhirnya mendapat pekerjaan jadi instalatur listrik," ujar Ismail, ketika ditemui Pos Kupang.Com di kediamannya, Jumat (22/3/2019).

Ia menuturkan, setelah tamat dari STM Negeri di Ende, ia pulang kampung. setelah berada di Lembata, ia lantas mengajukan surat lamaran ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Ia ingin sekali bekerja dan mengaplikasikan ilmunya pada perusahaan milik negara tersebut.

Akan tetapi, katanya, setelah menunggu enam bulan lamanya, tak ada kabar sama sekali dari PLN. Saat itulah dirinya langsung membanting stir dengan mengikuti keluarganya untuk merantau ke negeri tetangga tersebut. Saat itu mereka ke Malaysia melalui Pelabuhan Maumere, Kabupaten Sikka.

Jose Mourinho Pastikan Kembali Melatih Ini Inter Milan Juni 2019

Dari Maumere, mereka menggunakan kapal pelni menuju Makassar. Dari Makassar, mereka menuju Pare-Pare - Nonokan - Tawao - Kningau - Manumbuk lalu menyeberang ke Labuan, salah satu pulau di Malaysia. Untuk tiba di Labuan, ia mengusur paspor di Nunukan. Habya saja, paspor yang diterbitkan Kantor Imigrasi itu adalah visa lawatan (turis) sehingga batas waktunya sangat singkat.

Awalnya, lanjut dia, saat visa masih berlaku, ia aman. Sejumlah pekerjaan dilakukan dengan baik. Awalnya bekerja serabutan tapi akhirnya ia mendapatkan pekerjaan sebagai instalatur yang oleh orang melayu disebut sebagai tukang listrik. Saat menekuni pekerjaan tersebut, ia bersama temannya, Petrus Kopong, mendapatkan ringgit yang cukup banyak. Apalagi jika ada pekerjaan lembur. Uangnya lebih banyak lagi.

Saat itu, katanya, ia punya tekad mengumpulkan uang untuk menyekolahkan adiknya yang saat itu masih duduk di bangku SMA Negeri 1 Lewoleba. Olehnya, setiap bulan dirinya selalu mengirimkan uang kepada orang tuanya untuk biaya pendidikan adiknya tersebut.

Akan tetapi tekadnya itu berakhir pahit. Sebab, adik bungsunya itu meninggalkan bangku pendidikan tahun 1998 lantaran kemungkinan salah bergaul. Sejak itulah ia memilih pulang. Saat pulang itu dirinya telah menghabiskan waktu selama 4 tahun di Malaysia.

"Saat pulang itu saya lalu menikah dan tidak pulang lagi ke Malaysia. Selama di Desa Tagawiti, saya diminta menjadi Kaur Pemerintahan setelah itu dipercayakan menjadi Sekretaris Desa Tagawiti. Pada masa jabatan sebagai Sekretaris Desa itulah ada aturan yang mengangkat sekretaris desa menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan saya beruntung atas hal itu," ungkap Ismail.

Saat mengemban jabatan itu, katanya, dirinya kemudian diminta untuk menjadi kepala desa di Tagawiti. Dan, setelah melewati momentum pemilihan kepala desa, saya terpilih menjadi kepala desa. Saat ini, saya juga masih menjabat sebagai kepala desa untuk periode kedua.

"Sebagai kepala desa, saya punya perhatian total untuk masyarakat dan desa ini. Saya ingin masyarakat maju seiring kemajuan yang sedang terjadi di desa ini," ujar Ismail. (*)

Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved