264 Balita di Sumba Timur Gizi Buruk

Sebanyak 264 orang anak bawa lima tahun (Balita) di Kabupaten Sumba Timur menderita gizi buruk.

264 Balita di Sumba Timur Gizi Buruk
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Kadis Kesehatan Sumba Timur, Dr. Chrisnawan Try Haryantana. 

264 Balita di Kabupaten Sumba Timur Alami Gizi Buruk

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG. COM | WAINGAPU- Sebanyak 264 orang anak bawa lima tahun (Balita) di Kabupaten Sumba Timur menderita gizi buruk.

Kepala dinas Kesehatan Sumba Timur Dr. Chrisnawan Try Haryantana kepada POS-KUPANG. COM di ruang kerjanya, Rabu (20/3/2019) mengatakan, terkait penanganan pasien penderita gizi buruk ini, dinas Kesehatan Sumba Timur bekerja sama dengan pihak Rumah Sakit dan Puskesmas dengan menerima laporannya. Selain itu, juga dengan kegiatan yang sifatnya merehabilitasi kondisi pasien.

"Jadi kalau gizi buruk itu sudah mengalami komplikasi dengan penyakit apapun, harus diatasi dulu penyakitnya. Karena tanpa mengatasi penyakitnya maka pasti tidak akan pulih gizi buruknya,"jelas Chrisnawan.

Selain itu kata Chrisnawan dalam penanggulangan gizi buruk ini juga Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan juga dengan program pemberikan makanan tambahan (PMT).

Banyak Bangunan di Rana Loba, Kabupaten Manggarai Timur Tidak Memilikki IMB

Begini Reaksi Risma Melihat Baju Siswa SD di Surabaya Sobek

"Tapi pada prinsipnya di Kesehatan itu ibarat bermain bola kaki sebagai penjaga gawang. Sebenarnya dalam menangani kasus gizi buruk ini semua pihak harus terlibat dari hulu sampai hilir,"ungkap Chrisnawan.

Menurut Chrisnawan gizi buruk terjadi karena pertama kurang asupan makanan bergizi atau masalah pola komsumsi dan pola lain sebagainya seperti kemiskinan atau ketersediah bahan pangan sangat terbatas.

"Tentunya untuk penangan kasus Gizi buruk ini Dinas Kemakmuran yang terkait tanaman pangan dan juga dinas Pendidikan harus juga terlibat aktif terkait pola makanan,"imbuh Chrisnawan.

Menurut Chrisnawan, Sumba Timur dikatakan minus terkait ketersediaan bahan pangan tidak mungkin, karena sebenarnya banyak sekali pangan yang bisa digunakan dengan menggunakan kearifan lokal yang ada misalnya makan-makanan yang sifatnya khas lokal.

Halaman
12
Penulis: Robert Ropo
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved