Opini Pos Kupang

Memilih sebagai Hak

Penelitian LSI, menunjukan sekitar 30 % masyarakat akan golput. Dari catatan LSI sekitar sekitar 10 % golput karena alasan yang sifatnya politis

Memilih sebagai Hak
Net
Ilustrasi 

Memilih sebagai Hak
Oleh : Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang

Presiden Jokowi mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilih. Ajakan itu
merupakan bagian dari tanggung jawab negara untuk mensukseskan Pemilihan Umum 17 April mendatang.

Betapa tidak, banyak pihak memprediksi angka golongan putih (golput) alias tidak
memilih di Pemilu 17 April 2019 meningkat.

Penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI), menunjukan sekitar 30 % masyarakat akan golput. Dari catatan LSI sekitar sekitar 10 % golput karena alasan yang sifatnya politis dan ideologis.

Sedangkan, sisanya yakni sekitar 20 % karena alasan teknis dan administratif (Sindonews, 23 Februari 2019).

Sebelumnya, pada pemilu legislatif, angka golput mengalami penurunan dari 29 % di
pemilu 2009 menjadi 24 % di pemilu 2014.

Sebaliknya, pada pemilu presiden, angka golput justeru semakin meningkat. Merujuk data Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), media ini menulis, tahun 2009 angka golput sebesar 27 %, pada pemilu tahun 2014, angka golput meningkat menjadi 31 %.

Angka golput di Pemilu Presiden 2004 putaran pertama sekitar 31 juta atau 20%, sedangkan pada putaran kedua 33 juta atau 22% dari total suara pemilih.

Menarik bahwa kali ini, pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan secara
bersamaan dengan pemilu legislatif. Realitas itu jelas memberi dua dampak sekaligus.

Pertama, partisipasi masyarakat dalam pemilu presiden dan legislatif bisa saja naik.

Halaman
1234
Editor: Ferry Jahang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved